TALI KASIH OCIT DAN ANGGA
CHAPTER 1:
CHAPTER 1:
OCIT DAN ANGGA
Buuum!
Angga yang tengah memandikan sepeda motor Tiger-nya tersentak kaget mendengar suara itu. Tanpa mencuci tangannya yang penuh busa shampo, ia berlari kencang ke kamarnya. "Ociiiit!" Terdengar lengkingan Angga dari kamarnya. Mama yang sedang membaca di ruang tamu menoleh heran. Di dalam kamar, tepatya di samping buku-buku yang berserakan, Ocit tertunduk gemetar. "Aku sudah bilang, jangan masuk ke sini!" omel Angga dengan suara menggelegar.
Ocit semakin gemetar. "So-sor-sori! Ocit nggak se-seng...." "Nggak sengaja, nggak sengaja!" potong Angga ketus. "Ngapain kamu di sini?" tanyanya galak. "Ocit cuma mau minjem...."
"Minjem, minjem!" sela Angga lagi, tidak memberi kesempatan pada Ocit. "Minjem apa nyolong?" Angga melotot. "Minjem," jawab Ocit hampir menangis. "Minjem tapi nggak bilang-bilang?! Mana berantakin kamar lagi!" "Ocit beresin, deh...." "Nggak usah!" sergah Angga tambah melotot. "Kamu keluar saja. Cepat!" usirnya seraya membuka pintu lebar-lebar.
Ocit melangkah pelan. "Tapi...." protesnya takut-takut. "Apa tapi-tapi?!" Angga memasang tampang kejam. Ocit berlari keluar dan duduk di samping Mama. Ia menyembunyikan wajahnya di belakang Mama. Angga membanting pintu kamarnya dan berjalan keluar dengan mata yang masih terus melotot pada Ocit. "Awas kalau berani masuk lagi!" ancamnya. "Angga," lerai Mama sambil mengelus rambut Ocit. "Dia yang salah, Ma. Masa kamar Angga diberantakin. Buku-buku pada jatuh semua," adu Angga. "Kan Ocit cuma mau minjem buku," bela Ocit. "Minjem apa nyolong?! Nggak minta izin dulu!" Angga mendekati Ocit yang segera bersembunyi kembali di belakang Mama. Ocit seperti tikus yang hanya menongolkan sedikit kepalanya untuk menengok.
"Awas kamu kalau berani masuk lagi!" Angga mengacungkan telunjuknya yang tertutup busa pada Ocit yang cemberut. "Angga!" tegur Mama. Angga mencibir. "Dasar anak manja!"
Angga yang tengah memandikan sepeda motor Tiger-nya tersentak kaget mendengar suara itu. Tanpa mencuci tangannya yang penuh busa shampo, ia berlari kencang ke kamarnya. "Ociiiit!" Terdengar lengkingan Angga dari kamarnya. Mama yang sedang membaca di ruang tamu menoleh heran. Di dalam kamar, tepatya di samping buku-buku yang berserakan, Ocit tertunduk gemetar. "Aku sudah bilang, jangan masuk ke sini!" omel Angga dengan suara menggelegar.
Ocit semakin gemetar. "So-sor-sori! Ocit nggak se-seng...." "Nggak sengaja, nggak sengaja!" potong Angga ketus. "Ngapain kamu di sini?" tanyanya galak. "Ocit cuma mau minjem...."
"Minjem, minjem!" sela Angga lagi, tidak memberi kesempatan pada Ocit. "Minjem apa nyolong?" Angga melotot. "Minjem," jawab Ocit hampir menangis. "Minjem tapi nggak bilang-bilang?! Mana berantakin kamar lagi!" "Ocit beresin, deh...." "Nggak usah!" sergah Angga tambah melotot. "Kamu keluar saja. Cepat!" usirnya seraya membuka pintu lebar-lebar.
Ocit melangkah pelan. "Tapi...." protesnya takut-takut. "Apa tapi-tapi?!" Angga memasang tampang kejam. Ocit berlari keluar dan duduk di samping Mama. Ia menyembunyikan wajahnya di belakang Mama. Angga membanting pintu kamarnya dan berjalan keluar dengan mata yang masih terus melotot pada Ocit. "Awas kalau berani masuk lagi!" ancamnya. "Angga," lerai Mama sambil mengelus rambut Ocit. "Dia yang salah, Ma. Masa kamar Angga diberantakin. Buku-buku pada jatuh semua," adu Angga. "Kan Ocit cuma mau minjem buku," bela Ocit. "Minjem apa nyolong?! Nggak minta izin dulu!" Angga mendekati Ocit yang segera bersembunyi kembali di belakang Mama. Ocit seperti tikus yang hanya menongolkan sedikit kepalanya untuk menengok.
"Awas kamu kalau berani masuk lagi!" Angga mengacungkan telunjuknya yang tertutup busa pada Ocit yang cemberut. "Angga!" tegur Mama. Angga mencibir. "Dasar anak manja!"
CHAPTER 2:
MASAK SENDIRI
MASAK SENDIRI
"Ociiiit!" teriak Angga yang baru pulang. Ia meneguk segelas air es. Tapi Ocit tidak muncul.
Angga membuka pintu kamar Ocit. Cewek SMA kelas satu itu sedang asyik mendengarkan lagu lewat ipod. "Hoooooi!" teriak Angga kencang membuat Ocit terloncat dengan wajah shock. Angga terkekeh. "Mama mana?" tanyanya tanpa merasa berdosa. "Pergi!" jawab Ocit ketus.
"Lunch-nya kok nggak ada?" "Mama nitip duit, beli sendiri katanya." "Masak sendiri, ah!" kata Angga seambil berjalan keluar. Ocit mengekorinya. "Mau masak apa, Ga?" Angga membuka kulkas, menengok apa yang bisa dimakannya. "Telur," jawabnya sambil mengeluarkan sebutir telur. Kemudian ia menyiapkan penggorengan dan menyalakan kompor. Dengan bersiul-siul kecil ia mulai memasak. Ia memang jago masak. Telur yang telah dimasak ditaruhnya di piring lalu dipotong-potongnya menjadi kecil. Ia lalu mengambil tomat, bawang merah, cabe dan entah apa lagi lalu ia mulai memotong-motong semua itu. "Katanya masak telur, kok pakai tomat?" tanya Ocit yang sedari tadi berada di sampingnya, heran. "Telur kuah ala Angga," jawab Angga seenaknya. Ia lalu mencampurkan semua itu dengan menambahkan bumbu-bumbu dapur Mama. Kemudian ia memasak lagi dengan memasukkan telur yang tadi, air dan entah apa lagi.
Ocit bingung. Tercium bau harum yang membuat perut Ocit berteriak-teriak. Ocit menelan ludah. "Kayaknya enak ya, Ga?" "Oh, so pasti itu. Angga!" balas Angga sombong. "Masakin Ocit juga, dong!" pinta Ocit. "Masak sendiri! Cewek nggak bisa masak, payah," omel Angga.
Ocit cemberut. "Ayo dong, Ga," bujuknya memelas. Angga mencibir. "Nggak!" Ocit berjalan pergi dengan wajah kesal bercampur sedih. Angga melirik. Merasa kasihan juga. "Nih!" teriaknya keras. "Buat kamu. Awas kalau nggak dihabisin." "Makasih ya, Ga," ucap Ocit sambil mengambil piring. Angga memasang wajah galak, pura-pura tidak mendengar. Tapi sesekali diliriknya Ocit yang makan dengan lahap. Ada senyum di bibirnya
Angga membuka pintu kamar Ocit. Cewek SMA kelas satu itu sedang asyik mendengarkan lagu lewat ipod. "Hoooooi!" teriak Angga kencang membuat Ocit terloncat dengan wajah shock. Angga terkekeh. "Mama mana?" tanyanya tanpa merasa berdosa. "Pergi!" jawab Ocit ketus.
"Lunch-nya kok nggak ada?" "Mama nitip duit, beli sendiri katanya." "Masak sendiri, ah!" kata Angga seambil berjalan keluar. Ocit mengekorinya. "Mau masak apa, Ga?" Angga membuka kulkas, menengok apa yang bisa dimakannya. "Telur," jawabnya sambil mengeluarkan sebutir telur. Kemudian ia menyiapkan penggorengan dan menyalakan kompor. Dengan bersiul-siul kecil ia mulai memasak. Ia memang jago masak. Telur yang telah dimasak ditaruhnya di piring lalu dipotong-potongnya menjadi kecil. Ia lalu mengambil tomat, bawang merah, cabe dan entah apa lagi lalu ia mulai memotong-motong semua itu. "Katanya masak telur, kok pakai tomat?" tanya Ocit yang sedari tadi berada di sampingnya, heran. "Telur kuah ala Angga," jawab Angga seenaknya. Ia lalu mencampurkan semua itu dengan menambahkan bumbu-bumbu dapur Mama. Kemudian ia memasak lagi dengan memasukkan telur yang tadi, air dan entah apa lagi.
Ocit bingung. Tercium bau harum yang membuat perut Ocit berteriak-teriak. Ocit menelan ludah. "Kayaknya enak ya, Ga?" "Oh, so pasti itu. Angga!" balas Angga sombong. "Masakin Ocit juga, dong!" pinta Ocit. "Masak sendiri! Cewek nggak bisa masak, payah," omel Angga.
Ocit cemberut. "Ayo dong, Ga," bujuknya memelas. Angga mencibir. "Nggak!" Ocit berjalan pergi dengan wajah kesal bercampur sedih. Angga melirik. Merasa kasihan juga. "Nih!" teriaknya keras. "Buat kamu. Awas kalau nggak dihabisin." "Makasih ya, Ga," ucap Ocit sambil mengambil piring. Angga memasang wajah galak, pura-pura tidak mendengar. Tapi sesekali diliriknya Ocit yang makan dengan lahap. Ada senyum di bibirnya
CHAPTER 3:
OCIT MENANGIS
OCIT MENANGIS
Angga menguap, diliriknya jam kamarnya. Jam tujuh lewat. Ia keluar. Eh, kok masih sepi sih? Sayup-sayup terdengar suara Metalica dari kamar Ocit. Baru saja Angga akan membuka kamar Ocit ketika telinganya menangkap isakan kecil. Eh! Kok Metalica menangis, sih? Versi baru, ya? Ia berpikir sejenak. Atau... Angga menempelkan daun telinganya ke pintu. Benar! Si Ocit yang menangis. Angga duduk di depan pintu kamar Ocit, sibuk berpikir apa yang membuat si Bontot itu menangis. Gara-gara Mama pergi tidak ngajak Si Ocit? Angga menggeleng. Ocit kan sudah gede, nggak suka ngekor lagi. Gara-gara dia suka ngeledekin Ocit? Angga kembali menggeleng. Perasaan selama ini ledekannya masih wajar-wajar saja. Atau.... Mata Angga membulat. Pasti gara-gara cowok! Si Ocit mungkin lagi jatuh cinta tapi nggak kesampaian. Atau mungkin ada cowok yang nyakitin Ocit, ya? Angga menggeram. Ia lalu mengendap-endap mendekati telepon di ruang tamu yang persis berada di samping kamar Ocit. Dipencetnya beberapa nomor.
"Halo," ucapnya berbisik. "Halo," terdengar nada heran di ujung. "Dini, ya?" Angga masih berbisik. "Iya. Ini siapa, sih?" "Angga," bisik Angga lagi sambil melirik deg-degan ke pintu kamar Ocit. "Siapa?" "Angga," ulang Angga berbisik serak. "Angga yang mana?" "Angganya Ocit! Eh, Si Ocit kenapa, sih?" "Kenapa bagaimana?" tanya Dini bingung. "Kok dia nangis?" Angga kembali melirik kamar Ocit. Mudah-mudahan Ocit nangis terus dan nggak keluar! doanya dalam hati.
Dini terdiam di seberang. "Aku tanya Si Ocit kenapa?" ulang Angga mulai tak sabar.
"Ng...." Angga mendesis jengkel. "Mau ngomong nggak, sih?" "Entar Si Ocit marah kalau...."
"Aku nggak bakal kasih tahu, deh!" sela Angga cepat. "Bener?" Angga mengangkat dua jarinya. "Eh! Bener! Bener!" ucapnya cepat, sadar kalau Dini tidak bisa melihatnya. "Roy ngecewain Ocit." "Apa?!" Angga berteriak marah. Ia mendekap mulutnya, kaget dengan suaranya sendiri. Matanya melirik curiga ke pintu kamar Ocit. Pintu itu tidak terbuka. Angga menghembuskan napas lega. "Halo? Kamu masih ada?" "Iya, iya! Si Roy tadi kenapa?" Angga kembali berbisik.
"Si Roy ngomong kalau dia tuh jatuh cinta sama Vera, padahal dia tahu kalau Ocit tuh suka kama di...." "Kurang ajar!" desis Angga marah. "Eh, tapi...?" "Roy itu kelas berapa?" sela Angga.
"Kelas satu empat. Mau ngapain, Ga?" tanya Dini khawatir. "Nggak kok!" Angga mengubah suaranya menjadi manis. "Cuma pengen tahu saja," bohongnya. "Sudah ya, dan makasih buat infonya," lanjutnya lagi mengakhiri. "Eh, tapi bener lho, nggak bilang ke Ocit?" "Bener! Bye-bye, Dini Manis!" Angga mengepalkan tangannya. Senyumnya menghilang. "Awas kamu!" geramnya dengan wajah sangar.
"Halo," ucapnya berbisik. "Halo," terdengar nada heran di ujung. "Dini, ya?" Angga masih berbisik. "Iya. Ini siapa, sih?" "Angga," bisik Angga lagi sambil melirik deg-degan ke pintu kamar Ocit. "Siapa?" "Angga," ulang Angga berbisik serak. "Angga yang mana?" "Angganya Ocit! Eh, Si Ocit kenapa, sih?" "Kenapa bagaimana?" tanya Dini bingung. "Kok dia nangis?" Angga kembali melirik kamar Ocit. Mudah-mudahan Ocit nangis terus dan nggak keluar! doanya dalam hati.
Dini terdiam di seberang. "Aku tanya Si Ocit kenapa?" ulang Angga mulai tak sabar.
"Ng...." Angga mendesis jengkel. "Mau ngomong nggak, sih?" "Entar Si Ocit marah kalau...."
"Aku nggak bakal kasih tahu, deh!" sela Angga cepat. "Bener?" Angga mengangkat dua jarinya. "Eh! Bener! Bener!" ucapnya cepat, sadar kalau Dini tidak bisa melihatnya. "Roy ngecewain Ocit." "Apa?!" Angga berteriak marah. Ia mendekap mulutnya, kaget dengan suaranya sendiri. Matanya melirik curiga ke pintu kamar Ocit. Pintu itu tidak terbuka. Angga menghembuskan napas lega. "Halo? Kamu masih ada?" "Iya, iya! Si Roy tadi kenapa?" Angga kembali berbisik.
"Si Roy ngomong kalau dia tuh jatuh cinta sama Vera, padahal dia tahu kalau Ocit tuh suka kama di...." "Kurang ajar!" desis Angga marah. "Eh, tapi...?" "Roy itu kelas berapa?" sela Angga.
"Kelas satu empat. Mau ngapain, Ga?" tanya Dini khawatir. "Nggak kok!" Angga mengubah suaranya menjadi manis. "Cuma pengen tahu saja," bohongnya. "Sudah ya, dan makasih buat infonya," lanjutnya lagi mengakhiri. "Eh, tapi bener lho, nggak bilang ke Ocit?" "Bener! Bye-bye, Dini Manis!" Angga mengepalkan tangannya. Senyumnya menghilang. "Awas kamu!" geramnya dengan wajah sangar.
CHAPTER 4:
MENDATANGI ROY
MENDATANGI ROY
Roy memaksakan sebuah senyuman "Maaf ya, Cit! A-aku... salah, nggak seharusnya aku nya-nyakitin kamu," ucapnya tersendat-sendat. "Maafin aku, ya?" pinta Roy dengan wajah memelas.
Ocit dan Dini bengong melihat wajah Roy yang babak belur. Tapi Ocit mengangguk juga walau tak mengerti. Roy tersenyum lagi, tapi seperti meringis. Kemudian ia berlalu dengan tergesa-gesa. "Eh," Dini menyikut Ocit. "Si Roy kenapa ya, pakai minta maaf segala? Mukanya lagi, kok ancur begitu?" Ocit ikut-ikutan mengerutkan keningnya. "Jangan-jangan...," kata Dini terputus, teringat sesuatu. Ocit menoleh. "Jangan-jangan apa?" "Angga, dia...?" Dini membali terdiam.
"Angga?" Ocit semakin bingung. "Angga kenapa?" desaknya. Dini menelan ludah. Menyumpahi Angga dalam hati. "Kemarin, dia nelepon aku, tanya kok kamu nangis. Trus aku...," Dini tidak melanjutkan. Ia menatap Ocit takut-takut. "Maafin aku, soalnya Angga bilang cuma pengen tahu, jadi...." Ocit tersandar lemas. Jadi Angga yang nonjok Roy sampai babak belur begitu?
Ada rasa bersalah dan haru yang menyergap Ocit.Cowok jangkung yang sebentar lagi jadi mahasiswa itu lagi asyik ribut dengan gitarnya. Ocit masuk, memperhatikannya tanpa suara.
Angga menoleh. "Apa?" tanyanya sambil kembali ribut. Mulutnya mengeluarkan bunyi yang aneh. "Makasih ya, Ga," ucap Ocit pelan. "Memang aku ngasih kamu duit?" "Karena memperhatikan Ocit. Tapi lain kali jangan sampai mukul begitu." Angga menoleh, menghentikan nyayian kacaunya. "Mukul siapa?" tanyanya dengan kening berkerut, berlagak heran.
"Kasihan lho Roy, dia sampai ketakutan begitu," lanjut Ocit. "Roy? Roy yang mana?" Angga pura-pura bingung. "Kamu ngomong apa, sih?" suaranya teredengar kesal. "Biar kamu nggak mau ngaku, tapi Ocit tahu kok kamu yang mukul Roy," kata Ocit yakin. "Makasih ya, sudah mengkhawatirkan Ocit. Tapi, sebenarnya Ocit nggak apa-apa kok!" lanjut Ocit tersenyum manis. Kemudian ia keluar. Angga terkekeh. "Hihihi, ternyata Si Roy benar-benar pergi minta maaf," gumamnya senang sambil menyanyi lagi. Nyanyian aneh!
Ocit dan Dini bengong melihat wajah Roy yang babak belur. Tapi Ocit mengangguk juga walau tak mengerti. Roy tersenyum lagi, tapi seperti meringis. Kemudian ia berlalu dengan tergesa-gesa. "Eh," Dini menyikut Ocit. "Si Roy kenapa ya, pakai minta maaf segala? Mukanya lagi, kok ancur begitu?" Ocit ikut-ikutan mengerutkan keningnya. "Jangan-jangan...," kata Dini terputus, teringat sesuatu. Ocit menoleh. "Jangan-jangan apa?" "Angga, dia...?" Dini membali terdiam.
"Angga?" Ocit semakin bingung. "Angga kenapa?" desaknya. Dini menelan ludah. Menyumpahi Angga dalam hati. "Kemarin, dia nelepon aku, tanya kok kamu nangis. Trus aku...," Dini tidak melanjutkan. Ia menatap Ocit takut-takut. "Maafin aku, soalnya Angga bilang cuma pengen tahu, jadi...." Ocit tersandar lemas. Jadi Angga yang nonjok Roy sampai babak belur begitu?
Ada rasa bersalah dan haru yang menyergap Ocit.Cowok jangkung yang sebentar lagi jadi mahasiswa itu lagi asyik ribut dengan gitarnya. Ocit masuk, memperhatikannya tanpa suara.
Angga menoleh. "Apa?" tanyanya sambil kembali ribut. Mulutnya mengeluarkan bunyi yang aneh. "Makasih ya, Ga," ucap Ocit pelan. "Memang aku ngasih kamu duit?" "Karena memperhatikan Ocit. Tapi lain kali jangan sampai mukul begitu." Angga menoleh, menghentikan nyayian kacaunya. "Mukul siapa?" tanyanya dengan kening berkerut, berlagak heran.
"Kasihan lho Roy, dia sampai ketakutan begitu," lanjut Ocit. "Roy? Roy yang mana?" Angga pura-pura bingung. "Kamu ngomong apa, sih?" suaranya teredengar kesal. "Biar kamu nggak mau ngaku, tapi Ocit tahu kok kamu yang mukul Roy," kata Ocit yakin. "Makasih ya, sudah mengkhawatirkan Ocit. Tapi, sebenarnya Ocit nggak apa-apa kok!" lanjut Ocit tersenyum manis. Kemudian ia keluar. Angga terkekeh. "Hihihi, ternyata Si Roy benar-benar pergi minta maaf," gumamnya senang sambil menyanyi lagi. Nyanyian aneh!
CHAPTER 5:
MENUNGGU OCIT PULANG
MENUNGGU OCIT PULANG
Ocit ke mana sih, Ma?" tanya Angga tampak kesal. "PMR," jawab Mama acuh tak acuh.
Angga mondar-mandir di ruang tamu. Uring-uringan sendiri. "Ocit ke mana, sih?" gumamnya jengkel sambil melirik jam. Papa yang tengah nonton tivi menoleh. Mama juga. "Kenapa?" tanya Mama heran. "Janjian dengan Ocit?" "Gengsi!" Angga mencibir. Tapi ia masih juga gelisah. Ia lalu membuka pintu. "Angga ke toko dulu, ya?" Lima belas menit berlalu. Mama melirik jam, mulai merasa resah. "Ocit ke mana, ya?" Papa ikut melirik jam. "Macet barangkali," katanya menenangkan. "Kita tunggu di luar saja, yuk?" ajaknya pada Mama. Mereka keluar bersama-sama. "Nunggu di depan lorong saja ya, Pa," ajak Mama tak sabar. Papa mengangguk, menjejeri langkah Mama. Tapi langkah Mama terhenti melihat seseorang yang berdiri gelisah di ujung jalan. "Angga!" Angga tersentak kaget dengan mata melotot. "Ngapain kamu di sini? Katanya mau ke toko?" "I-iya, baru dari toko," bohongnya salah tingkah. Mama menatapnya dengan senyum tertahan. "Nungguin Ocit, ya?" "Ah! Nggak kok!" sangkal Angga cepat. Papa ikut tersenyum. "Ya, sudah. Kamu saja yang nungguin Ocit," katanya seraya menggandeng Mama pulang. Sepuluh menit kemudian Ocit membuka pintu dengan wajah cemberut. Tak lama Angga ikut masuk. "Kok terlambat, Cit?" tanya Mama. "Latihannya dipanjangin!" jawab Ocit ketus. Diliriknya Angga dengan mulut yang maju beberapa senti. "Norak, ih! Pakai nunggu di depan malu-maluin saja! Teman-teman Ocit pada ketawa!" Angga menjulurkan lidah. "Siapa yang nunggu kamu?" balasnya tak mau mengaku sambil ngeloyor masuk kamar. Mama tersenyum geli. Papa juga.
Angga mondar-mandir di ruang tamu. Uring-uringan sendiri. "Ocit ke mana, sih?" gumamnya jengkel sambil melirik jam. Papa yang tengah nonton tivi menoleh. Mama juga. "Kenapa?" tanya Mama heran. "Janjian dengan Ocit?" "Gengsi!" Angga mencibir. Tapi ia masih juga gelisah. Ia lalu membuka pintu. "Angga ke toko dulu, ya?" Lima belas menit berlalu. Mama melirik jam, mulai merasa resah. "Ocit ke mana, ya?" Papa ikut melirik jam. "Macet barangkali," katanya menenangkan. "Kita tunggu di luar saja, yuk?" ajaknya pada Mama. Mereka keluar bersama-sama. "Nunggu di depan lorong saja ya, Pa," ajak Mama tak sabar. Papa mengangguk, menjejeri langkah Mama. Tapi langkah Mama terhenti melihat seseorang yang berdiri gelisah di ujung jalan. "Angga!" Angga tersentak kaget dengan mata melotot. "Ngapain kamu di sini? Katanya mau ke toko?" "I-iya, baru dari toko," bohongnya salah tingkah. Mama menatapnya dengan senyum tertahan. "Nungguin Ocit, ya?" "Ah! Nggak kok!" sangkal Angga cepat. Papa ikut tersenyum. "Ya, sudah. Kamu saja yang nungguin Ocit," katanya seraya menggandeng Mama pulang. Sepuluh menit kemudian Ocit membuka pintu dengan wajah cemberut. Tak lama Angga ikut masuk. "Kok terlambat, Cit?" tanya Mama. "Latihannya dipanjangin!" jawab Ocit ketus. Diliriknya Angga dengan mulut yang maju beberapa senti. "Norak, ih! Pakai nunggu di depan malu-maluin saja! Teman-teman Ocit pada ketawa!" Angga menjulurkan lidah. "Siapa yang nunggu kamu?" balasnya tak mau mengaku sambil ngeloyor masuk kamar. Mama tersenyum geli. Papa juga.
CHAPTER 6:
OCIT TIDAK BOLEH PERGI
OCIT TIDAK BOLEH PERGI
Angga melongo heran melihat Ocit memeluk buku segede bantal itu ke kamarnya.
"Ma," ia mendatangi Mama yang sedang sibuk memasak, "Si Ocit bawa apaan, tuh?" "Kamus bahasa Jerman," jawab Mama sambil terus memasak. "Kamus? Mau ngapain? Memangnya Ocit mau jadi guide, ya?" "Bukan," Mama membuka panci, "Ocit ikut pertukaran pelajar."
"Hah! Pertukaran pelajar?" ulang Angga tak percaya. Mama mengangguk, berjalan ke belakang. Angga mengekor dengan penasaran. "Kok Angga nggak dikasih tahu, sih?" protesnya.
Mama tertawa kecil. "Ocit sudah bilang sama Papa dan Mama." Angga cemberut. "Kok Si Ocit ikut yang begituan, sih?" Kening Mama berkerut, tapi tangannya terus bekerja. "Ocit diminta sekolah untuk ikut. Adikmu itu kan, pintar." "Mama izinin?" kejar Angga terus mengekor.
Mama mengangguk. "Nggak bisa," protes Angga lagi. "Angga nggak ikut-ikutan yang begituan, masa Ocit ikut?" "Lho, Mama kan nggak ngelarang kamu ikut, Ga," balas Mama.
"Tapi Ocit kan cewek, entar di sana ada apa-apa, kan gawat," alasannya. "Nggak boleh!" tegasnya seakan ia yang memutuskan. Mama meliriknya heran. "Kamu ini?" Angga mencibir. "Sori! Angga nggak minat ikut begituan." Mama menggeleng tidak mengerti. Angga duduk di kursi. "Angga kan, sudah bilang, Ocit itu cewek, masih kecil dan polos. Entar ada yang mainin kan...." Angga memilin-milin serbet di meja, tidak menyelesaikan kalimatnya. Mama duduk di samping Angga sambil tersenyum lembut. "Jangan diizinin ya, Ma?" pinta Angga memelas.
"Ocit itu belajar keras beberapa minggu ini, ingin bisa pergi. Masa Mama tega. Lagipula, ini kesempatan baik untuk masa de...." "Ocit juga punya masa depan di sini," potong Angga cepat.
Mama menghela napas. "Beda, Ga. Soal kekhawatiran kamu tentang Ocit, Mama yakin Ocit bisa menjaga diri. Lagipula, di sana Ocit punya orangtua angkat," jelas Mama panjang. Angga tambah cemberut. Mama tersenyum. "Kamu nggak mau ditinggal Ocit, ya?"
Angga diam. "Kamu ini," kata Mama geli. "Kalau Ocit ada terus digangguin. Tapi dengar Ocit mau pergi, kamu malah nggak setuju." "Pokoknya Ocit nggak boleh pergi!" kata Angga keras kepala, lalu masuk ke kamarnya dengan wajah tertekuk.
"Ma," ia mendatangi Mama yang sedang sibuk memasak, "Si Ocit bawa apaan, tuh?" "Kamus bahasa Jerman," jawab Mama sambil terus memasak. "Kamus? Mau ngapain? Memangnya Ocit mau jadi guide, ya?" "Bukan," Mama membuka panci, "Ocit ikut pertukaran pelajar."
"Hah! Pertukaran pelajar?" ulang Angga tak percaya. Mama mengangguk, berjalan ke belakang. Angga mengekor dengan penasaran. "Kok Angga nggak dikasih tahu, sih?" protesnya.
Mama tertawa kecil. "Ocit sudah bilang sama Papa dan Mama." Angga cemberut. "Kok Si Ocit ikut yang begituan, sih?" Kening Mama berkerut, tapi tangannya terus bekerja. "Ocit diminta sekolah untuk ikut. Adikmu itu kan, pintar." "Mama izinin?" kejar Angga terus mengekor.
Mama mengangguk. "Nggak bisa," protes Angga lagi. "Angga nggak ikut-ikutan yang begituan, masa Ocit ikut?" "Lho, Mama kan nggak ngelarang kamu ikut, Ga," balas Mama.
"Tapi Ocit kan cewek, entar di sana ada apa-apa, kan gawat," alasannya. "Nggak boleh!" tegasnya seakan ia yang memutuskan. Mama meliriknya heran. "Kamu ini?" Angga mencibir. "Sori! Angga nggak minat ikut begituan." Mama menggeleng tidak mengerti. Angga duduk di kursi. "Angga kan, sudah bilang, Ocit itu cewek, masih kecil dan polos. Entar ada yang mainin kan...." Angga memilin-milin serbet di meja, tidak menyelesaikan kalimatnya. Mama duduk di samping Angga sambil tersenyum lembut. "Jangan diizinin ya, Ma?" pinta Angga memelas.
"Ocit itu belajar keras beberapa minggu ini, ingin bisa pergi. Masa Mama tega. Lagipula, ini kesempatan baik untuk masa de...." "Ocit juga punya masa depan di sini," potong Angga cepat.
Mama menghela napas. "Beda, Ga. Soal kekhawatiran kamu tentang Ocit, Mama yakin Ocit bisa menjaga diri. Lagipula, di sana Ocit punya orangtua angkat," jelas Mama panjang. Angga tambah cemberut. Mama tersenyum. "Kamu nggak mau ditinggal Ocit, ya?"
Angga diam. "Kamu ini," kata Mama geli. "Kalau Ocit ada terus digangguin. Tapi dengar Ocit mau pergi, kamu malah nggak setuju." "Pokoknya Ocit nggak boleh pergi!" kata Angga keras kepala, lalu masuk ke kamarnya dengan wajah tertekuk.
CHAPTER 7:
JANGAN PERGI, OCIT!
JANGAN PERGI, OCIT!
Sekarang Angga berubah. Setiap pulang sekolah, dia tidak lagi ngeloyor pergi atau mendekam di kamarnya. Yang dicarinya pertama-tama adalah Ocit. Dan ia selalu bertanya, "Cit, mau Angga masakin apa?" Walaupun Mama sudah selesai masak. Atau, "Cit, mau nonton nggak? Di TO Plaza Senayan ada film bagus, lho?" Dan alhasil, Ocit akan menolak dengan rupa heran. Kok Si Angga jadi baik? Baiiiik banget! Malah, cowok kurus itu tidak pernah lagi meledeknya. Dan tiap kali Ocit mau pergi latihan, Angga nawarin buat ngantar. Padahal dulu angga selalu ngomong: "Ah, gengsi! Entar dikira pacar kamu lagi! Bikin pasaran sepi saja!" Ocit mengunci kopernya dengan wajah masih cemberut. Si Angga keterlaluan banget, sudah tahu Ocit berangkat hari ini, eh anak itu malah menghilang sejak pagi. Di Bandara Soekarno-Hatta, Ocit mencium pipi Mama dan Papa dengan mata berkaca-kaca. Mama memeluknya. "Baik-baik ya, di sana," pesannya.
Ocit menangis. Sedih bukan hanya karena akan pergi, tapi gara-gara Si Angga tidak ada saat keberangkatannya. "Angga sebel sama Ocit, ya?" tanyanya pada Mama.
Mama tersenyum. "Nggak, kok! Angga sayang sama kamu. Cuma, dia nggak setuju kamu pergi," hibur Mama, mengelus rambut Ocit. Tiba-tiba Papa menunjuk ke depan. Tampak seorang cowok kurus duduk sendirian di kursi tunggu Keberangkatan Luar Negeri, membelakangi mereka.
Senyum Ocit mengembang. "Itu kan, Angga!" Ia berlari ke sana. "Angga," panggil Ocit.
Angga mendongak kaget. "Eh...," ia tampak salah tingkah. "Kamu nungguin Ocit, ya?" tanya Ocit, ikut duduk. "Ah! Nggak!" sangkal Angga cepat. "Tadi kebetulan lewat sini, eh tiba-tiba mau singgah duduk-duduk," bohongnya konyol. Ocit jadi terharu. Ia tahu Angga berbohong. Jarak rumah ke bandara hampir dua jam, masa sih kebetulan lewat? "Kamu sudah mau pergi, ya?"
Ocit mengangguk. Hatinya ikut sedih melihat wajah murung itu. Angga menunduk, memain-mainkan kunci motornya. "Nanti Ocit suratin via email, ya?" Angga mengangguk pelan. "Jangan lupa telepon, ya?" tambahnya. "Di sana jangan keluyuran. Jangan sembarangan bergaul, milih teman yang baik. Jangan pacaran sama bule. Jangan suka nangis lagi. Jangan terlambat makan, jangan...." "Iya." Ocit mengangguk, memotong pesan Angga yang banyak. "Tapi," Angga menatap Ocit khawatir, "kalau kamu disakitin orang, siapa yang ngebela kamu? Kalau nggak ada makanan, terus kamu lapar, siapa yang masakin? Kan, kamu nggak bisa masak. Kalau kamu sakit, siapa yang...?" "Ocit pasti akan baik-baik saja," potong Ocit terharu. Ia menghambur, memeluk Angga erat. Tangisnya tumpah. "Kalau kamu sedih di sana, pulang ya, Cit?"
Ocit mengangguk sambil menyeka airmatanya. Dilepaskannya pelukannya. Kemudian diciuminya pipi Angga. "Ocit sayang kamu," katanya. Angga mengangguk. "Angga juga."
Ocit menangis. Sedih bukan hanya karena akan pergi, tapi gara-gara Si Angga tidak ada saat keberangkatannya. "Angga sebel sama Ocit, ya?" tanyanya pada Mama.
Mama tersenyum. "Nggak, kok! Angga sayang sama kamu. Cuma, dia nggak setuju kamu pergi," hibur Mama, mengelus rambut Ocit. Tiba-tiba Papa menunjuk ke depan. Tampak seorang cowok kurus duduk sendirian di kursi tunggu Keberangkatan Luar Negeri, membelakangi mereka.
Senyum Ocit mengembang. "Itu kan, Angga!" Ia berlari ke sana. "Angga," panggil Ocit.
Angga mendongak kaget. "Eh...," ia tampak salah tingkah. "Kamu nungguin Ocit, ya?" tanya Ocit, ikut duduk. "Ah! Nggak!" sangkal Angga cepat. "Tadi kebetulan lewat sini, eh tiba-tiba mau singgah duduk-duduk," bohongnya konyol. Ocit jadi terharu. Ia tahu Angga berbohong. Jarak rumah ke bandara hampir dua jam, masa sih kebetulan lewat? "Kamu sudah mau pergi, ya?"
Ocit mengangguk. Hatinya ikut sedih melihat wajah murung itu. Angga menunduk, memain-mainkan kunci motornya. "Nanti Ocit suratin via email, ya?" Angga mengangguk pelan. "Jangan lupa telepon, ya?" tambahnya. "Di sana jangan keluyuran. Jangan sembarangan bergaul, milih teman yang baik. Jangan pacaran sama bule. Jangan suka nangis lagi. Jangan terlambat makan, jangan...." "Iya." Ocit mengangguk, memotong pesan Angga yang banyak. "Tapi," Angga menatap Ocit khawatir, "kalau kamu disakitin orang, siapa yang ngebela kamu? Kalau nggak ada makanan, terus kamu lapar, siapa yang masakin? Kan, kamu nggak bisa masak. Kalau kamu sakit, siapa yang...?" "Ocit pasti akan baik-baik saja," potong Ocit terharu. Ia menghambur, memeluk Angga erat. Tangisnya tumpah. "Kalau kamu sedih di sana, pulang ya, Cit?"
Ocit mengangguk sambil menyeka airmatanya. Dilepaskannya pelukannya. Kemudian diciuminya pipi Angga. "Ocit sayang kamu," katanya. Angga mengangguk. "Angga juga."
Mereka berpelukan lagi. ©
PASTIKAN DIA JANGAN MENUNGGU
"Mas CHAPTER 1:
SI PETASAN INJAK
SI PETASAN INJAK
Ray!"
Petasan injak itu lagi!
"Lho, kok Mas Ray cuek begitu sih?" Kishi menarik kursi ke dekat Ray. "Aku kan nggak pernah dapat B. Selalu C, itu pun setelah belajar sampai jungkir balik."
"Kalau tidak bisa kimia, kenapa nekat masuk Perminyakan?"
"Kalau tidak masuk Perminyakan, tidak akan ketemu Mas Ray kan?" Kishi tersenyum manis.
Gadis ini! gerutu Ray dalam hati. Selalu saja bisa menangkis semua kata-katanya. Ray menoleh.
Menatap ke arah Kishi sekilas. Gadis itu bahkan tidak menyadari kalau kehadirannya benar-benar mengganggu konsentrasi Ray.
"Kemari cuma mau lapor hasil ujianmu?"
"Mas Ray keberatan aku datang kemari, ya?" Kishi menatap profil samping Ray. Cowok itu masih saja menatap lurus ke arah kanvasnya.
"Bisa kan menjawab pertanyaan dulu sebelum bertanya balik?" tegur Ray.
Kishi terkekeh. "Habis, Mas Ray nanyanya seperti mau ngusir."
Aku memang mau mengusirmu! geram Ray dalam hati. Setiap Kishi muncul, lukisannya pasti terbengkalai. Tidak pernah selesai. Ada-ada saja permintaan gadis itu. Minta diajari kimia. Mencari buku. Kaset. Nonton bioskop. Segalanya, bahkan sampai makan!
Dan dengan caranya sendiri, Kishi selalu berhasil membuat Ray menuruti keinginannya.
"Mas Ray sudah makan?"
"Sudah."
"Aku belum. Temani aku makan keluar, yuk."
"Aku sedang melukis," tolak Ray.
"Nanti kan bisa diteruskan lagi. Ayo dong, Mas Ray! Tidak kasihan melihatku kelaparan?"
"Kamu kan bisa makan sendiri."
"Ah, mana enak makan tanpa teman."
"Kenapa tidak makan dulu sebelum kemari?" gerutu Ray tanpa menyembunyikan rasa kesalnya.
"Aku mau traktir Mas Ray. Kan ujianku dapat B karena diajari Mas Ray."
"Aku tidak minta bayaran. Simpan saja uangmu."
"Mas Ray kok menolak niat baik orang?"
"Lukisanku belum selesai."
"Nanti bisa dilanjutkan. Kutemani, deh."
"Tidak usah," tolak Ray cepat. "Nanti malah lebih tidak selesai."
Petasan injak itu lagi!
"Lho, kok Mas Ray cuek begitu sih?" Kishi menarik kursi ke dekat Ray. "Aku kan nggak pernah dapat B. Selalu C, itu pun setelah belajar sampai jungkir balik."
"Kalau tidak bisa kimia, kenapa nekat masuk Perminyakan?"
"Kalau tidak masuk Perminyakan, tidak akan ketemu Mas Ray kan?" Kishi tersenyum manis.
Gadis ini! gerutu Ray dalam hati. Selalu saja bisa menangkis semua kata-katanya. Ray menoleh.
Menatap ke arah Kishi sekilas. Gadis itu bahkan tidak menyadari kalau kehadirannya benar-benar mengganggu konsentrasi Ray.
"Kemari cuma mau lapor hasil ujianmu?"
"Mas Ray keberatan aku datang kemari, ya?" Kishi menatap profil samping Ray. Cowok itu masih saja menatap lurus ke arah kanvasnya.
"Bisa kan menjawab pertanyaan dulu sebelum bertanya balik?" tegur Ray.
Kishi terkekeh. "Habis, Mas Ray nanyanya seperti mau ngusir."
Aku memang mau mengusirmu! geram Ray dalam hati. Setiap Kishi muncul, lukisannya pasti terbengkalai. Tidak pernah selesai. Ada-ada saja permintaan gadis itu. Minta diajari kimia. Mencari buku. Kaset. Nonton bioskop. Segalanya, bahkan sampai makan!
Dan dengan caranya sendiri, Kishi selalu berhasil membuat Ray menuruti keinginannya.
"Mas Ray sudah makan?"
"Sudah."
"Aku belum. Temani aku makan keluar, yuk."
"Aku sedang melukis," tolak Ray.
"Nanti kan bisa diteruskan lagi. Ayo dong, Mas Ray! Tidak kasihan melihatku kelaparan?"
"Kamu kan bisa makan sendiri."
"Ah, mana enak makan tanpa teman."
"Kenapa tidak makan dulu sebelum kemari?" gerutu Ray tanpa menyembunyikan rasa kesalnya.
"Aku mau traktir Mas Ray. Kan ujianku dapat B karena diajari Mas Ray."
"Aku tidak minta bayaran. Simpan saja uangmu."
"Mas Ray kok menolak niat baik orang?"
"Lukisanku belum selesai."
"Nanti bisa dilanjutkan. Kutemani, deh."
"Tidak usah," tolak Ray cepat. "Nanti malah lebih tidak selesai."
CHAPTER 2:
CINTAKAH DIA?
CINTAKAH DIA?
"Nanti ke rumah Ray?"
"Mungkin. Kenapa?"
Tito mengeluarkan amplop coklat dari dalam ranselnya. "Titip ini buatnya. Dan ingatkan dia, Kish. Wisudanya bulan depan. Dia harus datang mengurus administrasi. Jangan lupa bawa foto."
"Oke."
"Trims." Tito melambai sambil menjauh.
"Kenapa harus kamu yang merawat bayi besar itu?" tanya Warnie setelah Tito berlalu. "Mengingatkannya makan. Bahkan sekarang mengingatkan untuk acara wisudanya. Sementara dia sendiri tidak ingat apa-apa selain melukis."
"Bayi besar yang mana?"
"Tentu saja Ray! Siapa lagi?"
"Oo." Kishi tersenyum manis. Kalau bukan aku, siapa lagi? Lagipula, Mas Ray banyak membantuku."
"Kimia?" Warnie mencibir. "Sebenarnya tanpa dia pun kamu bisa."
"Biar saja. Mas Ray toh tidak keberatan."
"Apa yang kamu cari darinya, Kish?"
"Tidak ada."
"Kamu tidak sedang jatuh cinta padanya, kan?"
"Mungkin. Kenapa?"
Tito mengeluarkan amplop coklat dari dalam ranselnya. "Titip ini buatnya. Dan ingatkan dia, Kish. Wisudanya bulan depan. Dia harus datang mengurus administrasi. Jangan lupa bawa foto."
"Oke."
"Trims." Tito melambai sambil menjauh.
"Kenapa harus kamu yang merawat bayi besar itu?" tanya Warnie setelah Tito berlalu. "Mengingatkannya makan. Bahkan sekarang mengingatkan untuk acara wisudanya. Sementara dia sendiri tidak ingat apa-apa selain melukis."
"Bayi besar yang mana?"
"Tentu saja Ray! Siapa lagi?"
"Oo." Kishi tersenyum manis. Kalau bukan aku, siapa lagi? Lagipula, Mas Ray banyak membantuku."
"Kimia?" Warnie mencibir. "Sebenarnya tanpa dia pun kamu bisa."
"Biar saja. Mas Ray toh tidak keberatan."
"Apa yang kamu cari darinya, Kish?"
"Tidak ada."
"Kamu tidak sedang jatuh cinta padanya, kan?"
"Tidak!"
"Kamu terlalu cepat menjawab."
Jatuh cinta? Kishi bahkan tidak pernah memikirkan itu. Dia cuma merasa senang berada di dekat Ray.
"Apa dia tidak terlalu tua untukmu, Kish?"
"Kamu ini bicara apa, sih?!" Kishi mendelik. Mulai sebal dengan Warnie yang nyinyir.
"Aku cuma kasihan melihatmu. Selama ini selalu kamu yang menghampirinya. Memperhatikannya. Apa dia pernah bertindak sebaliknya?"
Kishi terdiam. Memang tidak pernah, jawabnya dalam hati.
"Aku tidak menuntut apa pun," sanggah Kishi. Tapi dia tahu hatinya tidak yakin.
"Kamu tidak jujur."
"Jangan bicara lagi, Nie!"
"Kalau kamu menghindar terus, semua bisa terlambat. Dia terlalu tua untukmu. Kamu bahkan baru duduk di semester pertama sementara Ray sudah lulus."
"Kami cuma berbeda lima tahun!"
"Lebih baik mencari yang seumur denganmu. Yang mendekatimu banyak, Kish. Buat apa mengejarnya terus kalau dia tidak mencintaimu?"
"Aku tidak bilang aku jatuh cinta padanya."
"Suatu saat pun kamu pasti sampai pada kesimpulan itu."
Benarkah?
"Kish, aku bisa bicara begini karena aku kenal Ray dengan baik. Aku sudah berteman dengannya sejak dulu. Bahkan saat dia masih bersama Ika. Dia sangat mencintai gadis itu."
"Aku tahu."
"Bahkan mungkin sampai sekarang," lanjut Warnie hati-hati. "Kukatakan ini karena aku tidak mau kamu terperangkap. Kamu teman baikku, Kish. Aku tidak mau melihatmu terluka tanpa ada yang bisa kulakukan."
Lalu dia harus apa?!
Kishi bahkan tidak tahu harus bagaimana. Dia bahkan tidak tahu apa benar dia jatuh cinta pada Ray, seperti yang dikatakan Warnie? Namun hati kecilnya membenarkan sebagian besar yang dikatakan Warnie.
Apa dia harus mencoba menjauh dari Ray, sekadar mencari tahu apa Ray peduli padanya? Lalu bagaimana kalau ternyata Ray memang tidak mencarinya, kalau ternyata bagi cowok itu seorang Kishi memang bukan apa-apa?
Kishi tidak berani membayangkan.
Dia bahkan tidak berani memikirkannya.
"Kamu terlalu cepat menjawab."
Jatuh cinta? Kishi bahkan tidak pernah memikirkan itu. Dia cuma merasa senang berada di dekat Ray.
"Apa dia tidak terlalu tua untukmu, Kish?"
"Kamu ini bicara apa, sih?!" Kishi mendelik. Mulai sebal dengan Warnie yang nyinyir.
"Aku cuma kasihan melihatmu. Selama ini selalu kamu yang menghampirinya. Memperhatikannya. Apa dia pernah bertindak sebaliknya?"
Kishi terdiam. Memang tidak pernah, jawabnya dalam hati.
"Aku tidak menuntut apa pun," sanggah Kishi. Tapi dia tahu hatinya tidak yakin.
"Kamu tidak jujur."
"Jangan bicara lagi, Nie!"
"Kalau kamu menghindar terus, semua bisa terlambat. Dia terlalu tua untukmu. Kamu bahkan baru duduk di semester pertama sementara Ray sudah lulus."
"Kami cuma berbeda lima tahun!"
"Lebih baik mencari yang seumur denganmu. Yang mendekatimu banyak, Kish. Buat apa mengejarnya terus kalau dia tidak mencintaimu?"
"Aku tidak bilang aku jatuh cinta padanya."
"Suatu saat pun kamu pasti sampai pada kesimpulan itu."
Benarkah?
"Kish, aku bisa bicara begini karena aku kenal Ray dengan baik. Aku sudah berteman dengannya sejak dulu. Bahkan saat dia masih bersama Ika. Dia sangat mencintai gadis itu."
"Aku tahu."
"Bahkan mungkin sampai sekarang," lanjut Warnie hati-hati. "Kukatakan ini karena aku tidak mau kamu terperangkap. Kamu teman baikku, Kish. Aku tidak mau melihatmu terluka tanpa ada yang bisa kulakukan."
Lalu dia harus apa?!
Kishi bahkan tidak tahu harus bagaimana. Dia bahkan tidak tahu apa benar dia jatuh cinta pada Ray, seperti yang dikatakan Warnie? Namun hati kecilnya membenarkan sebagian besar yang dikatakan Warnie.
Apa dia harus mencoba menjauh dari Ray, sekadar mencari tahu apa Ray peduli padanya? Lalu bagaimana kalau ternyata Ray memang tidak mencarinya, kalau ternyata bagi cowok itu seorang Kishi memang bukan apa-apa?
Kishi tidak berani membayangkan.
Dia bahkan tidak berani memikirkannya.
CHAPTER 3:
SEGALANYA TENTANG RAY
SEGALANYA TENTANG RAY
Ray melangkah ke dalam. Melewati ruang makan dan terhenti di dapur.
"Mam!"
"Hai, Ray. Dari mana?"
"Jalan-jalan sebentar."
"Tadi Kishi kemari. Lebih dari sejam menunggumu."
"Ada pesan?"
"Dia tinggalkan memo dan amplop. Mama taruh di atas kulkas."
Ray menjangkau atas kulkas dan menemukan secarik memo kecil tertindih amplop coklat.
Titipan Tito. Katanya bulan depan Mas Ray diwisuda. Bawa foto dan urus administrasinya di sekretariat. Kishi.
Kemajuan!
Ray tersenyum tipis. Biasanya gadis itu tidak pernah cukup menulis memo dengan selembar kertas kecil begini.
"Sudah makan, Ray?"
"Tadi sudah makan di jalan. Ray ke paviliun dulu."
"Oo, hampir lupa." Mama meninggalkan blendernya. Menghampiri Ray, menatap putranya lembut. "Ada tamu untukmu. Dia sudah hampir setengah jam menunggu. Katanya mau menunggu di paviliun saja. Jadi Mama biarkan dia di sana."
"Kishi?"
"Ika."
Ray tertegun.
"Temuilah, Ray. Ada yang harus diselesaikan antara kalian."
"Semua sudah selesai," gumam Ray tak bergeming. "Dia sudah memilih jalan hidupnya. Untuk apa kembali?"
"Dia berhak memberi penjelasan." Mama mendorong Ray lembut. "Temuilah. Kalau kamu masih mencintainya, kenapa harus menolak?"
"Saya sudah tidak mencintainya lagi."
"Karena Kishi?" Mama tersenyum. "Atau karena menuruti kemarahanmu saja?"
"Kishi cuma anak kecil."
"Tapi kamu bahkan tidak bisa menolak kehadirannya."
"Mam!" Pusing di kepala Ray bertambah.
Ray tidak ingin menemui Ika sebenarnya. Biar saja gadis itu menunggu di paviliun sampai bosan. Ray bisa berbaring di kamarnya di atas. Tapi itu tak akan menyelesaikan segalanya. Biar pun Ray menghindar, tetap saja masih ada yang tersisa antara kami, batinnya.
"Mam!"
"Hai, Ray. Dari mana?"
"Jalan-jalan sebentar."
"Tadi Kishi kemari. Lebih dari sejam menunggumu."
"Ada pesan?"
"Dia tinggalkan memo dan amplop. Mama taruh di atas kulkas."
Ray menjangkau atas kulkas dan menemukan secarik memo kecil tertindih amplop coklat.
Titipan Tito. Katanya bulan depan Mas Ray diwisuda. Bawa foto dan urus administrasinya di sekretariat. Kishi.
Kemajuan!
Ray tersenyum tipis. Biasanya gadis itu tidak pernah cukup menulis memo dengan selembar kertas kecil begini.
"Sudah makan, Ray?"
"Tadi sudah makan di jalan. Ray ke paviliun dulu."
"Oo, hampir lupa." Mama meninggalkan blendernya. Menghampiri Ray, menatap putranya lembut. "Ada tamu untukmu. Dia sudah hampir setengah jam menunggu. Katanya mau menunggu di paviliun saja. Jadi Mama biarkan dia di sana."
"Kishi?"
"Ika."
Ray tertegun.
"Temuilah, Ray. Ada yang harus diselesaikan antara kalian."
"Semua sudah selesai," gumam Ray tak bergeming. "Dia sudah memilih jalan hidupnya. Untuk apa kembali?"
"Dia berhak memberi penjelasan." Mama mendorong Ray lembut. "Temuilah. Kalau kamu masih mencintainya, kenapa harus menolak?"
"Saya sudah tidak mencintainya lagi."
"Karena Kishi?" Mama tersenyum. "Atau karena menuruti kemarahanmu saja?"
"Kishi cuma anak kecil."
"Tapi kamu bahkan tidak bisa menolak kehadirannya."
"Mam!" Pusing di kepala Ray bertambah.
Ray tidak ingin menemui Ika sebenarnya. Biar saja gadis itu menunggu di paviliun sampai bosan. Ray bisa berbaring di kamarnya di atas. Tapi itu tak akan menyelesaikan segalanya. Biar pun Ray menghindar, tetap saja masih ada yang tersisa antara kami, batinnya.
CHAPTER 4:
RAY DAN IKA
RAY DAN IKA
"Ray!"
"Kapan kembali?"
"Kemarin. Aku meneleponmu tapi kamu keluar. Jadi hari ini aku kemari."
Ika masih saja cantik, seperti dulu. Lebih cantik malah. Tapi membuat Ray merasa sangat asing.
"Masih suka melukis, Ray?"
"Seperti yang kamu lihat."
"Kudengar kamu sudah lulus. Selamat, ya? Kapan wisudanya?"
"Bulan depan."
Genggaman tangannya pun sudah terasa lain. Ika yang kembali sekarang sudah terasa lain. Ika yang kembali sekarang bukan seperti Ika yang dilepasnya pergi dulu.
"Tempat ini tidak pernah dibereskan, ya?" Ika mengalihkan pembicaraan. Mencoba mencairkan kedinginan Ray.
"Kadang-kadang." Kalau Kishi datang dan Ray tidak sedang melukis. Ray akan berselonjor di sofa panjang, mendengarkan kicauan petasan injak itu dan membiarkan gadis itu menata paviliunnya sesuka hati.
"Bagaimana kalau kita keluar, Ray?"
"Maaf, aku capek."
"Kutemani di sini?"
"Tempat ini kotor."
"Tak apa. Aku ingin melihatmu melukis lagi seperti dulu."
Bagaimana bisa, sementara suasana di antara mereka tidak lagi sama seperti dulu?
"Kenapa cita-citamu berubah?" tanya Ray dua tahun yang lalu saat Ika memutuskan berangkat ke Amsterdam.
"Kesempatan ini jarang sekali datang, Ray. Aku tidak bisa mengabaikannya begitu disodorkan padaku."
"Juga kalau itu berarti kita berpisah?"
"Cuma sementara!"
"Tapi kamu bahkan tidak bisa memastikan kapan akan kembali. Bagiamana kalau kamu tidak kembali?"
"Aku pasti kembali."
"Sampai kapan?"
"Tidak lama!"
"Setahun, dua tahun, sepuluh tahun? Atau kamu ingin aku menunggu seumur hidup?"
"Ray!"
"Kuliahmu sudah setengah jalan, Ika."
"Bisa kulanjutkan kalau aku kembali."
"Asal kamu kembali belum jadi nenek-nenek."
"Kamu tidak suka aku pergi?"
"Ya! Aku tidak suka kamu membuang semua yang sudah kamu miliki hanya untuk mengejar sesuatu yang baru. Yang tidak pasti!"
"Aku tidak membuangnya, Ray. Aku cuma menunda. Aku tak akan tahu kalau tidak pernah mencoba."
"Bagaimana kalau kamu gagal?"
"Aku bisa kembali, dan meneruskan kuliahku yang di sini."
"Asal kamu tidak terlambat. Asal pintu belum tertutup rapat saat kamu kembali."
Ray tidak bisa mengerti. Tidak bisa memahami. Ika sudah punya segalanya. Keluarga. Cita-cita yang bakal diraihnya dalam dua tahun mendatang. Ray yang mencintainya, yang didapatnya setelah menyingkirkan tidak sedikit saingan.
Dan sekarang Ika bermaksud meninggalkan semua demi sebuah kesempatan ke Amsterdam. Hanya karena gadis itu menerima tawaran untuk hidup dan belajar musik di Negeri Kincir Angin itu. Tawaran dari salah seorang pamannya!
Musik?! Astaga! Ray tahu betul, Ika tidak pernah berminat pada dunia yang satu itu.
"Aku tidak bisa menghalangimu. Aku cuma berharap, kamu sudah kembali sebelum semuanya terlambat."
Termasuk dalam hal memperoleh kembali hati Ray.
"Siapa Kishi, Ray?" Ika meraih diktat Kishi yang tergeletak di atas lemari.
"Adik angkatan." Ray mengambil diktat itu dan meletakkannya di atas lemari.
"Dia sering kemari? Kok bukunya ada di sini?"
"Bukan urusanmu."
"Tentu saja urusanku kalau semua belum terlambat." Ika menatap Ray sambil tersenyum. "Belum terlambat kan, Ray?"
"Kapan kembali?"
"Kemarin. Aku meneleponmu tapi kamu keluar. Jadi hari ini aku kemari."
Ika masih saja cantik, seperti dulu. Lebih cantik malah. Tapi membuat Ray merasa sangat asing.
"Masih suka melukis, Ray?"
"Seperti yang kamu lihat."
"Kudengar kamu sudah lulus. Selamat, ya? Kapan wisudanya?"
"Bulan depan."
Genggaman tangannya pun sudah terasa lain. Ika yang kembali sekarang sudah terasa lain. Ika yang kembali sekarang bukan seperti Ika yang dilepasnya pergi dulu.
"Tempat ini tidak pernah dibereskan, ya?" Ika mengalihkan pembicaraan. Mencoba mencairkan kedinginan Ray.
"Kadang-kadang." Kalau Kishi datang dan Ray tidak sedang melukis. Ray akan berselonjor di sofa panjang, mendengarkan kicauan petasan injak itu dan membiarkan gadis itu menata paviliunnya sesuka hati.
"Bagaimana kalau kita keluar, Ray?"
"Maaf, aku capek."
"Kutemani di sini?"
"Tempat ini kotor."
"Tak apa. Aku ingin melihatmu melukis lagi seperti dulu."
Bagaimana bisa, sementara suasana di antara mereka tidak lagi sama seperti dulu?
"Kenapa cita-citamu berubah?" tanya Ray dua tahun yang lalu saat Ika memutuskan berangkat ke Amsterdam.
"Kesempatan ini jarang sekali datang, Ray. Aku tidak bisa mengabaikannya begitu disodorkan padaku."
"Juga kalau itu berarti kita berpisah?"
"Cuma sementara!"
"Tapi kamu bahkan tidak bisa memastikan kapan akan kembali. Bagiamana kalau kamu tidak kembali?"
"Aku pasti kembali."
"Sampai kapan?"
"Tidak lama!"
"Setahun, dua tahun, sepuluh tahun? Atau kamu ingin aku menunggu seumur hidup?"
"Ray!"
"Kuliahmu sudah setengah jalan, Ika."
"Bisa kulanjutkan kalau aku kembali."
"Asal kamu kembali belum jadi nenek-nenek."
"Kamu tidak suka aku pergi?"
"Ya! Aku tidak suka kamu membuang semua yang sudah kamu miliki hanya untuk mengejar sesuatu yang baru. Yang tidak pasti!"
"Aku tidak membuangnya, Ray. Aku cuma menunda. Aku tak akan tahu kalau tidak pernah mencoba."
"Bagaimana kalau kamu gagal?"
"Aku bisa kembali, dan meneruskan kuliahku yang di sini."
"Asal kamu tidak terlambat. Asal pintu belum tertutup rapat saat kamu kembali."
Ray tidak bisa mengerti. Tidak bisa memahami. Ika sudah punya segalanya. Keluarga. Cita-cita yang bakal diraihnya dalam dua tahun mendatang. Ray yang mencintainya, yang didapatnya setelah menyingkirkan tidak sedikit saingan.
Dan sekarang Ika bermaksud meninggalkan semua demi sebuah kesempatan ke Amsterdam. Hanya karena gadis itu menerima tawaran untuk hidup dan belajar musik di Negeri Kincir Angin itu. Tawaran dari salah seorang pamannya!
Musik?! Astaga! Ray tahu betul, Ika tidak pernah berminat pada dunia yang satu itu.
"Aku tidak bisa menghalangimu. Aku cuma berharap, kamu sudah kembali sebelum semuanya terlambat."
Termasuk dalam hal memperoleh kembali hati Ray.
"Siapa Kishi, Ray?" Ika meraih diktat Kishi yang tergeletak di atas lemari.
"Adik angkatan." Ray mengambil diktat itu dan meletakkannya di atas lemari.
"Dia sering kemari? Kok bukunya ada di sini?"
"Bukan urusanmu."
"Tentu saja urusanku kalau semua belum terlambat." Ika menatap Ray sambil tersenyum. "Belum terlambat kan, Ray?"
CHAPTER 5:
AIRMATAKU MENITIK
AIRMATAKU MENITIK
"Ada telepon untuk Kishi, Mam?"
"Tidak." Mama mendongak, menatap Kishi sambil berkerut. "Kamu nunggu telepon dari siap sih, Kish? Penting ya sampai nanyain tiap hari?"
Kishi tersenyum pahit. Menggeleng perlahan. Jadi Warnie benar. Dia memang tidak berarti apa pun untuk Ray.
Sudah lebih dari sebulan Kishi tidak lagi menemui Ray. Terakhir adalah saat Kishi mengantarkan amplop titipan Tito. Itu pun Ray tidak ada di rumah. Dia hanya ditemani Mama Ray. Setelah itu Kishi menjauh. Mencoba menahan diri. Dia harus tahu, apa memang ada yang bisa diharapkan.
Tapi ternyata tidak! Sama sekali tidak!
Ray tidak mencarinya. Tidak menelepon. Tidak datang ke rumah.
Mungkin dia memang harus melupakan. Tidak usah mengharapkannya. Tapi bisakah? Sebulan ini saja Kishi sudah merasa kehilangan.
"Oya, Kish. Tadi Warnie datang. Katanya, mau pinjam diktat organik buat kuis besok. Mama suruh cari sendiri di kamarmu. Tapi katanya tidak ada."
Tertinggal di tempat Ray saat Kishi memaksa cowok itu mengajarkannya sebelum ujian kemarin. Dan dia lupa mengambilnya kembali untuk dipinjam Warnie besok.
"Kishi pergi dulu, Mam."
"Lho, baru pulang kok mau pergi lagi?"
"Ambil diktat di rumah teman. Kasihan Warnie, besok dia perlu sekali."
Sekalian mengambil semua barangnya yang tertinggal di paviliun Ray.
"Tidak." Mama mendongak, menatap Kishi sambil berkerut. "Kamu nunggu telepon dari siap sih, Kish? Penting ya sampai nanyain tiap hari?"
Kishi tersenyum pahit. Menggeleng perlahan. Jadi Warnie benar. Dia memang tidak berarti apa pun untuk Ray.
Sudah lebih dari sebulan Kishi tidak lagi menemui Ray. Terakhir adalah saat Kishi mengantarkan amplop titipan Tito. Itu pun Ray tidak ada di rumah. Dia hanya ditemani Mama Ray. Setelah itu Kishi menjauh. Mencoba menahan diri. Dia harus tahu, apa memang ada yang bisa diharapkan.
Tapi ternyata tidak! Sama sekali tidak!
Ray tidak mencarinya. Tidak menelepon. Tidak datang ke rumah.
Mungkin dia memang harus melupakan. Tidak usah mengharapkannya. Tapi bisakah? Sebulan ini saja Kishi sudah merasa kehilangan.
"Oya, Kish. Tadi Warnie datang. Katanya, mau pinjam diktat organik buat kuis besok. Mama suruh cari sendiri di kamarmu. Tapi katanya tidak ada."
Tertinggal di tempat Ray saat Kishi memaksa cowok itu mengajarkannya sebelum ujian kemarin. Dan dia lupa mengambilnya kembali untuk dipinjam Warnie besok.
"Kishi pergi dulu, Mam."
"Lho, baru pulang kok mau pergi lagi?"
"Ambil diktat di rumah teman. Kasihan Warnie, besok dia perlu sekali."
Sekalian mengambil semua barangnya yang tertinggal di paviliun Ray.
***
"Mas Ray ada, Mbok?" Rumah besar itu sepi saat Kishi tiba di sana. Cuma Mbok Tinah yang menyambutnya.
"Ada di paviliun, Non. Biasa, sedang melukis. Masuk saja ke dalam."
Kishi melangkah masuk. Menyusuri taman belakang yang luas sebelum sampai ke paviliun.
"Mas Ray!"
Kishi tertegun di ambang pintu. Batal melangkahkan kaki untuk masuk. Merasakan seluruh dunia berputar balik. Dan dia terjebak dalam pusaran tanpa henti.
Ray menoleh. Mendapatkan Kishi tertegun di ambang pintu. Dia bisa membaca seluruhnya. Keterkejutan. Kesakitan. Semua di mata itu. Perlahan dilepaskannya pelukannya pada Ika.
"Kishi."
"Maaf, aku tidak tahu kalau Mas Ray ada tamu." Kishi mencoba tersenyum.
"Tak apa." Ray menghampiri. Tenang seperti biasa. "Oya, kenalkan. Ini Ika. Ka, ini Kishi."
Kishi melebarkan senyumnya. "Maaf mengganggu. Aku cuma mau mengambil barang-barangku yang tertinggal."
"Berserakan di mana-mana."
"Tidak penting, kok. Cuma diktat itu yang mendesak. Bisa tolong ambilkan, Mas Ray?"
Ray meraih diktat organik Kishi di atas lemari.
"Terima kasih. Aku pulang."
Kishi berbalik cepat. Melangkah cepat melintasi taman belakang rumah Ray.
"Kish!" kejar Ray. "Katanya mau mengambil barang-barang yang lain?"
"Tidak begitu penting. Bisa tolong dikumpulkan dulu, Mas Ray? Nanti kuminta Warnie mampir mengambilkannya. Dia suka lewat sini kalau pulang."
"Kenapa tidak diambil sendiri?"
"Aku sibuk. Sudah hampir ujian semester. Harus belajar keras."
"Tidak ingin kuajari seperti biasa?"
"Nanti mengganggu Mas Ray. Lagipula, aku harus mandiri kan?" Kishi tersenyum lagi. Menyamarkan semua rasa yang sempat terlihat Ray tadi. "Aku pulang, Mas."
"Kuantar, Kish."
Hampir setahun berada di dekat Ray, menghampirinya selalu, Ray tidak pernah menawarinya mengantar pulang. Pun setelah seharian Kishi menemaninya di paviliun. Atau membereskan paviliun yang seperti kapal pecah. Ray bahkan tidak pernah mengantar sampai ke depan rumah, tempat Kishi memarkirkan mobilnya.
Lalu kenapa baru sekarang, setelah segalanya terlambat?
"Aku bawa mobil."
"Kuantar sampai depan."
"Tidak usah. Mas Ray kan ada tamu. Tuh sudah ditunggu."
"Hati-hati, Kish."
Kishi mengangguk. Ray bahkan tidak pernah berpesan seperti itu.
Di dalam mobil, airmata Kishi mengalir deras.
"Ada di paviliun, Non. Biasa, sedang melukis. Masuk saja ke dalam."
Kishi melangkah masuk. Menyusuri taman belakang yang luas sebelum sampai ke paviliun.
"Mas Ray!"
Kishi tertegun di ambang pintu. Batal melangkahkan kaki untuk masuk. Merasakan seluruh dunia berputar balik. Dan dia terjebak dalam pusaran tanpa henti.
Ray menoleh. Mendapatkan Kishi tertegun di ambang pintu. Dia bisa membaca seluruhnya. Keterkejutan. Kesakitan. Semua di mata itu. Perlahan dilepaskannya pelukannya pada Ika.
"Kishi."
"Maaf, aku tidak tahu kalau Mas Ray ada tamu." Kishi mencoba tersenyum.
"Tak apa." Ray menghampiri. Tenang seperti biasa. "Oya, kenalkan. Ini Ika. Ka, ini Kishi."
Kishi melebarkan senyumnya. "Maaf mengganggu. Aku cuma mau mengambil barang-barangku yang tertinggal."
"Berserakan di mana-mana."
"Tidak penting, kok. Cuma diktat itu yang mendesak. Bisa tolong ambilkan, Mas Ray?"
Ray meraih diktat organik Kishi di atas lemari.
"Terima kasih. Aku pulang."
Kishi berbalik cepat. Melangkah cepat melintasi taman belakang rumah Ray.
"Kish!" kejar Ray. "Katanya mau mengambil barang-barang yang lain?"
"Tidak begitu penting. Bisa tolong dikumpulkan dulu, Mas Ray? Nanti kuminta Warnie mampir mengambilkannya. Dia suka lewat sini kalau pulang."
"Kenapa tidak diambil sendiri?"
"Aku sibuk. Sudah hampir ujian semester. Harus belajar keras."
"Tidak ingin kuajari seperti biasa?"
"Nanti mengganggu Mas Ray. Lagipula, aku harus mandiri kan?" Kishi tersenyum lagi. Menyamarkan semua rasa yang sempat terlihat Ray tadi. "Aku pulang, Mas."
"Kuantar, Kish."
Hampir setahun berada di dekat Ray, menghampirinya selalu, Ray tidak pernah menawarinya mengantar pulang. Pun setelah seharian Kishi menemaninya di paviliun. Atau membereskan paviliun yang seperti kapal pecah. Ray bahkan tidak pernah mengantar sampai ke depan rumah, tempat Kishi memarkirkan mobilnya.
Lalu kenapa baru sekarang, setelah segalanya terlambat?
"Aku bawa mobil."
"Kuantar sampai depan."
"Tidak usah. Mas Ray kan ada tamu. Tuh sudah ditunggu."
"Hati-hati, Kish."
Kishi mengangguk. Ray bahkan tidak pernah berpesan seperti itu.
Di dalam mobil, airmata Kishi mengalir deras.
CHAPTER 6:
HATIKU PATAH
HATIKU PATAH
"Mau tolong aku, Nie?"
"Apa?"
"Kalau pulang lewat rumah Mas Ray, kan?"
"Kadang-kadang. Memangnya kenapa?"
"Kalau lewat, tolong mampir sebentar. Ada beberapa barangku yang tertinggal di tempatnya."
Warnie menoleh. Menatap Kishi dengan dahi berkerut.
"Ada apa denganmu?"
"Tidak ada." Kishi tersenyum.
"Kenapa harus aku yang datang? Bukan kamu?"
"Aku sibuk. Mesti belajar untuk ujian semester."
"Biasanya minta Ray yang mengajarkan."
"Merepotkan dia saja."
"Hei, ada apa denganmu?" ulang Warnie heran.
Kishi menarik napas panjang, menunduk sedikit.
"Kamu benar. Aku memang bukan apa-apa untuk Mas Ray."
"Oo, Kish." Warnie memeluk Kishi. "Dia mengatakan itu padamu?"
"Aku melihatnya sendiri. Ika kembali."
"Dia bilang akan kembali pada Ika?"
"Mas Ray tidak menjelaskan apa-apa. Aku melihatnya memeluk Ika. Apa itu tidak menjelaskan segalanya?"
"Kish!"
Kishi menelan ludahnya dengan susah payah.
"Seharusnya aku mengerti sejak dulu," ungkapnya.
"Kalau saja kamu mau mendengarkan aku."
"Ya. Tapi tidak ada gunanya memang. Sudah selesai. Semua." Kishi tersenyum pahit. "Jangan lupa, ya? Tolong ambilkan barangku."
"Mau titip sesuatu untuk Ray?"
Kishi menggeleng.
"Tak akan ada gunanya."
"Apa?"
"Kalau pulang lewat rumah Mas Ray, kan?"
"Kadang-kadang. Memangnya kenapa?"
"Kalau lewat, tolong mampir sebentar. Ada beberapa barangku yang tertinggal di tempatnya."
Warnie menoleh. Menatap Kishi dengan dahi berkerut.
"Ada apa denganmu?"
"Tidak ada." Kishi tersenyum.
"Kenapa harus aku yang datang? Bukan kamu?"
"Aku sibuk. Mesti belajar untuk ujian semester."
"Biasanya minta Ray yang mengajarkan."
"Merepotkan dia saja."
"Hei, ada apa denganmu?" ulang Warnie heran.
Kishi menarik napas panjang, menunduk sedikit.
"Kamu benar. Aku memang bukan apa-apa untuk Mas Ray."
"Oo, Kish." Warnie memeluk Kishi. "Dia mengatakan itu padamu?"
"Aku melihatnya sendiri. Ika kembali."
"Dia bilang akan kembali pada Ika?"
"Mas Ray tidak menjelaskan apa-apa. Aku melihatnya memeluk Ika. Apa itu tidak menjelaskan segalanya?"
"Kish!"
Kishi menelan ludahnya dengan susah payah.
"Seharusnya aku mengerti sejak dulu," ungkapnya.
"Kalau saja kamu mau mendengarkan aku."
"Ya. Tapi tidak ada gunanya memang. Sudah selesai. Semua." Kishi tersenyum pahit. "Jangan lupa, ya? Tolong ambilkan barangku."
"Mau titip sesuatu untuk Ray?"
Kishi menggeleng.
"Tak akan ada gunanya."
"Nah, itu dia pulang!"
Kishi tertegun di ambang pintu. Mama berdiri dari duduknya. Menyambutnya. Tapi yang membuat Kishi bingung adalah kehadiran Ray di ruang tamu sekarang.
"Ke mana saja, Kish? Sudah ditunggu lama, tuh."
"Jalan-jalan."
"Tante tinggal ke dalam ya, Ray."
Ray mengangguk. "Terima kasih, Tante."
Pandangannya dialihkan ke Kishi setelah Mama gadis itu menghilang. Sementara Kishi masih saja berdiri di tempatnya.
"Kenapa melihatku seperti melihat UFO?"
Kishi tertawa kecil. "Tumben Mas Ray kemari? Ada apa?"
"Mengantarkan barang-barangmu."
Kishi tertegun di ambang pintu. Mama berdiri dari duduknya. Menyambutnya. Tapi yang membuat Kishi bingung adalah kehadiran Ray di ruang tamu sekarang.
"Ke mana saja, Kish? Sudah ditunggu lama, tuh."
"Jalan-jalan."
"Tante tinggal ke dalam ya, Ray."
Ray mengangguk. "Terima kasih, Tante."
Pandangannya dialihkan ke Kishi setelah Mama gadis itu menghilang. Sementara Kishi masih saja berdiri di tempatnya.
"Kenapa melihatku seperti melihat UFO?"
Kishi tertawa kecil. "Tumben Mas Ray kemari? Ada apa?"
"Mengantarkan barang-barangmu."
CHAPTER 7:
PASTIKAN DIA JANGAN MENUNGGU
PASTIKAN DIA JANGAN MENUNGGU
"Seharusnya Mas Ray tidak perlu repot-repot begini. Sampai mengantarkan segala. Aku sudah minta tolong Warnie."
"Warnie datang kemarin. Tapi aku katakan, ingin aku antar sendiri."
"Ada yang penting?" Kishi duduk di hadapan Ray. Menatapnya.
"Kalau tidak penting, tidak boleh menemuimu?"
"Bukan begitu. Biasanya Mas Ray kan...."
"Tidak pernah mencarimu, apa lagi sampai ke rumah?" potong Ray tersenyum. "Selama ini aku terlalu sibuk dengan diriku sendiri, ya?"
"Tak apa. Melukis toh bukan hal yang jelek."
"Bukan itu. Maksudku...."
Kishi menunduk. "Aku mengerti."
"Seharusnya aku bisa lebih memahamimu."
"Tidak perlu. Pahami saja keinginan Mas Ray." Kishi menelan ludah pahit. "Sudah terima amplop coklat yang kutitipkan?"
"Ya."
"Tito bilang, itu panggilan kerja untuk Mas Ray."
Ray mengangguk. "Pertambangan minyak di Batam."
"Mas Ray terima?"
"Menurutmu bagaimana?"
"Aku tidak punya pendapat untuk itu." Kishi menggeleng. "Kenapa tidak bertanya pada Mbak Ika?"
"Ika?" Ray memajukan tubuhnya. "Karena kamu melihatku memeluknya?"
"Sebenarnya bukan cuma itu."
"Apa lagi?"
"Aku tidak ingin membicarakannya."
"Kamu belum tahu secara pasti bagaimana aku dengan Ika. Kenapa langsung memutuskan?"
"Itu masalah pribadi Mas Ray. Kenapa aku harus tahu?" elak Kishi. "Kenapa harus dibicarakan padaku?"
"Karena kamu tersangkut di dalamnya."
"Aku?" Kishi tertawa. Pahit. "Aku bukan apa-apa."
"Kalau kamu bukan apa-apa, dia tak akan cemburu. Ika bukan tipe orang yang bisa menyerah begitu saja sebelum bertanding."
"Tidak perlu ada pertandingan. Toh memang sudah ada pemenangnya."
"Kamu!" Ray mengultimatum. "Kamulah pemenangnya!"
"Pembicaraan apa ini? Mas Ray ngawur!" Kishi bangkit. Bagaimana dia bisa tahan duduk berhadapan begitu dan membiarkan Ray mempermainkan perasaannya, mengobrak-abriknya?
"Duduk, Kish. Aku belum selesai."
"Apa lagi?!"
"Aku diwisuda besok."
"Lalu?"
"Mau mendampingiku?"
"Kenapa tidak minta pada Mbak Ika?"
"Ika lagi, Ika lagi!" Ray menggeleng kesal. "Aku minta padamu! Bukan Ika!"
"Apa yang Mas Ray inginkan sebenarnya?"
"Waktu Ika meminta kembali, aku tidak tahu kenapa tidak ada lagi yang bisa kuberikan padanya. Di hatiku sudah tidak ada namanya lagi. Di hatiku hanya ada kamu...."
Kishi menggeleng.
"Aku bukan apa-apa bagi Mas Ray. Aku bukan apa-apa...."
"Karena aku tidak pernah membalas semua yang kamu berikan?"
"Memang tidak harus, kan?"
"Kishi, waktu kamu ke paviliun saat itu...."
"Aku tidak ingin mendengar penjelasan Mas Ray tentang alasan memeluk Mbak Ika seperti itu. Itu urusan Mas Ray."
"Urusanmu juga." Ray menatap tajam. "Aku perlu menanyakan ini, Kish. Sebelum kuputuskan ke Batam atau tidak."
"Mas Ray akan ke Batam?" Kishi menatap Ray tanpa menyadari matanya menyimpan kepanikan.
"Tergantung jawabanmu."
"Aku?"
"Ya, bukan Ika! Please, jangan bicarakan dia lagi. Kita sedang mendiskualifikasikan dia." Ray menarik napas sejenak. "Kamu ingin aku pergi ke Batam dan terikat kontrak yang memisahkan kita begitu lama?"
Kishi tak tahu harus menjawab apa. Kalau menuruti kata hatinya, maka dia ingin menjawab tidak.
"Mas Ray ingin pergi?"
"Bagiku, kerja di manapun sama saja kalau tidak ada kamu. Tapi kalau ada kamu, kupilih kerja di sini. Sudah ada perusahaan lagi yang menawariku. Kalau kamu ingin kita tidak berpisah, minta aku jangan pergi!"
Kishi mendongak. Menatap hitamnya mata Ray yang bagus.
"Aku tidak ingin Mas Ray pergi," ucapnya pelan. "Aku...."
Ray menarik gadis itu ke dalam pelukannya.
"Aku tak akan pergi," jawabnya pasti. "Aku tak akan pergi!" ©
"Warnie datang kemarin. Tapi aku katakan, ingin aku antar sendiri."
"Ada yang penting?" Kishi duduk di hadapan Ray. Menatapnya.
"Kalau tidak penting, tidak boleh menemuimu?"
"Bukan begitu. Biasanya Mas Ray kan...."
"Tidak pernah mencarimu, apa lagi sampai ke rumah?" potong Ray tersenyum. "Selama ini aku terlalu sibuk dengan diriku sendiri, ya?"
"Tak apa. Melukis toh bukan hal yang jelek."
"Bukan itu. Maksudku...."
Kishi menunduk. "Aku mengerti."
"Seharusnya aku bisa lebih memahamimu."
"Tidak perlu. Pahami saja keinginan Mas Ray." Kishi menelan ludah pahit. "Sudah terima amplop coklat yang kutitipkan?"
"Ya."
"Tito bilang, itu panggilan kerja untuk Mas Ray."
Ray mengangguk. "Pertambangan minyak di Batam."
"Mas Ray terima?"
"Menurutmu bagaimana?"
"Aku tidak punya pendapat untuk itu." Kishi menggeleng. "Kenapa tidak bertanya pada Mbak Ika?"
"Ika?" Ray memajukan tubuhnya. "Karena kamu melihatku memeluknya?"
"Sebenarnya bukan cuma itu."
"Apa lagi?"
"Aku tidak ingin membicarakannya."
"Kamu belum tahu secara pasti bagaimana aku dengan Ika. Kenapa langsung memutuskan?"
"Itu masalah pribadi Mas Ray. Kenapa aku harus tahu?" elak Kishi. "Kenapa harus dibicarakan padaku?"
"Karena kamu tersangkut di dalamnya."
"Aku?" Kishi tertawa. Pahit. "Aku bukan apa-apa."
"Kalau kamu bukan apa-apa, dia tak akan cemburu. Ika bukan tipe orang yang bisa menyerah begitu saja sebelum bertanding."
"Tidak perlu ada pertandingan. Toh memang sudah ada pemenangnya."
"Kamu!" Ray mengultimatum. "Kamulah pemenangnya!"
"Pembicaraan apa ini? Mas Ray ngawur!" Kishi bangkit. Bagaimana dia bisa tahan duduk berhadapan begitu dan membiarkan Ray mempermainkan perasaannya, mengobrak-abriknya?
"Duduk, Kish. Aku belum selesai."
"Apa lagi?!"
"Aku diwisuda besok."
"Lalu?"
"Mau mendampingiku?"
"Kenapa tidak minta pada Mbak Ika?"
"Ika lagi, Ika lagi!" Ray menggeleng kesal. "Aku minta padamu! Bukan Ika!"
"Apa yang Mas Ray inginkan sebenarnya?"
"Waktu Ika meminta kembali, aku tidak tahu kenapa tidak ada lagi yang bisa kuberikan padanya. Di hatiku sudah tidak ada namanya lagi. Di hatiku hanya ada kamu...."
Kishi menggeleng.
"Aku bukan apa-apa bagi Mas Ray. Aku bukan apa-apa...."
"Karena aku tidak pernah membalas semua yang kamu berikan?"
"Memang tidak harus, kan?"
"Kishi, waktu kamu ke paviliun saat itu...."
"Aku tidak ingin mendengar penjelasan Mas Ray tentang alasan memeluk Mbak Ika seperti itu. Itu urusan Mas Ray."
"Urusanmu juga." Ray menatap tajam. "Aku perlu menanyakan ini, Kish. Sebelum kuputuskan ke Batam atau tidak."
"Mas Ray akan ke Batam?" Kishi menatap Ray tanpa menyadari matanya menyimpan kepanikan.
"Tergantung jawabanmu."
"Aku?"
"Ya, bukan Ika! Please, jangan bicarakan dia lagi. Kita sedang mendiskualifikasikan dia." Ray menarik napas sejenak. "Kamu ingin aku pergi ke Batam dan terikat kontrak yang memisahkan kita begitu lama?"
Kishi tak tahu harus menjawab apa. Kalau menuruti kata hatinya, maka dia ingin menjawab tidak.
"Mas Ray ingin pergi?"
"Bagiku, kerja di manapun sama saja kalau tidak ada kamu. Tapi kalau ada kamu, kupilih kerja di sini. Sudah ada perusahaan lagi yang menawariku. Kalau kamu ingin kita tidak berpisah, minta aku jangan pergi!"
Kishi mendongak. Menatap hitamnya mata Ray yang bagus.
"Aku tidak ingin Mas Ray pergi," ucapnya pelan. "Aku...."
Ray menarik gadis itu ke dalam pelukannya.
"Aku tak akan pergi," jawabnya pasti. "Aku tak akan pergi!" ©
Seindah Mata Kristalnya
CHAPTER 1:
SEINDAH MATA KRISTALNYA
Malam
bergulir perlahan. Detak jarum jam dinding di kamarku terdengar jelas. Kota
Jakarta terlelap dalam tidur. Hanya sesekali terdengar raungan kendaraan.
Menggerung keras lalu lenyap ditelan kesunyian. Pukul dua dinihari. Aku menyeka
sebuah luka memar di sekitar kelopak mataku dengan air hangat. Bekas luka
pukulan itu, setelah seminggu perlahan-lahan mulai hilang.
Kini aku menatap wajahku sendiri di dalam cermin. Kenapa itu kamu lakukan,
Renaldi? Kenapa kamu mati-matian membela gadis itu? Kenapa kamu tidak pernah
berkompromi kepada seseorang yang telah membuat mata bening milik gadis itu
mempunyai pesona lain dalam hatimu, Renaldi? Ataukah, kamu mempunyai perasaan
khusus pada gadis itu yang sampai saat ini masih kamu sembunyikan? Yang sampai
detik ini tidak pernah kamu ungkapkan?!
bergulir perlahan. Detak jarum jam dinding di kamarku terdengar jelas. Kota
Jakarta terlelap dalam tidur. Hanya sesekali terdengar raungan kendaraan.
Menggerung keras lalu lenyap ditelan kesunyian. Pukul dua dinihari. Aku menyeka
sebuah luka memar di sekitar kelopak mataku dengan air hangat. Bekas luka
pukulan itu, setelah seminggu perlahan-lahan mulai hilang.
Kini aku menatap wajahku sendiri di dalam cermin. Kenapa itu kamu lakukan,
Renaldi? Kenapa kamu mati-matian membela gadis itu? Kenapa kamu tidak pernah
berkompromi kepada seseorang yang telah membuat mata bening milik gadis itu
mempunyai pesona lain dalam hatimu, Renaldi? Ataukah, kamu mempunyai perasaan
khusus pada gadis itu yang sampai saat ini masih kamu sembunyikan? Yang sampai
detik ini tidak pernah kamu ungkapkan?!
"Hei,
Janna. Kamu tahu tidak kenapa aku sampai saat ini terus memanggilmu,
Kristal?" Suatu hari enam bulan
lalu menjelang pelajaran matematika aku membisikkan kalimat itu. Janna
menatapku. "Karena aku anak Mama yang ke mana pun pergi selalu diantar dan
dijaga?" sahut Jannya yakin. Aku menggeleng sembari tersenyum. "Karena
aku merupakan kaum hawa, yang sering diidentikkan oleh kaummu sebagai penghias
dunia kan?" Janna melirikku. Membuka tas sekolah dan mengeluarkan diktat.
Aku tertawa. Lantas menggeleng. "Dih, memangnya aksesoris?"
ledekku. Janna mengernyitkan
keningnya. "Karena aku seorang
gadis yang hatinya mudah patah berkeping-keping seperti kristal?"
pancingnya, bertanya. Lagi-lagi aku
menggeleng. "Apaan dong, Re?" Janna penasaran. Menatapku beberapa
saat, menanti jawaban yang akan keluar dari mulutku. "Karena kamu
mempunyai mata bagus dan sebening kristal," jawabku kemudian sembari
menikmati mata indah milik gadis itu. Janna membelalak. Mencubitku gemas sambil
menggigit bibirnya sendiri. "Jujur, Na. Matamu bagus. Bening bak telaga.
Juga teduh. Malah kadang-kadang aku sering berkaca di bola matamu itu,"
kubiarkan wajah Janna tersipu-sipu. Tinggi semampai, wajah terkesan aristokrat,
dan bermata bagus, itu kesan pertama ketika aku mengenal Janna. Ia memang
favorit di sekolahku. Ramah dan supel. Kesannya yang cuek dan tidak pernah
memilih-milih teman, membuat Janna tumbuh menjadi cewek favorit di SMA-ku. "Kamu
tahu apa yang ada di dalam hatiku saat ini, Kristal?" Mataku menatap lurus
ke depan. Memperhatikan Pak Tito yang mulai sibuk memeriksa pe-er yang
diberikan hari kemarin. "Apa, Re?" bisik Janna lirih. "Aku tidak
ingin seorang pun yang akan melukai mata bagus itu." Aku tersenyum.
Melindungi kupingku dari cubitan Janna dengan buku diktat. "Trims, Re.
Kamu memang sahabatku yang terbaik." Tanpa melirikku, Janna meluncurkan
kalimat itu. Keakrabanku dengan Janna, sudah terjalin sejak kelas satu SMA.
Malah sebagaian teman-teman menyangka kalau Janna adalah cewekku. Tetapi aku
tidak pernah berpikir untuk itu. Tekadku waktu itu hanya satu. Aku ingin
menjadi sahabat Janna yang terbaik. Tanpa menodai rasa persahabatanku itu
dengan perasaan cinta yang sering berakhir dengan kebencian. Aku tak ingin hal
itu terjadi. Aku hanya ingin melihat mata kristal Janna itu terus bersinar
cerah. Bibir sensualnya terus berceloteh riang. Itu saja keinginanku. Meskipun
aku sempat menangkap sinyal kalau sebenarnya Janna sering memberiku lampu hijau
untuk mengubah persahabatan itu menjadi hubungan yang lebih khusus. Tetapi
ternyata aku ragu. Takut kalau suatu saat aku melukai hati Janna. Takut kalau
suat saat aku akan menorehkan sembilu di hati gadis itu dan membuat mata
kristal miliknya berubah kelabu. Sampai suatu saat Janna mengatakan padaku
kalau Bian, anak II.3.B, yang sejak kelas satu mengejarnya dengan sabar, telah
menjadi bagian dari hari-hari Janna. Setelah hal itu terjadi, di hati kecilku,
tiba-tiba kurasakan ada sesuatu yang hilang. Dan aku yakin sesuatu itu adalah
Janna.
Janna. Kamu tahu tidak kenapa aku sampai saat ini terus memanggilmu,
Kristal?" Suatu hari enam bulan
lalu menjelang pelajaran matematika aku membisikkan kalimat itu. Janna
menatapku. "Karena aku anak Mama yang ke mana pun pergi selalu diantar dan
dijaga?" sahut Jannya yakin. Aku menggeleng sembari tersenyum. "Karena
aku merupakan kaum hawa, yang sering diidentikkan oleh kaummu sebagai penghias
dunia kan?" Janna melirikku. Membuka tas sekolah dan mengeluarkan diktat.
Aku tertawa. Lantas menggeleng. "Dih, memangnya aksesoris?"
ledekku. Janna mengernyitkan
keningnya. "Karena aku seorang
gadis yang hatinya mudah patah berkeping-keping seperti kristal?"
pancingnya, bertanya. Lagi-lagi aku
menggeleng. "Apaan dong, Re?" Janna penasaran. Menatapku beberapa
saat, menanti jawaban yang akan keluar dari mulutku. "Karena kamu
mempunyai mata bagus dan sebening kristal," jawabku kemudian sembari
menikmati mata indah milik gadis itu. Janna membelalak. Mencubitku gemas sambil
menggigit bibirnya sendiri. "Jujur, Na. Matamu bagus. Bening bak telaga.
Juga teduh. Malah kadang-kadang aku sering berkaca di bola matamu itu,"
kubiarkan wajah Janna tersipu-sipu. Tinggi semampai, wajah terkesan aristokrat,
dan bermata bagus, itu kesan pertama ketika aku mengenal Janna. Ia memang
favorit di sekolahku. Ramah dan supel. Kesannya yang cuek dan tidak pernah
memilih-milih teman, membuat Janna tumbuh menjadi cewek favorit di SMA-ku. "Kamu
tahu apa yang ada di dalam hatiku saat ini, Kristal?" Mataku menatap lurus
ke depan. Memperhatikan Pak Tito yang mulai sibuk memeriksa pe-er yang
diberikan hari kemarin. "Apa, Re?" bisik Janna lirih. "Aku tidak
ingin seorang pun yang akan melukai mata bagus itu." Aku tersenyum.
Melindungi kupingku dari cubitan Janna dengan buku diktat. "Trims, Re.
Kamu memang sahabatku yang terbaik." Tanpa melirikku, Janna meluncurkan
kalimat itu. Keakrabanku dengan Janna, sudah terjalin sejak kelas satu SMA.
Malah sebagaian teman-teman menyangka kalau Janna adalah cewekku. Tetapi aku
tidak pernah berpikir untuk itu. Tekadku waktu itu hanya satu. Aku ingin
menjadi sahabat Janna yang terbaik. Tanpa menodai rasa persahabatanku itu
dengan perasaan cinta yang sering berakhir dengan kebencian. Aku tak ingin hal
itu terjadi. Aku hanya ingin melihat mata kristal Janna itu terus bersinar
cerah. Bibir sensualnya terus berceloteh riang. Itu saja keinginanku. Meskipun
aku sempat menangkap sinyal kalau sebenarnya Janna sering memberiku lampu hijau
untuk mengubah persahabatan itu menjadi hubungan yang lebih khusus. Tetapi
ternyata aku ragu. Takut kalau suatu saat aku melukai hati Janna. Takut kalau
suat saat aku akan menorehkan sembilu di hati gadis itu dan membuat mata
kristal miliknya berubah kelabu. Sampai suatu saat Janna mengatakan padaku
kalau Bian, anak II.3.B, yang sejak kelas satu mengejarnya dengan sabar, telah
menjadi bagian dari hari-hari Janna. Setelah hal itu terjadi, di hati kecilku,
tiba-tiba kurasakan ada sesuatu yang hilang. Dan aku yakin sesuatu itu adalah
Janna.
CHAPTER 2:
JANGAN
SAKITI HATINYA
JANGAN
SAKITI HATINYA
Lalu
semuanya memang berubah. Hari-hari Janna memang tak pernah tersisa lagi
untukku. Aku lebih banyak berdiam diri, dan berusaha keras untuk tidak bertegur
sapa. Hanya sesekali aku meliriknya jika kebetulan melewati meja Janna. Janna
pun demikian. Tampaknya ia tahu akan sikapku. Ia terus menghindariku. Tak
pernah lagi mengajakku ke kantin, ke perpustakaan. Aku pun maklum karena Bian
selalu ada di sampingnya. Hampir enam bulan hal itu terjadi. Sampai suatu saat
aku melihat mendung menggayut di wajah Janna. Dan hal itu membuat hati kecilku
tidak tega melihatnya "Kamu punya maslah, Kristal?" Usai pelajaran
fisika, aku menghampiri meja Janna. Mata Janna sejenak berbinar menatapku.
Sesaat kemudian mendung kembali menggelayut. "Re, kita ke kantin,
ya?" Bibir sensual itu tersenyum ragu. Ini adalah senyum pertama yang
diberikan Janna setelah sekian bulan kami tak bertegur sapa. "Kamu mau
traktir aku, Kristal?" tanyaku sembari membantu memasukkan buku-buku
pelajaran yang berceceran di meja belajarnya. "Ada yang ingin
kubicarakan," jawab Janna. Jari lentiknya menyalin rumus terakhir Teori
Einstein dari papan tulis. "Punya problem, Kristal?" tanyaku lagi.
Meraih tas sekolahnya dan memasukkan ke dalam laci meja. Janna mengangguk. "Problem
apa?" Kutatap wajah manis Janna. Ada kerinduan meledak di relung hatiku.
Mata itu, Tuhan! Betapa aku sangat merindukan itu! Tapi kenapa mata kristal itu
berubah kelabu?! "Kita bicara di kantin saja ya, Re?" rujuk Janna. "Terlalu
privacy?" Janna mengangguk lagi. "Kantin pasti ramai. Bagaimana
kalau kita ke cafe Pelangi?" "Oke, Re. Kita ke cafe," jawab
Janna seraya menggandeng tanganku keluar dari kelas.
semuanya memang berubah. Hari-hari Janna memang tak pernah tersisa lagi
untukku. Aku lebih banyak berdiam diri, dan berusaha keras untuk tidak bertegur
sapa. Hanya sesekali aku meliriknya jika kebetulan melewati meja Janna. Janna
pun demikian. Tampaknya ia tahu akan sikapku. Ia terus menghindariku. Tak
pernah lagi mengajakku ke kantin, ke perpustakaan. Aku pun maklum karena Bian
selalu ada di sampingnya. Hampir enam bulan hal itu terjadi. Sampai suatu saat
aku melihat mendung menggayut di wajah Janna. Dan hal itu membuat hati kecilku
tidak tega melihatnya "Kamu punya maslah, Kristal?" Usai pelajaran
fisika, aku menghampiri meja Janna. Mata Janna sejenak berbinar menatapku.
Sesaat kemudian mendung kembali menggelayut. "Re, kita ke kantin,
ya?" Bibir sensual itu tersenyum ragu. Ini adalah senyum pertama yang
diberikan Janna setelah sekian bulan kami tak bertegur sapa. "Kamu mau
traktir aku, Kristal?" tanyaku sembari membantu memasukkan buku-buku
pelajaran yang berceceran di meja belajarnya. "Ada yang ingin
kubicarakan," jawab Janna. Jari lentiknya menyalin rumus terakhir Teori
Einstein dari papan tulis. "Punya problem, Kristal?" tanyaku lagi.
Meraih tas sekolahnya dan memasukkan ke dalam laci meja. Janna mengangguk. "Problem
apa?" Kutatap wajah manis Janna. Ada kerinduan meledak di relung hatiku.
Mata itu, Tuhan! Betapa aku sangat merindukan itu! Tapi kenapa mata kristal itu
berubah kelabu?! "Kita bicara di kantin saja ya, Re?" rujuk Janna. "Terlalu
privacy?" Janna mengangguk lagi. "Kantin pasti ramai. Bagaimana
kalau kita ke cafe Pelangi?" "Oke, Re. Kita ke cafe," jawab
Janna seraya menggandeng tanganku keluar dari kelas.
CHAPTER 3:
CINTA
MEREKAH DI PENGHUJUNG LARA
CINTA
MEREKAH DI PENGHUJUNG LARA
Cafe Pelangi
terletak persis di seberang jalan dari sekolahku. Cafe mungil
itu merupakan tempat favorit yang kusinggahi bersama Janna. Tempatnya asri. Ada
musik lembut dari tiupan saksofon Kenny G., yang kadang-kadang diselingi
hentakan cadas kelompok band Linkin Park. Aku sengaja memilih tempat di sudut cafe. Hanya
ada seorang pengunjung yang terlihat santai menikmati jus apel dan sebatang
rokok. Lelaki separo baya itu terlihat santai dengan dunianya. Sesekali
menyedot sigaret di bibirnya lalu asapnya dihembuskan ke langit-langit cafe. Asap
rokok itu melayang-layang sejenak lalu melesat dan lenyap lewat jendela cafe. "Kamu
mau pesan apa, Kristal?" Aku mulai membuka-buka daftar menu yang
tergeletak di atas meja.
"Kamu masih memanggilku Kristal, Re?" Aku tersenyum. "Aku akan
terus memanggilmu, Kristal," sahutku. Menelusuri wajah aristokrat yang
telah berbulan-bulan tidak pernah lagi kutatap. "Oya, mau pesan apa?"
"Aku tidak pesan apa-apa, Re," sahut Janna. "Teh botol,
ya?" tawarku. "Terserah kamu saja." Aku memesan dua teh botol
dan dua bungkus kentang goreng.
"Sekarang kamu ingin membicarakan apa?" Aku memulai pembicaraan
serius usai menyerahkan pesanan kepada pelayan. Janna menatapku sejenak. Gadis
itu masih terlihat ragu-ragu untuk mengungkapkan masalahnya. "Soal Bian,
Re." Akhirnya bibir sensual itu terbuka dengan berat.
"Bian?" Janna mengangguk. Teh botol dan kentang goreng pesanan tiba
di meja kami. "Ada apa dengan Bian?" tanyaku serius. Janna menatapku
dengan wajah murung.
"Dia selingkuh, Re." Bibir sensualnya bergetar. Dua butir bening
menggelinding dari matanya. Merembes lamat di kedua pipinya yang putih. Sesuatu
mengiris ulu hatiku! Aku mengambil tisyu dan mengeringkan cairan bening itu
dari pipinya. "Aku sedih mendengarnya. Kamu tahu, Kristal. Aku kadang sering
berdoa agar hubungan kamu dengan Bian abadi," kalimatku mengambang. Aku
menjangkau teh botol dan membasahi kerongkonganku dengan cairan manis itu. Janna
menatapku tak berkedip. "Aku sendiri tidak tahu, Re. Kenapa Bian tega
melakukan itu." Ada isak tangis di sela-sela kalimat Janna. "Kamu
yakin Bian mengkhianati kamu?" "Aku memergoki sendiri, Bian berjalan
dengan mesra dengan seorang cewek." "Mungkin itu saudaranya?"
"Bukan, Re. Saat itu juga aku menghampiri Bian. Dan Bian mengatakan kalau
sebenarnya dia tidak mencintai aku!" Aku tersedak. "Begitu?!" "Ya,
Re. Menyakitkan. Aku seperti sampah tak berguna di depan cewek Bian yang baru.
Aku malu, Re." Kini aliran sungai dari kelopak mata itu mengalir deras. "Berarti
Bian itu berengsek, Kristal! Dan, aku ingin memberi pelajaran padanya!"
Sesuatu meledak di hatiku, memaksaku mengatupkan geraham dan mengepalkan tangan
dengan keras. "Ja-jangan, Re!" "Kristal, aku pernah berjanji,
aku tidak ingin siapa pun melukai hatimu!" "Aku tahu, Re. Tapi bukan
itu yang aku inginkan." Janna menghela napas. Di luar cafe, angin
bergerak gemulai. Menggoyang-goyangkan pucuk flamboyan dengan sesekali
menerbangkan bunga-bunga dari rantingnya. "Aku hanya ingin meminta maaf,
Re. Selama ini aku telah membuat jarak dengan kamu," ucap Janna lembut.
Menatapku untuk beberapa saat dengan mimik bersalah. "Lupakanlah, Kristal.
Aku maklum." "Kamu masih menganggap aku sahabat, Re?" Janna menatapku
dengan sungguh-sungguh. Aku mengangguk. "Kamu masih sahabatku yang
terbaik, Kristal." Sesuatu kembali berkelebat di kelopak mata Janna. Mata
bening itu kembali bersinar ceria. Dan aku menikmatinya.
terletak persis di seberang jalan dari sekolahku. Cafe mungil
itu merupakan tempat favorit yang kusinggahi bersama Janna. Tempatnya asri. Ada
musik lembut dari tiupan saksofon Kenny G., yang kadang-kadang diselingi
hentakan cadas kelompok band Linkin Park. Aku sengaja memilih tempat di sudut cafe. Hanya
ada seorang pengunjung yang terlihat santai menikmati jus apel dan sebatang
rokok. Lelaki separo baya itu terlihat santai dengan dunianya. Sesekali
menyedot sigaret di bibirnya lalu asapnya dihembuskan ke langit-langit cafe. Asap
rokok itu melayang-layang sejenak lalu melesat dan lenyap lewat jendela cafe. "Kamu
mau pesan apa, Kristal?" Aku mulai membuka-buka daftar menu yang
tergeletak di atas meja.
"Kamu masih memanggilku Kristal, Re?" Aku tersenyum. "Aku akan
terus memanggilmu, Kristal," sahutku. Menelusuri wajah aristokrat yang
telah berbulan-bulan tidak pernah lagi kutatap. "Oya, mau pesan apa?"
"Aku tidak pesan apa-apa, Re," sahut Janna. "Teh botol,
ya?" tawarku. "Terserah kamu saja." Aku memesan dua teh botol
dan dua bungkus kentang goreng.
"Sekarang kamu ingin membicarakan apa?" Aku memulai pembicaraan
serius usai menyerahkan pesanan kepada pelayan. Janna menatapku sejenak. Gadis
itu masih terlihat ragu-ragu untuk mengungkapkan masalahnya. "Soal Bian,
Re." Akhirnya bibir sensual itu terbuka dengan berat.
"Bian?" Janna mengangguk. Teh botol dan kentang goreng pesanan tiba
di meja kami. "Ada apa dengan Bian?" tanyaku serius. Janna menatapku
dengan wajah murung.
"Dia selingkuh, Re." Bibir sensualnya bergetar. Dua butir bening
menggelinding dari matanya. Merembes lamat di kedua pipinya yang putih. Sesuatu
mengiris ulu hatiku! Aku mengambil tisyu dan mengeringkan cairan bening itu
dari pipinya. "Aku sedih mendengarnya. Kamu tahu, Kristal. Aku kadang sering
berdoa agar hubungan kamu dengan Bian abadi," kalimatku mengambang. Aku
menjangkau teh botol dan membasahi kerongkonganku dengan cairan manis itu. Janna
menatapku tak berkedip. "Aku sendiri tidak tahu, Re. Kenapa Bian tega
melakukan itu." Ada isak tangis di sela-sela kalimat Janna. "Kamu
yakin Bian mengkhianati kamu?" "Aku memergoki sendiri, Bian berjalan
dengan mesra dengan seorang cewek." "Mungkin itu saudaranya?"
"Bukan, Re. Saat itu juga aku menghampiri Bian. Dan Bian mengatakan kalau
sebenarnya dia tidak mencintai aku!" Aku tersedak. "Begitu?!" "Ya,
Re. Menyakitkan. Aku seperti sampah tak berguna di depan cewek Bian yang baru.
Aku malu, Re." Kini aliran sungai dari kelopak mata itu mengalir deras. "Berarti
Bian itu berengsek, Kristal! Dan, aku ingin memberi pelajaran padanya!"
Sesuatu meledak di hatiku, memaksaku mengatupkan geraham dan mengepalkan tangan
dengan keras. "Ja-jangan, Re!" "Kristal, aku pernah berjanji,
aku tidak ingin siapa pun melukai hatimu!" "Aku tahu, Re. Tapi bukan
itu yang aku inginkan." Janna menghela napas. Di luar cafe, angin
bergerak gemulai. Menggoyang-goyangkan pucuk flamboyan dengan sesekali
menerbangkan bunga-bunga dari rantingnya. "Aku hanya ingin meminta maaf,
Re. Selama ini aku telah membuat jarak dengan kamu," ucap Janna lembut.
Menatapku untuk beberapa saat dengan mimik bersalah. "Lupakanlah, Kristal.
Aku maklum." "Kamu masih menganggap aku sahabat, Re?" Janna menatapku
dengan sungguh-sungguh. Aku mengangguk. "Kamu masih sahabatku yang
terbaik, Kristal." Sesuatu kembali berkelebat di kelopak mata Janna. Mata
bening itu kembali bersinar ceria. Dan aku menikmatinya.
CHAPTER 4:
SESUNGGUHNYA
AKU CINTA KAMU
SESUNGGUHNYA
AKU CINTA KAMU
Siang,
sepulang sekolah aku sengaja meninggalkan Janna. Bersembunyi di kantin lalu
menunggu kelas Bian bubaran. Aku telah berjanji akan memberi pelajaran buat
Bian yang sok playboy. Yang telah dengan lancang dan sengaja mencampakkan cinta tulus
Janna. Tepat pukul satu kelas Bian bubaran. Buru-buru aku berlari dan menjejeri
langkah cowok bertubuh gempal itu.
"Kenapa kamu khianati, Janna?!" Aku cegat langkah Bian. Wajah cowok
itu tersentak, sejenak, lalu menghentikan langkahnya. Ditatapnya mataku tajam,
lantas tersenyum dengan pongah.
Ya, Tuhan! Rasa-rasanya ingin kulayangkan sebuah tinju ke hidungnya yang
bangir! "Kamu ingin menjadi pahlawan?" lontarnya seringan kapas. Teman-teman
sekelas Bian mengerubuti aku.
"Pukul, Bi!" teriak salah seorang teman Bian yang berdiri di sisi
Bian. "Hajar!" Satu lagi kawan sekelas Bian membakar hati Bian. Tanpa
diselingi teriakan yang ketiga, Bian si Jagoan Sekolah melayangkan pukulan yang
sangat keras ke wajahku. Aku terhuyung sesaat karena tidak menyangka Bian akan
bergerak secepat itu. Beruntung sebuah tiang menahan tubuhku. Lalu aku
membalas, menghajar Bian dengan tendangan kempo. Bian terhempas oleh cangkungan
kakiku tadi, tampak meringis berusaha menahan sakit. Namun secepat kilat
tubuhnya yang gempal itu menerkam aku. Siswi-siswi yang melihat adegan itu
menjerit-jerit ketakutan. Napasku tersengal saat tubuh kekar Bian menghimpitku.
Berkali-kali bogem mentah miliknya hinggap di wajahku. Sampai suatu saat
beberapa guru memisahkan perkelahian satu lawan satu itu. Akhirnya, Bian dan
aku diskors satu minggu akibat perkelahian memalukan itu! Namun aku tidak
menyesal, meski harus dikeluarkan dari sekolah sekalipun! Membela dan
melindungi Janna adalah harkat tertinggi dalam hidupku. Aku tidak ingin ada
orang yang menyakiti hatinya. Tidak siapa pun!
sepulang sekolah aku sengaja meninggalkan Janna. Bersembunyi di kantin lalu
menunggu kelas Bian bubaran. Aku telah berjanji akan memberi pelajaran buat
Bian yang sok playboy. Yang telah dengan lancang dan sengaja mencampakkan cinta tulus
Janna. Tepat pukul satu kelas Bian bubaran. Buru-buru aku berlari dan menjejeri
langkah cowok bertubuh gempal itu.
"Kenapa kamu khianati, Janna?!" Aku cegat langkah Bian. Wajah cowok
itu tersentak, sejenak, lalu menghentikan langkahnya. Ditatapnya mataku tajam,
lantas tersenyum dengan pongah.
Ya, Tuhan! Rasa-rasanya ingin kulayangkan sebuah tinju ke hidungnya yang
bangir! "Kamu ingin menjadi pahlawan?" lontarnya seringan kapas. Teman-teman
sekelas Bian mengerubuti aku.
"Pukul, Bi!" teriak salah seorang teman Bian yang berdiri di sisi
Bian. "Hajar!" Satu lagi kawan sekelas Bian membakar hati Bian. Tanpa
diselingi teriakan yang ketiga, Bian si Jagoan Sekolah melayangkan pukulan yang
sangat keras ke wajahku. Aku terhuyung sesaat karena tidak menyangka Bian akan
bergerak secepat itu. Beruntung sebuah tiang menahan tubuhku. Lalu aku
membalas, menghajar Bian dengan tendangan kempo. Bian terhempas oleh cangkungan
kakiku tadi, tampak meringis berusaha menahan sakit. Namun secepat kilat
tubuhnya yang gempal itu menerkam aku. Siswi-siswi yang melihat adegan itu
menjerit-jerit ketakutan. Napasku tersengal saat tubuh kekar Bian menghimpitku.
Berkali-kali bogem mentah miliknya hinggap di wajahku. Sampai suatu saat
beberapa guru memisahkan perkelahian satu lawan satu itu. Akhirnya, Bian dan
aku diskors satu minggu akibat perkelahian memalukan itu! Namun aku tidak
menyesal, meski harus dikeluarkan dari sekolah sekalipun! Membela dan
melindungi Janna adalah harkat tertinggi dalam hidupku. Aku tidak ingin ada
orang yang menyakiti hatinya. Tidak siapa pun!
Jam di
ruang tengah berdentang satu kali. Aku melirik jam di dinding kamarku. Pukul
setengah tiga dinihari. Kini mataku tertuju pada sebuah foto yang kupasang di
dinding kamarku.
Foto Janna yang sengaja aku perbesar dan menjadi hiasan manis di kamarku. Kutatap
untuk beberapa saat sampai hatiku berbisik: 'Tuhan, apakah aku mencintainya?!'
ruang tengah berdentang satu kali. Aku melirik jam di dinding kamarku. Pukul
setengah tiga dinihari. Kini mataku tertuju pada sebuah foto yang kupasang di
dinding kamarku.
Foto Janna yang sengaja aku perbesar dan menjadi hiasan manis di kamarku. Kutatap
untuk beberapa saat sampai hatiku berbisik: 'Tuhan, apakah aku mencintainya?!'
CHAPTER 5:
SAMA-SAMA
CINTA
SAMA-SAMA
CINTA
Mula-mula
sinar matahari pagi yang menyentuh mataku. Kepalaku terasa berat karena aku
tidur terlambat. Hari Sabtu ini aku memang tidak masuk sekolah. Ini hari
terakhir masa skorsku.
Aku bangkit dari ranjangku, dan sudut mataku tertumpu pada makhluk manis dengan
seragam putih abu-abu sedang duduk di meja belajarku. "Kristal?!"
Mataku membelalak tak percaya.Janna tersenyum. "Sudah bangun, Re?"
tanyanya sembari tersenyum. "Kamu tidak sekolah?" tanyaku heran. Janna
menggelengkan kepala. "Tadi ke sekolah sebentar. Tapi ada acara kerja
bakti. Aku telepon ke sini. Kata Mama kamu, kamu belum bangun. Lalu, aku minta
izin sama guru piket mengurai dalih sedang ada urusan keluarga, tidak ikut kerja
bakti. Lalu, jadilah aku kemari," urai Janna ceria, mengangkat bahunya
mengaba 'tidak apa-apa, kan?'. Mata beningnya bergerak indah. Menatap sesuatu
yang tertempel di dinding kamarku.
Aku mengikuti pandangan mata kristal itu. Dan mukaku merah. Aku telah melakukan
kebodohan. Foto besar Janna yang tertempel di dinding itu lupa kusimpan — tentu
saja, karena siapa yang menyangka cewek itu akan datang mendadak lantas duduk
sekarang di hadapanku!
"Mungkin kamu tidak akan percaya, Re, kalau aku juga menempel foto kamu di
dinding kamarku," ungkap Janna dengan suara tertahan. Pipinya nampak
memerah. Tetapi dia cepat mengalihkan paras wajahnya yang 'malu' itu dengan
bergerak ke arah jendela, menarik gordin dan mementangkan daun jendela. Angin
pagi yang sejuk menerobos masuk ke dalam kamarku yang mungil. Aku terdiam,
terkesima dengan pengungkapannya yang jujur. "Selama ini kita sama-sama muna kan,
Re?!" Janna mengalihkan pandangannya dari jendela ke wajahku. Aku
tertunduk. Tak berani menatap sepasang bola mata kristalnya yang tengah
memancarkan kesungguhan. "Aku takut melukai hati kamu, Kristal! Untuk itu,
aku tidak pernah mengingkan sesuatu hal yang lebih dari sekadar persahabatan.
Meskipun sebenarnya aku...." "Kamu tidak pernah berterus terang,
Re!" "Sori, Re. Aku...." "Kamu mencintai aku kan,
Re?!" Janna berjalan mendekatiku, duduk di samping saat tiba di gigir
ranjang. Aku terkesiap. Tak mampu mengeluarkan sepatah kata pun. Aku memang
pengecut. Tidak pernah jujur dengan isi hatiku sendiri sehingga menciptakan
tirai maya yang memenjarakan aku dalam siksaan yang luar biasa sakitnya.
"Ak-aku...." "Tak perlu kamu katakan, Re! Dari sikapmu,
tatapanmu, aku tahu kalau sebenarnya kamu mencintaiku!" Mata beningnya
menatapku tajam. Aku mengangkat wajah. Mencoba membalas tatapannya yang tulus.
Dan beberapa saat kemudian kami saling berpandangan. Lama. Lama sekali.
Tiba-tiba ada senandung indah menggelepar di ruang hatiku. Senandung cintakah
itu? Aku tersenyum. Menikmati kerjapan bening mata kristal milik Janna, dan
membiarkan senandung cinta itu mengalun indah di hatiku. Indah, seindah mata
kristalnya.
sinar matahari pagi yang menyentuh mataku. Kepalaku terasa berat karena aku
tidur terlambat. Hari Sabtu ini aku memang tidak masuk sekolah. Ini hari
terakhir masa skorsku.
Aku bangkit dari ranjangku, dan sudut mataku tertumpu pada makhluk manis dengan
seragam putih abu-abu sedang duduk di meja belajarku. "Kristal?!"
Mataku membelalak tak percaya.Janna tersenyum. "Sudah bangun, Re?"
tanyanya sembari tersenyum. "Kamu tidak sekolah?" tanyaku heran. Janna
menggelengkan kepala. "Tadi ke sekolah sebentar. Tapi ada acara kerja
bakti. Aku telepon ke sini. Kata Mama kamu, kamu belum bangun. Lalu, aku minta
izin sama guru piket mengurai dalih sedang ada urusan keluarga, tidak ikut kerja
bakti. Lalu, jadilah aku kemari," urai Janna ceria, mengangkat bahunya
mengaba 'tidak apa-apa, kan?'. Mata beningnya bergerak indah. Menatap sesuatu
yang tertempel di dinding kamarku.
Aku mengikuti pandangan mata kristal itu. Dan mukaku merah. Aku telah melakukan
kebodohan. Foto besar Janna yang tertempel di dinding itu lupa kusimpan — tentu
saja, karena siapa yang menyangka cewek itu akan datang mendadak lantas duduk
sekarang di hadapanku!
"Mungkin kamu tidak akan percaya, Re, kalau aku juga menempel foto kamu di
dinding kamarku," ungkap Janna dengan suara tertahan. Pipinya nampak
memerah. Tetapi dia cepat mengalihkan paras wajahnya yang 'malu' itu dengan
bergerak ke arah jendela, menarik gordin dan mementangkan daun jendela. Angin
pagi yang sejuk menerobos masuk ke dalam kamarku yang mungil. Aku terdiam,
terkesima dengan pengungkapannya yang jujur. "Selama ini kita sama-sama muna kan,
Re?!" Janna mengalihkan pandangannya dari jendela ke wajahku. Aku
tertunduk. Tak berani menatap sepasang bola mata kristalnya yang tengah
memancarkan kesungguhan. "Aku takut melukai hati kamu, Kristal! Untuk itu,
aku tidak pernah mengingkan sesuatu hal yang lebih dari sekadar persahabatan.
Meskipun sebenarnya aku...." "Kamu tidak pernah berterus terang,
Re!" "Sori, Re. Aku...." "Kamu mencintai aku kan,
Re?!" Janna berjalan mendekatiku, duduk di samping saat tiba di gigir
ranjang. Aku terkesiap. Tak mampu mengeluarkan sepatah kata pun. Aku memang
pengecut. Tidak pernah jujur dengan isi hatiku sendiri sehingga menciptakan
tirai maya yang memenjarakan aku dalam siksaan yang luar biasa sakitnya.
"Ak-aku...." "Tak perlu kamu katakan, Re! Dari sikapmu,
tatapanmu, aku tahu kalau sebenarnya kamu mencintaiku!" Mata beningnya
menatapku tajam. Aku mengangkat wajah. Mencoba membalas tatapannya yang tulus.
Dan beberapa saat kemudian kami saling berpandangan. Lama. Lama sekali.
Tiba-tiba ada senandung indah menggelepar di ruang hatiku. Senandung cintakah
itu? Aku tersenyum. Menikmati kerjapan bening mata kristal milik Janna, dan
membiarkan senandung cinta itu mengalun indah di hatiku. Indah, seindah mata
kristalnya.
CHAPTER 1:
SEINDAH MATA KRISTALNYA
Malam
bergulir perlahan. Detak jarum jam dinding di kamarku terdengar jelas. Kota
Jakarta terlelap dalam tidur. Hanya sesekali terdengar raungan kendaraan.
Menggerung keras lalu lenyap ditelan kesunyian. Pukul dua dinihari. Aku menyeka
sebuah luka memar di sekitar kelopak mataku dengan air hangat. Bekas luka
pukulan itu, setelah seminggu perlahan-lahan mulai hilang.
Kini aku menatap wajahku sendiri di dalam cermin. Kenapa itu kamu lakukan,
Renaldi? Kenapa kamu mati-matian membela gadis itu? Kenapa kamu tidak pernah
berkompromi kepada seseorang yang telah membuat mata bening milik gadis itu
mempunyai pesona lain dalam hatimu, Renaldi? Ataukah, kamu mempunyai perasaan
khusus pada gadis itu yang sampai saat ini masih kamu sembunyikan? Yang sampai
detik ini tidak pernah kamu ungkapkan?!
bergulir perlahan. Detak jarum jam dinding di kamarku terdengar jelas. Kota
Jakarta terlelap dalam tidur. Hanya sesekali terdengar raungan kendaraan.
Menggerung keras lalu lenyap ditelan kesunyian. Pukul dua dinihari. Aku menyeka
sebuah luka memar di sekitar kelopak mataku dengan air hangat. Bekas luka
pukulan itu, setelah seminggu perlahan-lahan mulai hilang.
Kini aku menatap wajahku sendiri di dalam cermin. Kenapa itu kamu lakukan,
Renaldi? Kenapa kamu mati-matian membela gadis itu? Kenapa kamu tidak pernah
berkompromi kepada seseorang yang telah membuat mata bening milik gadis itu
mempunyai pesona lain dalam hatimu, Renaldi? Ataukah, kamu mempunyai perasaan
khusus pada gadis itu yang sampai saat ini masih kamu sembunyikan? Yang sampai
detik ini tidak pernah kamu ungkapkan?!
"Hei,
Janna. Kamu tahu tidak kenapa aku sampai saat ini terus memanggilmu,
Kristal?" Suatu hari enam bulan
lalu menjelang pelajaran matematika aku membisikkan kalimat itu. Janna
menatapku. "Karena aku anak Mama yang ke mana pun pergi selalu diantar dan
dijaga?" sahut Jannya yakin. Aku menggeleng sembari tersenyum. "Karena
aku merupakan kaum hawa, yang sering diidentikkan oleh kaummu sebagai penghias
dunia kan?" Janna melirikku. Membuka tas sekolah dan mengeluarkan diktat.
Aku tertawa. Lantas menggeleng. "Dih, memangnya aksesoris?"
ledekku. Janna mengernyitkan
keningnya. "Karena aku seorang
gadis yang hatinya mudah patah berkeping-keping seperti kristal?"
pancingnya, bertanya. Lagi-lagi aku
menggeleng. "Apaan dong, Re?" Janna penasaran. Menatapku beberapa
saat, menanti jawaban yang akan keluar dari mulutku. "Karena kamu
mempunyai mata bagus dan sebening kristal," jawabku kemudian sembari
menikmati mata indah milik gadis itu. Janna membelalak. Mencubitku gemas sambil
menggigit bibirnya sendiri. "Jujur, Na. Matamu bagus. Bening bak telaga.
Juga teduh. Malah kadang-kadang aku sering berkaca di bola matamu itu,"
kubiarkan wajah Janna tersipu-sipu. Tinggi semampai, wajah terkesan aristokrat,
dan bermata bagus, itu kesan pertama ketika aku mengenal Janna. Ia memang
favorit di sekolahku. Ramah dan supel. Kesannya yang cuek dan tidak pernah
memilih-milih teman, membuat Janna tumbuh menjadi cewek favorit di SMA-ku. "Kamu
tahu apa yang ada di dalam hatiku saat ini, Kristal?" Mataku menatap lurus
ke depan. Memperhatikan Pak Tito yang mulai sibuk memeriksa pe-er yang
diberikan hari kemarin. "Apa, Re?" bisik Janna lirih. "Aku tidak
ingin seorang pun yang akan melukai mata bagus itu." Aku tersenyum.
Melindungi kupingku dari cubitan Janna dengan buku diktat. "Trims, Re.
Kamu memang sahabatku yang terbaik." Tanpa melirikku, Janna meluncurkan
kalimat itu. Keakrabanku dengan Janna, sudah terjalin sejak kelas satu SMA.
Malah sebagaian teman-teman menyangka kalau Janna adalah cewekku. Tetapi aku
tidak pernah berpikir untuk itu. Tekadku waktu itu hanya satu. Aku ingin
menjadi sahabat Janna yang terbaik. Tanpa menodai rasa persahabatanku itu
dengan perasaan cinta yang sering berakhir dengan kebencian. Aku tak ingin hal
itu terjadi. Aku hanya ingin melihat mata kristal Janna itu terus bersinar
cerah. Bibir sensualnya terus berceloteh riang. Itu saja keinginanku. Meskipun
aku sempat menangkap sinyal kalau sebenarnya Janna sering memberiku lampu hijau
untuk mengubah persahabatan itu menjadi hubungan yang lebih khusus. Tetapi
ternyata aku ragu. Takut kalau suatu saat aku melukai hati Janna. Takut kalau
suat saat aku akan menorehkan sembilu di hati gadis itu dan membuat mata
kristal miliknya berubah kelabu. Sampai suatu saat Janna mengatakan padaku
kalau Bian, anak II.3.B, yang sejak kelas satu mengejarnya dengan sabar, telah
menjadi bagian dari hari-hari Janna. Setelah hal itu terjadi, di hati kecilku,
tiba-tiba kurasakan ada sesuatu yang hilang. Dan aku yakin sesuatu itu adalah
Janna.
Janna. Kamu tahu tidak kenapa aku sampai saat ini terus memanggilmu,
Kristal?" Suatu hari enam bulan
lalu menjelang pelajaran matematika aku membisikkan kalimat itu. Janna
menatapku. "Karena aku anak Mama yang ke mana pun pergi selalu diantar dan
dijaga?" sahut Jannya yakin. Aku menggeleng sembari tersenyum. "Karena
aku merupakan kaum hawa, yang sering diidentikkan oleh kaummu sebagai penghias
dunia kan?" Janna melirikku. Membuka tas sekolah dan mengeluarkan diktat.
Aku tertawa. Lantas menggeleng. "Dih, memangnya aksesoris?"
ledekku. Janna mengernyitkan
keningnya. "Karena aku seorang
gadis yang hatinya mudah patah berkeping-keping seperti kristal?"
pancingnya, bertanya. Lagi-lagi aku
menggeleng. "Apaan dong, Re?" Janna penasaran. Menatapku beberapa
saat, menanti jawaban yang akan keluar dari mulutku. "Karena kamu
mempunyai mata bagus dan sebening kristal," jawabku kemudian sembari
menikmati mata indah milik gadis itu. Janna membelalak. Mencubitku gemas sambil
menggigit bibirnya sendiri. "Jujur, Na. Matamu bagus. Bening bak telaga.
Juga teduh. Malah kadang-kadang aku sering berkaca di bola matamu itu,"
kubiarkan wajah Janna tersipu-sipu. Tinggi semampai, wajah terkesan aristokrat,
dan bermata bagus, itu kesan pertama ketika aku mengenal Janna. Ia memang
favorit di sekolahku. Ramah dan supel. Kesannya yang cuek dan tidak pernah
memilih-milih teman, membuat Janna tumbuh menjadi cewek favorit di SMA-ku. "Kamu
tahu apa yang ada di dalam hatiku saat ini, Kristal?" Mataku menatap lurus
ke depan. Memperhatikan Pak Tito yang mulai sibuk memeriksa pe-er yang
diberikan hari kemarin. "Apa, Re?" bisik Janna lirih. "Aku tidak
ingin seorang pun yang akan melukai mata bagus itu." Aku tersenyum.
Melindungi kupingku dari cubitan Janna dengan buku diktat. "Trims, Re.
Kamu memang sahabatku yang terbaik." Tanpa melirikku, Janna meluncurkan
kalimat itu. Keakrabanku dengan Janna, sudah terjalin sejak kelas satu SMA.
Malah sebagaian teman-teman menyangka kalau Janna adalah cewekku. Tetapi aku
tidak pernah berpikir untuk itu. Tekadku waktu itu hanya satu. Aku ingin
menjadi sahabat Janna yang terbaik. Tanpa menodai rasa persahabatanku itu
dengan perasaan cinta yang sering berakhir dengan kebencian. Aku tak ingin hal
itu terjadi. Aku hanya ingin melihat mata kristal Janna itu terus bersinar
cerah. Bibir sensualnya terus berceloteh riang. Itu saja keinginanku. Meskipun
aku sempat menangkap sinyal kalau sebenarnya Janna sering memberiku lampu hijau
untuk mengubah persahabatan itu menjadi hubungan yang lebih khusus. Tetapi
ternyata aku ragu. Takut kalau suatu saat aku melukai hati Janna. Takut kalau
suat saat aku akan menorehkan sembilu di hati gadis itu dan membuat mata
kristal miliknya berubah kelabu. Sampai suatu saat Janna mengatakan padaku
kalau Bian, anak II.3.B, yang sejak kelas satu mengejarnya dengan sabar, telah
menjadi bagian dari hari-hari Janna. Setelah hal itu terjadi, di hati kecilku,
tiba-tiba kurasakan ada sesuatu yang hilang. Dan aku yakin sesuatu itu adalah
Janna.
CHAPTER 2:
JANGAN
SAKITI HATINYA
JANGAN
SAKITI HATINYA
Lalu
semuanya memang berubah. Hari-hari Janna memang tak pernah tersisa lagi
untukku. Aku lebih banyak berdiam diri, dan berusaha keras untuk tidak bertegur
sapa. Hanya sesekali aku meliriknya jika kebetulan melewati meja Janna. Janna
pun demikian. Tampaknya ia tahu akan sikapku. Ia terus menghindariku. Tak
pernah lagi mengajakku ke kantin, ke perpustakaan. Aku pun maklum karena Bian
selalu ada di sampingnya. Hampir enam bulan hal itu terjadi. Sampai suatu saat
aku melihat mendung menggayut di wajah Janna. Dan hal itu membuat hati kecilku
tidak tega melihatnya "Kamu punya maslah, Kristal?" Usai pelajaran
fisika, aku menghampiri meja Janna. Mata Janna sejenak berbinar menatapku.
Sesaat kemudian mendung kembali menggelayut. "Re, kita ke kantin,
ya?" Bibir sensual itu tersenyum ragu. Ini adalah senyum pertama yang
diberikan Janna setelah sekian bulan kami tak bertegur sapa. "Kamu mau
traktir aku, Kristal?" tanyaku sembari membantu memasukkan buku-buku
pelajaran yang berceceran di meja belajarnya. "Ada yang ingin
kubicarakan," jawab Janna. Jari lentiknya menyalin rumus terakhir Teori
Einstein dari papan tulis. "Punya problem, Kristal?" tanyaku lagi.
Meraih tas sekolahnya dan memasukkan ke dalam laci meja. Janna mengangguk. "Problem
apa?" Kutatap wajah manis Janna. Ada kerinduan meledak di relung hatiku.
Mata itu, Tuhan! Betapa aku sangat merindukan itu! Tapi kenapa mata kristal itu
berubah kelabu?! "Kita bicara di kantin saja ya, Re?" rujuk Janna. "Terlalu
privacy?" Janna mengangguk lagi. "Kantin pasti ramai. Bagaimana
kalau kita ke cafe Pelangi?" "Oke, Re. Kita ke cafe," jawab
Janna seraya menggandeng tanganku keluar dari kelas.
semuanya memang berubah. Hari-hari Janna memang tak pernah tersisa lagi
untukku. Aku lebih banyak berdiam diri, dan berusaha keras untuk tidak bertegur
sapa. Hanya sesekali aku meliriknya jika kebetulan melewati meja Janna. Janna
pun demikian. Tampaknya ia tahu akan sikapku. Ia terus menghindariku. Tak
pernah lagi mengajakku ke kantin, ke perpustakaan. Aku pun maklum karena Bian
selalu ada di sampingnya. Hampir enam bulan hal itu terjadi. Sampai suatu saat
aku melihat mendung menggayut di wajah Janna. Dan hal itu membuat hati kecilku
tidak tega melihatnya "Kamu punya maslah, Kristal?" Usai pelajaran
fisika, aku menghampiri meja Janna. Mata Janna sejenak berbinar menatapku.
Sesaat kemudian mendung kembali menggelayut. "Re, kita ke kantin,
ya?" Bibir sensual itu tersenyum ragu. Ini adalah senyum pertama yang
diberikan Janna setelah sekian bulan kami tak bertegur sapa. "Kamu mau
traktir aku, Kristal?" tanyaku sembari membantu memasukkan buku-buku
pelajaran yang berceceran di meja belajarnya. "Ada yang ingin
kubicarakan," jawab Janna. Jari lentiknya menyalin rumus terakhir Teori
Einstein dari papan tulis. "Punya problem, Kristal?" tanyaku lagi.
Meraih tas sekolahnya dan memasukkan ke dalam laci meja. Janna mengangguk. "Problem
apa?" Kutatap wajah manis Janna. Ada kerinduan meledak di relung hatiku.
Mata itu, Tuhan! Betapa aku sangat merindukan itu! Tapi kenapa mata kristal itu
berubah kelabu?! "Kita bicara di kantin saja ya, Re?" rujuk Janna. "Terlalu
privacy?" Janna mengangguk lagi. "Kantin pasti ramai. Bagaimana
kalau kita ke cafe Pelangi?" "Oke, Re. Kita ke cafe," jawab
Janna seraya menggandeng tanganku keluar dari kelas.
CHAPTER 3:
CINTA
MEREKAH DI PENGHUJUNG LARA
CINTA
MEREKAH DI PENGHUJUNG LARA
Cafe Pelangi
terletak persis di seberang jalan dari sekolahku. Cafe mungil
itu merupakan tempat favorit yang kusinggahi bersama Janna. Tempatnya asri. Ada
musik lembut dari tiupan saksofon Kenny G., yang kadang-kadang diselingi
hentakan cadas kelompok band Linkin Park. Aku sengaja memilih tempat di sudut cafe. Hanya
ada seorang pengunjung yang terlihat santai menikmati jus apel dan sebatang
rokok. Lelaki separo baya itu terlihat santai dengan dunianya. Sesekali
menyedot sigaret di bibirnya lalu asapnya dihembuskan ke langit-langit cafe. Asap
rokok itu melayang-layang sejenak lalu melesat dan lenyap lewat jendela cafe. "Kamu
mau pesan apa, Kristal?" Aku mulai membuka-buka daftar menu yang
tergeletak di atas meja.
"Kamu masih memanggilku Kristal, Re?" Aku tersenyum. "Aku akan
terus memanggilmu, Kristal," sahutku. Menelusuri wajah aristokrat yang
telah berbulan-bulan tidak pernah lagi kutatap. "Oya, mau pesan apa?"
"Aku tidak pesan apa-apa, Re," sahut Janna. "Teh botol,
ya?" tawarku. "Terserah kamu saja." Aku memesan dua teh botol
dan dua bungkus kentang goreng.
"Sekarang kamu ingin membicarakan apa?" Aku memulai pembicaraan
serius usai menyerahkan pesanan kepada pelayan. Janna menatapku sejenak. Gadis
itu masih terlihat ragu-ragu untuk mengungkapkan masalahnya. "Soal Bian,
Re." Akhirnya bibir sensual itu terbuka dengan berat.
"Bian?" Janna mengangguk. Teh botol dan kentang goreng pesanan tiba
di meja kami. "Ada apa dengan Bian?" tanyaku serius. Janna menatapku
dengan wajah murung.
"Dia selingkuh, Re." Bibir sensualnya bergetar. Dua butir bening
menggelinding dari matanya. Merembes lamat di kedua pipinya yang putih. Sesuatu
mengiris ulu hatiku! Aku mengambil tisyu dan mengeringkan cairan bening itu
dari pipinya. "Aku sedih mendengarnya. Kamu tahu, Kristal. Aku kadang sering
berdoa agar hubungan kamu dengan Bian abadi," kalimatku mengambang. Aku
menjangkau teh botol dan membasahi kerongkonganku dengan cairan manis itu. Janna
menatapku tak berkedip. "Aku sendiri tidak tahu, Re. Kenapa Bian tega
melakukan itu." Ada isak tangis di sela-sela kalimat Janna. "Kamu
yakin Bian mengkhianati kamu?" "Aku memergoki sendiri, Bian berjalan
dengan mesra dengan seorang cewek." "Mungkin itu saudaranya?"
"Bukan, Re. Saat itu juga aku menghampiri Bian. Dan Bian mengatakan kalau
sebenarnya dia tidak mencintai aku!" Aku tersedak. "Begitu?!" "Ya,
Re. Menyakitkan. Aku seperti sampah tak berguna di depan cewek Bian yang baru.
Aku malu, Re." Kini aliran sungai dari kelopak mata itu mengalir deras. "Berarti
Bian itu berengsek, Kristal! Dan, aku ingin memberi pelajaran padanya!"
Sesuatu meledak di hatiku, memaksaku mengatupkan geraham dan mengepalkan tangan
dengan keras. "Ja-jangan, Re!" "Kristal, aku pernah berjanji,
aku tidak ingin siapa pun melukai hatimu!" "Aku tahu, Re. Tapi bukan
itu yang aku inginkan." Janna menghela napas. Di luar cafe, angin
bergerak gemulai. Menggoyang-goyangkan pucuk flamboyan dengan sesekali
menerbangkan bunga-bunga dari rantingnya. "Aku hanya ingin meminta maaf,
Re. Selama ini aku telah membuat jarak dengan kamu," ucap Janna lembut.
Menatapku untuk beberapa saat dengan mimik bersalah. "Lupakanlah, Kristal.
Aku maklum." "Kamu masih menganggap aku sahabat, Re?" Janna menatapku
dengan sungguh-sungguh. Aku mengangguk. "Kamu masih sahabatku yang
terbaik, Kristal." Sesuatu kembali berkelebat di kelopak mata Janna. Mata
bening itu kembali bersinar ceria. Dan aku menikmatinya.
terletak persis di seberang jalan dari sekolahku. Cafe mungil
itu merupakan tempat favorit yang kusinggahi bersama Janna. Tempatnya asri. Ada
musik lembut dari tiupan saksofon Kenny G., yang kadang-kadang diselingi
hentakan cadas kelompok band Linkin Park. Aku sengaja memilih tempat di sudut cafe. Hanya
ada seorang pengunjung yang terlihat santai menikmati jus apel dan sebatang
rokok. Lelaki separo baya itu terlihat santai dengan dunianya. Sesekali
menyedot sigaret di bibirnya lalu asapnya dihembuskan ke langit-langit cafe. Asap
rokok itu melayang-layang sejenak lalu melesat dan lenyap lewat jendela cafe. "Kamu
mau pesan apa, Kristal?" Aku mulai membuka-buka daftar menu yang
tergeletak di atas meja.
"Kamu masih memanggilku Kristal, Re?" Aku tersenyum. "Aku akan
terus memanggilmu, Kristal," sahutku. Menelusuri wajah aristokrat yang
telah berbulan-bulan tidak pernah lagi kutatap. "Oya, mau pesan apa?"
"Aku tidak pesan apa-apa, Re," sahut Janna. "Teh botol,
ya?" tawarku. "Terserah kamu saja." Aku memesan dua teh botol
dan dua bungkus kentang goreng.
"Sekarang kamu ingin membicarakan apa?" Aku memulai pembicaraan
serius usai menyerahkan pesanan kepada pelayan. Janna menatapku sejenak. Gadis
itu masih terlihat ragu-ragu untuk mengungkapkan masalahnya. "Soal Bian,
Re." Akhirnya bibir sensual itu terbuka dengan berat.
"Bian?" Janna mengangguk. Teh botol dan kentang goreng pesanan tiba
di meja kami. "Ada apa dengan Bian?" tanyaku serius. Janna menatapku
dengan wajah murung.
"Dia selingkuh, Re." Bibir sensualnya bergetar. Dua butir bening
menggelinding dari matanya. Merembes lamat di kedua pipinya yang putih. Sesuatu
mengiris ulu hatiku! Aku mengambil tisyu dan mengeringkan cairan bening itu
dari pipinya. "Aku sedih mendengarnya. Kamu tahu, Kristal. Aku kadang sering
berdoa agar hubungan kamu dengan Bian abadi," kalimatku mengambang. Aku
menjangkau teh botol dan membasahi kerongkonganku dengan cairan manis itu. Janna
menatapku tak berkedip. "Aku sendiri tidak tahu, Re. Kenapa Bian tega
melakukan itu." Ada isak tangis di sela-sela kalimat Janna. "Kamu
yakin Bian mengkhianati kamu?" "Aku memergoki sendiri, Bian berjalan
dengan mesra dengan seorang cewek." "Mungkin itu saudaranya?"
"Bukan, Re. Saat itu juga aku menghampiri Bian. Dan Bian mengatakan kalau
sebenarnya dia tidak mencintai aku!" Aku tersedak. "Begitu?!" "Ya,
Re. Menyakitkan. Aku seperti sampah tak berguna di depan cewek Bian yang baru.
Aku malu, Re." Kini aliran sungai dari kelopak mata itu mengalir deras. "Berarti
Bian itu berengsek, Kristal! Dan, aku ingin memberi pelajaran padanya!"
Sesuatu meledak di hatiku, memaksaku mengatupkan geraham dan mengepalkan tangan
dengan keras. "Ja-jangan, Re!" "Kristal, aku pernah berjanji,
aku tidak ingin siapa pun melukai hatimu!" "Aku tahu, Re. Tapi bukan
itu yang aku inginkan." Janna menghela napas. Di luar cafe, angin
bergerak gemulai. Menggoyang-goyangkan pucuk flamboyan dengan sesekali
menerbangkan bunga-bunga dari rantingnya. "Aku hanya ingin meminta maaf,
Re. Selama ini aku telah membuat jarak dengan kamu," ucap Janna lembut.
Menatapku untuk beberapa saat dengan mimik bersalah. "Lupakanlah, Kristal.
Aku maklum." "Kamu masih menganggap aku sahabat, Re?" Janna menatapku
dengan sungguh-sungguh. Aku mengangguk. "Kamu masih sahabatku yang
terbaik, Kristal." Sesuatu kembali berkelebat di kelopak mata Janna. Mata
bening itu kembali bersinar ceria. Dan aku menikmatinya.
CHAPTER 4:
SESUNGGUHNYA
AKU CINTA KAMU
SESUNGGUHNYA
AKU CINTA KAMU
Siang,
sepulang sekolah aku sengaja meninggalkan Janna. Bersembunyi di kantin lalu
menunggu kelas Bian bubaran. Aku telah berjanji akan memberi pelajaran buat
Bian yang sok playboy. Yang telah dengan lancang dan sengaja mencampakkan cinta tulus
Janna. Tepat pukul satu kelas Bian bubaran. Buru-buru aku berlari dan menjejeri
langkah cowok bertubuh gempal itu.
"Kenapa kamu khianati, Janna?!" Aku cegat langkah Bian. Wajah cowok
itu tersentak, sejenak, lalu menghentikan langkahnya. Ditatapnya mataku tajam,
lantas tersenyum dengan pongah.
Ya, Tuhan! Rasa-rasanya ingin kulayangkan sebuah tinju ke hidungnya yang
bangir! "Kamu ingin menjadi pahlawan?" lontarnya seringan kapas. Teman-teman
sekelas Bian mengerubuti aku.
"Pukul, Bi!" teriak salah seorang teman Bian yang berdiri di sisi
Bian. "Hajar!" Satu lagi kawan sekelas Bian membakar hati Bian. Tanpa
diselingi teriakan yang ketiga, Bian si Jagoan Sekolah melayangkan pukulan yang
sangat keras ke wajahku. Aku terhuyung sesaat karena tidak menyangka Bian akan
bergerak secepat itu. Beruntung sebuah tiang menahan tubuhku. Lalu aku
membalas, menghajar Bian dengan tendangan kempo. Bian terhempas oleh cangkungan
kakiku tadi, tampak meringis berusaha menahan sakit. Namun secepat kilat
tubuhnya yang gempal itu menerkam aku. Siswi-siswi yang melihat adegan itu
menjerit-jerit ketakutan. Napasku tersengal saat tubuh kekar Bian menghimpitku.
Berkali-kali bogem mentah miliknya hinggap di wajahku. Sampai suatu saat
beberapa guru memisahkan perkelahian satu lawan satu itu. Akhirnya, Bian dan
aku diskors satu minggu akibat perkelahian memalukan itu! Namun aku tidak
menyesal, meski harus dikeluarkan dari sekolah sekalipun! Membela dan
melindungi Janna adalah harkat tertinggi dalam hidupku. Aku tidak ingin ada
orang yang menyakiti hatinya. Tidak siapa pun!
sepulang sekolah aku sengaja meninggalkan Janna. Bersembunyi di kantin lalu
menunggu kelas Bian bubaran. Aku telah berjanji akan memberi pelajaran buat
Bian yang sok playboy. Yang telah dengan lancang dan sengaja mencampakkan cinta tulus
Janna. Tepat pukul satu kelas Bian bubaran. Buru-buru aku berlari dan menjejeri
langkah cowok bertubuh gempal itu.
"Kenapa kamu khianati, Janna?!" Aku cegat langkah Bian. Wajah cowok
itu tersentak, sejenak, lalu menghentikan langkahnya. Ditatapnya mataku tajam,
lantas tersenyum dengan pongah.
Ya, Tuhan! Rasa-rasanya ingin kulayangkan sebuah tinju ke hidungnya yang
bangir! "Kamu ingin menjadi pahlawan?" lontarnya seringan kapas. Teman-teman
sekelas Bian mengerubuti aku.
"Pukul, Bi!" teriak salah seorang teman Bian yang berdiri di sisi
Bian. "Hajar!" Satu lagi kawan sekelas Bian membakar hati Bian. Tanpa
diselingi teriakan yang ketiga, Bian si Jagoan Sekolah melayangkan pukulan yang
sangat keras ke wajahku. Aku terhuyung sesaat karena tidak menyangka Bian akan
bergerak secepat itu. Beruntung sebuah tiang menahan tubuhku. Lalu aku
membalas, menghajar Bian dengan tendangan kempo. Bian terhempas oleh cangkungan
kakiku tadi, tampak meringis berusaha menahan sakit. Namun secepat kilat
tubuhnya yang gempal itu menerkam aku. Siswi-siswi yang melihat adegan itu
menjerit-jerit ketakutan. Napasku tersengal saat tubuh kekar Bian menghimpitku.
Berkali-kali bogem mentah miliknya hinggap di wajahku. Sampai suatu saat
beberapa guru memisahkan perkelahian satu lawan satu itu. Akhirnya, Bian dan
aku diskors satu minggu akibat perkelahian memalukan itu! Namun aku tidak
menyesal, meski harus dikeluarkan dari sekolah sekalipun! Membela dan
melindungi Janna adalah harkat tertinggi dalam hidupku. Aku tidak ingin ada
orang yang menyakiti hatinya. Tidak siapa pun!
Jam di
ruang tengah berdentang satu kali. Aku melirik jam di dinding kamarku. Pukul
setengah tiga dinihari. Kini mataku tertuju pada sebuah foto yang kupasang di
dinding kamarku.
Foto Janna yang sengaja aku perbesar dan menjadi hiasan manis di kamarku. Kutatap
untuk beberapa saat sampai hatiku berbisik: 'Tuhan, apakah aku mencintainya?!'
ruang tengah berdentang satu kali. Aku melirik jam di dinding kamarku. Pukul
setengah tiga dinihari. Kini mataku tertuju pada sebuah foto yang kupasang di
dinding kamarku.
Foto Janna yang sengaja aku perbesar dan menjadi hiasan manis di kamarku. Kutatap
untuk beberapa saat sampai hatiku berbisik: 'Tuhan, apakah aku mencintainya?!'
CHAPTER 5:
SAMA-SAMA
CINTA
SAMA-SAMA
CINTA
Mula-mula
sinar matahari pagi yang menyentuh mataku. Kepalaku terasa berat karena aku
tidur terlambat. Hari Sabtu ini aku memang tidak masuk sekolah. Ini hari
terakhir masa skorsku.
Aku bangkit dari ranjangku, dan sudut mataku tertumpu pada makhluk manis dengan
seragam putih abu-abu sedang duduk di meja belajarku. "Kristal?!"
Mataku membelalak tak percaya.Janna tersenyum. "Sudah bangun, Re?"
tanyanya sembari tersenyum. "Kamu tidak sekolah?" tanyaku heran. Janna
menggelengkan kepala. "Tadi ke sekolah sebentar. Tapi ada acara kerja
bakti. Aku telepon ke sini. Kata Mama kamu, kamu belum bangun. Lalu, aku minta
izin sama guru piket mengurai dalih sedang ada urusan keluarga, tidak ikut kerja
bakti. Lalu, jadilah aku kemari," urai Janna ceria, mengangkat bahunya
mengaba 'tidak apa-apa, kan?'. Mata beningnya bergerak indah. Menatap sesuatu
yang tertempel di dinding kamarku.
Aku mengikuti pandangan mata kristal itu. Dan mukaku merah. Aku telah melakukan
kebodohan. Foto besar Janna yang tertempel di dinding itu lupa kusimpan — tentu
saja, karena siapa yang menyangka cewek itu akan datang mendadak lantas duduk
sekarang di hadapanku!
"Mungkin kamu tidak akan percaya, Re, kalau aku juga menempel foto kamu di
dinding kamarku," ungkap Janna dengan suara tertahan. Pipinya nampak
memerah. Tetapi dia cepat mengalihkan paras wajahnya yang 'malu' itu dengan
bergerak ke arah jendela, menarik gordin dan mementangkan daun jendela. Angin
pagi yang sejuk menerobos masuk ke dalam kamarku yang mungil. Aku terdiam,
terkesima dengan pengungkapannya yang jujur. "Selama ini kita sama-sama muna kan,
Re?!" Janna mengalihkan pandangannya dari jendela ke wajahku. Aku
tertunduk. Tak berani menatap sepasang bola mata kristalnya yang tengah
memancarkan kesungguhan. "Aku takut melukai hati kamu, Kristal! Untuk itu,
aku tidak pernah mengingkan sesuatu hal yang lebih dari sekadar persahabatan.
Meskipun sebenarnya aku...." "Kamu tidak pernah berterus terang,
Re!" "Sori, Re. Aku...." "Kamu mencintai aku kan,
Re?!" Janna berjalan mendekatiku, duduk di samping saat tiba di gigir
ranjang. Aku terkesiap. Tak mampu mengeluarkan sepatah kata pun. Aku memang
pengecut. Tidak pernah jujur dengan isi hatiku sendiri sehingga menciptakan
tirai maya yang memenjarakan aku dalam siksaan yang luar biasa sakitnya.
"Ak-aku...." "Tak perlu kamu katakan, Re! Dari sikapmu,
tatapanmu, aku tahu kalau sebenarnya kamu mencintaiku!" Mata beningnya
menatapku tajam. Aku mengangkat wajah. Mencoba membalas tatapannya yang tulus.
Dan beberapa saat kemudian kami saling berpandangan. Lama. Lama sekali.
Tiba-tiba ada senandung indah menggelepar di ruang hatiku. Senandung cintakah
itu? Aku tersenyum. Menikmati kerjapan bening mata kristal milik Janna, dan
membiarkan senandung cinta itu mengalun indah di hatiku. Indah, seindah mata
kristalnya.
sinar matahari pagi yang menyentuh mataku. Kepalaku terasa berat karena aku
tidur terlambat. Hari Sabtu ini aku memang tidak masuk sekolah. Ini hari
terakhir masa skorsku.
Aku bangkit dari ranjangku, dan sudut mataku tertumpu pada makhluk manis dengan
seragam putih abu-abu sedang duduk di meja belajarku. "Kristal?!"
Mataku membelalak tak percaya.Janna tersenyum. "Sudah bangun, Re?"
tanyanya sembari tersenyum. "Kamu tidak sekolah?" tanyaku heran. Janna
menggelengkan kepala. "Tadi ke sekolah sebentar. Tapi ada acara kerja
bakti. Aku telepon ke sini. Kata Mama kamu, kamu belum bangun. Lalu, aku minta
izin sama guru piket mengurai dalih sedang ada urusan keluarga, tidak ikut kerja
bakti. Lalu, jadilah aku kemari," urai Janna ceria, mengangkat bahunya
mengaba 'tidak apa-apa, kan?'. Mata beningnya bergerak indah. Menatap sesuatu
yang tertempel di dinding kamarku.
Aku mengikuti pandangan mata kristal itu. Dan mukaku merah. Aku telah melakukan
kebodohan. Foto besar Janna yang tertempel di dinding itu lupa kusimpan — tentu
saja, karena siapa yang menyangka cewek itu akan datang mendadak lantas duduk
sekarang di hadapanku!
"Mungkin kamu tidak akan percaya, Re, kalau aku juga menempel foto kamu di
dinding kamarku," ungkap Janna dengan suara tertahan. Pipinya nampak
memerah. Tetapi dia cepat mengalihkan paras wajahnya yang 'malu' itu dengan
bergerak ke arah jendela, menarik gordin dan mementangkan daun jendela. Angin
pagi yang sejuk menerobos masuk ke dalam kamarku yang mungil. Aku terdiam,
terkesima dengan pengungkapannya yang jujur. "Selama ini kita sama-sama muna kan,
Re?!" Janna mengalihkan pandangannya dari jendela ke wajahku. Aku
tertunduk. Tak berani menatap sepasang bola mata kristalnya yang tengah
memancarkan kesungguhan. "Aku takut melukai hati kamu, Kristal! Untuk itu,
aku tidak pernah mengingkan sesuatu hal yang lebih dari sekadar persahabatan.
Meskipun sebenarnya aku...." "Kamu tidak pernah berterus terang,
Re!" "Sori, Re. Aku...." "Kamu mencintai aku kan,
Re?!" Janna berjalan mendekatiku, duduk di samping saat tiba di gigir
ranjang. Aku terkesiap. Tak mampu mengeluarkan sepatah kata pun. Aku memang
pengecut. Tidak pernah jujur dengan isi hatiku sendiri sehingga menciptakan
tirai maya yang memenjarakan aku dalam siksaan yang luar biasa sakitnya.
"Ak-aku...." "Tak perlu kamu katakan, Re! Dari sikapmu,
tatapanmu, aku tahu kalau sebenarnya kamu mencintaiku!" Mata beningnya
menatapku tajam. Aku mengangkat wajah. Mencoba membalas tatapannya yang tulus.
Dan beberapa saat kemudian kami saling berpandangan. Lama. Lama sekali.
Tiba-tiba ada senandung indah menggelepar di ruang hatiku. Senandung cintakah
itu? Aku tersenyum. Menikmati kerjapan bening mata kristal milik Janna, dan
membiarkan senandung cinta itu mengalun indah di hatiku. Indah, seindah mata
kristalnya.
SEPANJANG BRAGA
CHAPTER 1:
SEPANJANG BRAGA
SEPANJANG BRAGA
Aku tidak tahu apakah harus menyesal atau tidak. Tapi nyatanya, dibutuhkan waktu sepuluh tahun dan seratus buah lukisan untuk akhirnya membuat aku sadar. "Anda suka?" Pengunjung di sebelahku mengawasiku. "Aku? Ah... ya!" Suaraku baur, ada keraguan dan keterkejutan. Kupikir, terlalu lama aku terpaku. "Lukisan ini memang bagus!" Nadanya menyerupai gumaman.
Aku mengangguk tercekat. Lantas kurasakan langit dalam lukisan membagi tempias hujan, mengiris dingin. Gigil menyergap. "Pakailah jaket!" Kudengar suaramu dari masa lalu.
"Aku nggak dingin kok!" Tapi kukenakan juga jaket biru milikmu. Kamu membantu memasangkan topi. Dan kemudian, di bawah gerimis yang menusuk, kita susuri Jalan Braga.
Ya, seperti juga mungkin harapanmu, bagiku, peristiwa itu perjalanan mimpi. Ratusan almanak berguguran, dan sepanjang musim aku hanya bisa menyebut namamu dengan sejumlah ragu.
"Kamu mengenalnya?" Dhani, sahabatku di SMA sempat menatapku tak percaya ketika aku sedikit bisa bercerita tentangmu. Sebagai pengagum berat karya-karyamu, ini 'kejutan besar' bagi dia. Dan aku mengangguk, ragu. Bukankah kamu selalu menyebutku 'Adik Manis'?
"Ia... ia kakak yang baik!" Sangat baik, kupikir. Aku tidak bisa melupakan saat Pak Pos tiba pagi-pagi di depan pintu. Ia mengantarkan bingkisan besar. Sebuah lukisan berjudul 'Prosa Perjalanan'. Di sudutnya, ada kartu kecil bertuliskan: "Selamat ulangtahun, Adik Manis/Panjang usia, bahagia, pintar, dan bijaksana/Kado ini hanya bayang-bayang/Bandung, Juli 1988." Lantas, ada tanda tanganmu, ada stempel KKN-Unpad 1988 di baliknya. Aku bahagia benar menerimanya. Antara percaya dan ragu, inilah kenyataan itu. Kamu, pelukis muda yang diperhitungkan di negeri ini, melukis khusus di tengah kesibukan KKN, hanya untuk menandai ulangtahunku. Ini kado istimewa menurutku, tapi anggapan itu kukubur rapat-rapat di batin.
"Ia kakak yang baik," berulang-ulang aku harus meyakinkan Dhani. Berkali-kali, ia tampak demikian ingin mendengar aku bercerita banyak tentangmu. Ia cemburu. Aku — sahabatnya, yang tidak lebih baik dan cantik dibanding dia, mendapatkan kado khusus dari seorang pelukis ternama. Aku pikir, aku bukan pengidap megalomania. Maka selalu saja kuendapkan sensasi dalam-dalam. Aku berjanji untuk tidak membagi pengalaman batinku pada Dhani, juga pada siapa pun. Aku punya alasan untuk tidak sekadar memancing cemburu Dhani. Di SMA kami, mendapatkan tanda tangan seorang artis penyanyi saja, bangganya bukan main. Aku hanya malu membayangkannya. Malu pada diri sendiri. Bayangkan, aku tidak mengenal kamu, selain melalui; foto dan berlembar-lembar surat. Waktu itu, seperti juga Dhani, aku mengagumi beberapa lukisanmu yang kutemui pada sebuah pameran di Jakarta. Lantas, sepulang ke Makassar setelah liburan sekolah itu, kukirim surat ke alamatmu. Disertai lukisan sederhana. Aku merasa sedikit bisa melukis — dan kini menyatakan niat besar untuk belajar banyak padamu. Tak dinyana, engkau membalas dengan surat panjang. Benar-benar panjang, ada mungkin semeter. Meskipun lebar kertasnya tak lebih dari sepuluh senti. Aku pegal membacanya, tapi juga merasakan sensasi luar biasa. Kamu memuja-muja lukisanku — menyebutnya mirip goresan Vassily Kandinsky. "Kamu sungguh berbakat, Adik Manis!" tulismu.
Dan, dadaku serasa pecah.
Aku mengangguk tercekat. Lantas kurasakan langit dalam lukisan membagi tempias hujan, mengiris dingin. Gigil menyergap. "Pakailah jaket!" Kudengar suaramu dari masa lalu.
"Aku nggak dingin kok!" Tapi kukenakan juga jaket biru milikmu. Kamu membantu memasangkan topi. Dan kemudian, di bawah gerimis yang menusuk, kita susuri Jalan Braga.
Ya, seperti juga mungkin harapanmu, bagiku, peristiwa itu perjalanan mimpi. Ratusan almanak berguguran, dan sepanjang musim aku hanya bisa menyebut namamu dengan sejumlah ragu.
"Kamu mengenalnya?" Dhani, sahabatku di SMA sempat menatapku tak percaya ketika aku sedikit bisa bercerita tentangmu. Sebagai pengagum berat karya-karyamu, ini 'kejutan besar' bagi dia. Dan aku mengangguk, ragu. Bukankah kamu selalu menyebutku 'Adik Manis'?
"Ia... ia kakak yang baik!" Sangat baik, kupikir. Aku tidak bisa melupakan saat Pak Pos tiba pagi-pagi di depan pintu. Ia mengantarkan bingkisan besar. Sebuah lukisan berjudul 'Prosa Perjalanan'. Di sudutnya, ada kartu kecil bertuliskan: "Selamat ulangtahun, Adik Manis/Panjang usia, bahagia, pintar, dan bijaksana/Kado ini hanya bayang-bayang/Bandung, Juli 1988." Lantas, ada tanda tanganmu, ada stempel KKN-Unpad 1988 di baliknya. Aku bahagia benar menerimanya. Antara percaya dan ragu, inilah kenyataan itu. Kamu, pelukis muda yang diperhitungkan di negeri ini, melukis khusus di tengah kesibukan KKN, hanya untuk menandai ulangtahunku. Ini kado istimewa menurutku, tapi anggapan itu kukubur rapat-rapat di batin.
"Ia kakak yang baik," berulang-ulang aku harus meyakinkan Dhani. Berkali-kali, ia tampak demikian ingin mendengar aku bercerita banyak tentangmu. Ia cemburu. Aku — sahabatnya, yang tidak lebih baik dan cantik dibanding dia, mendapatkan kado khusus dari seorang pelukis ternama. Aku pikir, aku bukan pengidap megalomania. Maka selalu saja kuendapkan sensasi dalam-dalam. Aku berjanji untuk tidak membagi pengalaman batinku pada Dhani, juga pada siapa pun. Aku punya alasan untuk tidak sekadar memancing cemburu Dhani. Di SMA kami, mendapatkan tanda tangan seorang artis penyanyi saja, bangganya bukan main. Aku hanya malu membayangkannya. Malu pada diri sendiri. Bayangkan, aku tidak mengenal kamu, selain melalui; foto dan berlembar-lembar surat. Waktu itu, seperti juga Dhani, aku mengagumi beberapa lukisanmu yang kutemui pada sebuah pameran di Jakarta. Lantas, sepulang ke Makassar setelah liburan sekolah itu, kukirim surat ke alamatmu. Disertai lukisan sederhana. Aku merasa sedikit bisa melukis — dan kini menyatakan niat besar untuk belajar banyak padamu. Tak dinyana, engkau membalas dengan surat panjang. Benar-benar panjang, ada mungkin semeter. Meskipun lebar kertasnya tak lebih dari sepuluh senti. Aku pegal membacanya, tapi juga merasakan sensasi luar biasa. Kamu memuja-muja lukisanku — menyebutnya mirip goresan Vassily Kandinsky. "Kamu sungguh berbakat, Adik Manis!" tulismu.
Dan, dadaku serasa pecah.
CHAPTER 2:
LUKISAN CINTA KITA
LUKISAN CINTA KITA
Ketika aku menginjak bangku kuliah, kutemukan hubungan kita dalam bentuknya yang paling manis. Tiba-tiba saja aku merasa bahwa tidak ada gunanya pacaran. Buat apa? Aku memiliki seorang kakak yang sangat baik, yang memperhatikanku sedemikian rupa. Yang surat-suratnya menenteramkan. Yang mengirimi aku doa seperti sarapan pagi."Jangan sakit, ya! Jangan bikin Mas khawatir. Salam sayang dari jauh." Kamu selalu mengakhiri surat dari Bandung dengan kalimat yang kurang lebih sama. Aku merasa tidak harus membayangkanmu terus-menerus. Berkali-kali aku disergap rasa malu bercampur ragu. Berkali-kali aku merasakan sensasi setiap usai membaca suratmu. Ini tidak adil. Aku telah meletakkan bayanganmu dengan hati-hati pada pojok hati terdalam. Seolah-olah engkau demikian dekat dan istimewa. Padahal bisa saja surat demikian berbeda dengan kenyataannya. Kamu pelukis terkenal, aku hanya seorang gadis kecil yang kebetulan menyukai lukisan — mungkin salah satu dari sekian penggemarmu. Apalagi menurut Dhani, seniman pada umumnya romantis — Dhani selalu mimpi memiliki pacar seorang seniman. Karenanya, pada liburan kuliah, aku tidak bisa menahan diri untuk tidak terbang ke Bandung. Dan di sinilah kita, di bawah ruas hujan yang tajam mengilat, di sepanjang Braga.
"Entah kenapa, Braga senantiasa menjadi obsesiku. Setiap menyusuri Braga, aku selalu merasakan suatu ekstasi, menemukan dorongan kuat untuk terus melukis," katamu.
Barangkali Braga memang punya magis buat kita. Kamu dan aku betah menghabiskan hampir seluruh siang dan malam di Braga. Menikmati sekoteng, mendengarkan Braga Stone, mencermati sejumlah kerajinan tangan, mencuri baca di toko buku, menongkrongi kakilima, dan terus menyusur ke ujung: Gedung Konferensi Asia-Afrika.... Lalu balik lagi, dan berhenti. Karena gerimis menjelma hujan lebat. Kabut mengental menutup sebagian langit Bandung. Lampu-lampu berpendar lesi. Ini malam terakhir, dan aku harus pulang ke Makassar pagi-pagi esok. Saat itulah, kamu merangkulku untuk membagi hangat, dan sebagai tanda perpisahan... mencium pipiku di depan toko souvenir yang telah tutup.... Kala itu, dan kini, kurasakan hawa panas menjalari wajahku. Selama sembilanbelas tahun usiaku, itulah kali pertama aku merasakan dicium oleh seorang lelaki. Batinku ribut. Sementara seluruh ubin yang kuinjak telah menjelma menjadi gurun salju. Peristiwa itu sepuluh tahun lalu. Tapi tidak pernah lamur. Ia abadi dalam kanvas. Lukisan Sepanjang Braga inilah yang menjadi tema pameran tunggalmu kali ini. Lukisan yang menggambarkan suasana Braga di bawah guyuran hujan lebat, ketika seluruh cahaya menjadi pias, dan sunyi demikian meraja. Lukisan yang mengabadikan peristiwa itu: seorang lelaki merunduk mencium....
"Entah kenapa, Braga senantiasa menjadi obsesiku. Setiap menyusuri Braga, aku selalu merasakan suatu ekstasi, menemukan dorongan kuat untuk terus melukis," katamu.
Barangkali Braga memang punya magis buat kita. Kamu dan aku betah menghabiskan hampir seluruh siang dan malam di Braga. Menikmati sekoteng, mendengarkan Braga Stone, mencermati sejumlah kerajinan tangan, mencuri baca di toko buku, menongkrongi kakilima, dan terus menyusur ke ujung: Gedung Konferensi Asia-Afrika.... Lalu balik lagi, dan berhenti. Karena gerimis menjelma hujan lebat. Kabut mengental menutup sebagian langit Bandung. Lampu-lampu berpendar lesi. Ini malam terakhir, dan aku harus pulang ke Makassar pagi-pagi esok. Saat itulah, kamu merangkulku untuk membagi hangat, dan sebagai tanda perpisahan... mencium pipiku di depan toko souvenir yang telah tutup.... Kala itu, dan kini, kurasakan hawa panas menjalari wajahku. Selama sembilanbelas tahun usiaku, itulah kali pertama aku merasakan dicium oleh seorang lelaki. Batinku ribut. Sementara seluruh ubin yang kuinjak telah menjelma menjadi gurun salju. Peristiwa itu sepuluh tahun lalu. Tapi tidak pernah lamur. Ia abadi dalam kanvas. Lukisan Sepanjang Braga inilah yang menjadi tema pameran tunggalmu kali ini. Lukisan yang menggambarkan suasana Braga di bawah guyuran hujan lebat, ketika seluruh cahaya menjadi pias, dan sunyi demikian meraja. Lukisan yang mengabadikan peristiwa itu: seorang lelaki merunduk mencium....
CHAPTER 3:
ADIK MANIS!
ADIK MANIS!
Aku membuang pandang dengan batin gelagapan, mencari-cari lelaki yang tadi ikut mengagumi lukisan adikaryamu itu. Ia telah menghilang. Susah payah, aku beringsut, menjauhi gambar yang nyaris menyulapku menjadi arca.... "Mengapa masih juga sendiri?" Pada langkah berikutnya, suaramu dari masa lampau kembali mengiang. Kutelan ludah ketika kurasakan sebuah pusaran besar kembali menyeretku ke tengah. Lukisan berikutnya berjudul 'Kayu Bengkoang'. Sebuah tenda kakilima yang menyajikan seafood di pesisir Losari, Makassar. Ada dinding toko yang menjulang di kiri-kanannya. Meja-meja diletakkan memanjang. Pada salah satu bangku belakang kita pernah mengobrol berdua, mengais-ngais kenangan yang tersisa dari Braga. Jauh di belakang hari, saat usiaku nyaris duapuluh, Arie — teman kuliahku sering menyangsikan, "Belum pernah pacaran?" Matanya meledek. Aku harus bilang apa? Kenyataanya, aku memang belum bisa mengidentifikasi seperti apa sebetulnya mencintai itu. Sampai suatu ketika seorang laki-laki jangkung tiba-tiba berdiri di depan pintu ruang tamu. Ia teman kakakku. Ia juga menyapaku dengan kalimat, "Halo, Adik Manis!" Dan kurasakan, hawa Braga menguar di seputarku. Ia mirip kamu. Setidaknya, kamu dalam bayangan idealku. Kalian pun sepantar, tujuh tahun di atas usiaku. Begitu banyak persamaan yang kujumpai. Sampai akhirnya aku memutuskan: aku tidak selamanya harus menjadi ledekan Arie. Saat itulah kamu mengabariku cerita yang berbeda dari biasanya. "Barangkali aku tengah jatuh cinta sekarang," tulismu. "Kami sudah bertemu duapuluhdelapan kali, tapi baru tiga kali berbicara. Cinta platonis?"
Kutahan ceritaku sendiri tentang sosok jangkung itu. Aku bilang, "Aku senang mendengarnya. Mas harus berusaha terus, nggak boleh nyerah." Hampir satu tahun berikutnya, aku mendapatkan sebuah undangan warna sepia yang dikirim dari Bandung, berlatar lukisan. Aku terpana justru bukan karena undangan itu dirancang demikian artistik, tapi oleh sebuah keajaiban cinta. Aku pikir, ternyata demikian sederhana prosesnya. Jatuh cinta, dan kemudian menikah. Tapi aku tidak merasakan kehilangan. Mungkin karena sosok jangkung yang membungkus bayanganmu itu sangat rajin meronce mimpi dalam tidurku.Barangkali juga karena jarak kita jauh. Atau, karena aku tidak pernah berani memberikan tempat bagi pikiran yang ingin mencoba menganggapmu lebih dari seorang kakak.Nyatanya, tidak semua cerita cinta itu mulus. Ada yang rumit, menurutku. "Kami hampir bertunangan, tapi akhirnya memilih berpisah. Empat tahun akhirnya seperti sia-sia," tuturku di puncak nyeri. Saat itu kita di 'Kayu Bengkoang', dan kamu menemukan airmata dalam suaraku. "Tidak ada yang sia-sia. Setiap persoalan menyembunyikan hikmah," tatapanmu teduh. "Hanya, kalau boleh Mas tahu, kenapa memilih berpisah?" Naif jika kini aku masih memirip-miripkan kalian. Karena, ternyata dia yang kukenal demikian cupat dan posesif. Mungkin aku mencintainya sungguh-sungguh. Tapi tidak sanggup menjadi bara yang memanaskan tungku kecemasan agar terus menyala. Aku merasa dunia terlalu luas jika hanya dilewatkan berdua. "Mestinya ada suatu titik temu yang bisa dicari!" tukasmu. Ya, mestinya.... Aku menggigit bibir. Bertepatan dengan itu, seseorang menyenggol lenganku, melontarkan aku keluar dari pusaran lukisan. Dalam sekejap, 'Kayu Bengkoang' lepas dari bayangan. Ketika menoleh kembali, lukisan itu telah diam. Kerongkonganku perih. Lalu kurasakan, suhu udara meningkat dalam ruang pamer seiring dengan kian bekunya seluruh sendi-sendi tulangku. Pengunjung masuk tanpa putus.
Kutahan ceritaku sendiri tentang sosok jangkung itu. Aku bilang, "Aku senang mendengarnya. Mas harus berusaha terus, nggak boleh nyerah." Hampir satu tahun berikutnya, aku mendapatkan sebuah undangan warna sepia yang dikirim dari Bandung, berlatar lukisan. Aku terpana justru bukan karena undangan itu dirancang demikian artistik, tapi oleh sebuah keajaiban cinta. Aku pikir, ternyata demikian sederhana prosesnya. Jatuh cinta, dan kemudian menikah. Tapi aku tidak merasakan kehilangan. Mungkin karena sosok jangkung yang membungkus bayanganmu itu sangat rajin meronce mimpi dalam tidurku.Barangkali juga karena jarak kita jauh. Atau, karena aku tidak pernah berani memberikan tempat bagi pikiran yang ingin mencoba menganggapmu lebih dari seorang kakak.Nyatanya, tidak semua cerita cinta itu mulus. Ada yang rumit, menurutku. "Kami hampir bertunangan, tapi akhirnya memilih berpisah. Empat tahun akhirnya seperti sia-sia," tuturku di puncak nyeri. Saat itu kita di 'Kayu Bengkoang', dan kamu menemukan airmata dalam suaraku. "Tidak ada yang sia-sia. Setiap persoalan menyembunyikan hikmah," tatapanmu teduh. "Hanya, kalau boleh Mas tahu, kenapa memilih berpisah?" Naif jika kini aku masih memirip-miripkan kalian. Karena, ternyata dia yang kukenal demikian cupat dan posesif. Mungkin aku mencintainya sungguh-sungguh. Tapi tidak sanggup menjadi bara yang memanaskan tungku kecemasan agar terus menyala. Aku merasa dunia terlalu luas jika hanya dilewatkan berdua. "Mestinya ada suatu titik temu yang bisa dicari!" tukasmu. Ya, mestinya.... Aku menggigit bibir. Bertepatan dengan itu, seseorang menyenggol lenganku, melontarkan aku keluar dari pusaran lukisan. Dalam sekejap, 'Kayu Bengkoang' lepas dari bayangan. Ketika menoleh kembali, lukisan itu telah diam. Kerongkonganku perih. Lalu kurasakan, suhu udara meningkat dalam ruang pamer seiring dengan kian bekunya seluruh sendi-sendi tulangku. Pengunjung masuk tanpa putus.
CHAPTER 4:
KIDUNG UNGU
KIDUNG UNGU
"Aku capek...," kesahku perih. Puluhan lukisan berikutnya adalah potongan-potongan episode yang demikian akrab dengan catatan harianku. Juga ketika aku harus patah hati untuk kedua kali. Dan kamu mengabadikannya dalam lukisan di bawah judul 'Kidung Ungu'. "Aku capek, Mas!" "Tidak boleh seperti itu! Aku percaya kamu kuat. Kamu harus yakin bahwa begitu banyak orang yang mengasihimu," tanganmu terulur menyentuh pipiku. "Aku kehilangan lagi...." "Tapi tidak semua. Ada yang bahkan kehilangan semuanya!" Aku mencari matamu. Dan kamu mengangguk tulus. Lalu, tiba-tiba saja aku ingin menangis di dadamu.... Aku terus menyeret langkah. Kurasakan seluruh dinding bergoyang. Lampu-lampu benderang. Seluruh wajah dalam lukisan seketika menjadi hidup. Aku berlari dari satu peristiwa ke peristiwa berikutnya. Menikmati tawa, canda, dan airmata. Sampai akhirnya seluruh warna-warni mengalami konvergensi, membentuk episode yang utuh. Aku mendengar suara-suara masa lalu kian nyaring memanggil. Aku terseret lagi ke tengah pusaran, terengah, dan akhirnya tersesat pada lukisan keseratus. Pada lukisan terakhir itu, kutemukan garis wajahku yang utuh. Di bawahnya terdapat coretan: seluruhnya kudedikasikan padamu. Adakah yang melebihi kekuatan dan dorongan untuk berkarya, kecuali cinta? Kurasakan tubuhku bergetar hebat.Gigil tak menyiasakan sedikit pun ruang yang bisa menyodori hangat. Tapi, leherku melelehkan peluh. Dan, tiba-tiba aku mengendus aroma Braga yang kental. Aku merasakan suatu ekstasi ketika membayangkan kembali rengkuhanmu di sepanjang jalan, merasakan ciumanmu....
"Terima kasih karena kamu mau datang...," pemilik seratus lukisan itu — kamu — tiba-tiba telah berdiri di hadapanku. "Aku...," seluruh jemariku basah dalam genggaman.
"Mas mohon maaf karena menggelar pameran ini tanpa seizinmu...." Aku menggeleng-geleng. "Aku...," kusembunyikan mataku yang merebak. Sendi-sendiku serasa makin ngilu.
"Kamu berhak untuk protes!" Kamu mencari mataku. Dan ketika kudengar suara Baby, gadis kecil yang dulu pernah kamu kirimkan potretnya saat masih bayi. Suaranya yang runcing dan riang membelah perhatian, memanggil-manggil ayahnya. Aku menyalaminya, sebelum akhirnya kuputuskan untuk segera melarikan diri dari tempat itu. Aku tahu, saat ini kita tidak boleh terlibat lebih jauh. Cinta boleh datang dan pergi tanpa harus saling melukai. Hati manusia mungkin seperti jagat raya, yang mampu membagi dirinya dalam sejumlah dimensi musim. Aku tahu, kamu bukan tidak sedang mencintai perempuan yang melahirkan Baby. Kalau ada hal yang patut kusesali saat ini, satu-satunya adalah: mengapa hanya untuk menumbuhkan sebuah kesadaran tentang cinta, mesti diperlukan waktu sepuluh tahun dan seratus buah lukisan?
"Terima kasih karena kamu mau datang...," pemilik seratus lukisan itu — kamu — tiba-tiba telah berdiri di hadapanku. "Aku...," seluruh jemariku basah dalam genggaman.
"Mas mohon maaf karena menggelar pameran ini tanpa seizinmu...." Aku menggeleng-geleng. "Aku...," kusembunyikan mataku yang merebak. Sendi-sendiku serasa makin ngilu.
"Kamu berhak untuk protes!" Kamu mencari mataku. Dan ketika kudengar suara Baby, gadis kecil yang dulu pernah kamu kirimkan potretnya saat masih bayi. Suaranya yang runcing dan riang membelah perhatian, memanggil-manggil ayahnya. Aku menyalaminya, sebelum akhirnya kuputuskan untuk segera melarikan diri dari tempat itu. Aku tahu, saat ini kita tidak boleh terlibat lebih jauh. Cinta boleh datang dan pergi tanpa harus saling melukai. Hati manusia mungkin seperti jagat raya, yang mampu membagi dirinya dalam sejumlah dimensi musim. Aku tahu, kamu bukan tidak sedang mencintai perempuan yang melahirkan Baby. Kalau ada hal yang patut kusesali saat ini, satu-satunya adalah: mengapa hanya untuk menumbuhkan sebuah kesadaran tentang cinta, mesti diperlukan waktu sepuluh tahun dan seratus buah lukisan?
CHAPTER 5:
SKETSA CINTA DI BRAGA
SKETSA CINTA DI BRAGA
Semula, pikiranku sangat sederhana. Seratus lukisan Sepanjang Braga yang dipamerkan di Galeri Soemardja itu aku minta dipindahkan ke galeri keluargaku. Atas nama cinta, tidak ada yang sulit untuk seorang Feliciano yang ditakdirkan menjadi kaya sejak dalam buaian. "Jika itu yang membuatmu bahagia," bisiknya dalam bahasa Indonesia yang sempurna. Masalah kita selesai? Ternyata tidak. Padahal, peristiwa itu lima tahun silam. Feliciano bahkan mungkin lupa bahwa seratus lukisan itu dulunya adalah sebuah maskawin. Ia bukan kolektor yang baik — meski ia berburu lukisan hingga ke seluruh penjuru angin dan mengoleksi sedikitnya satu dari lukisan para maestro. Ia lebih tepat disebut investor — adrenalinnya terpacu setiap kali mendengar kabar tentang lelang lukisan. Kecuali... ya, kecuali menyangkut percakapan subuh itu. "... aku ingin memamerkannya, Honey!" "Apa?" Ia terlonjak. Hanya sekejap. Setelah itu, pupil matanya yang kebiruan berpendar jenaka. "Sudah nggak cinta hingga maskawin saya mau ditawarkan?" Aku memandangnya takjub. Ia ternyata ingat. Padahal, sepanjang lima tahun, Braga tidak pernah bergeming dari salah satu ruang di galeri kami. Diperbincangkan pun tidak. Seolah aku dan Feliciano sepakat bahwa lukisan itu sudah bercerita banyak lebih dari apa yang bisa kami bahasakan. Ia simbol pertautan hati kami. Tapi, bukankah Feliciano selalu antusias mempersoalkan sejumlah dolar atau rupiah untuk sebuah lukisan? Siapa tahu selama ini ia hanya sungkan padaku. "Pamerkan saja yang lain. Kamu tahu, Andrew berani menawar sangat tinggi untuk Affandi dan Arie Smith yang kita beli di Balindo tempo hari.... " "Aku...," kerongkonganku panas. "Aku hanya bermaksud menandai lima tahun pernikahan kita. Bukan untuk dijual...." Apapun yang terjadi, lukisan itu tidak akan pernah kujual! Sesaat ia terkesima. Tapi jenak berikutnya ia memelukku sembari bergumam. "Bagaimana jika ada yang menawar?" Jemarinya menyusup lembut ke rambutku. "Tapi, terserah kamu. Lukisan itu milikmu. Meskipun, buat aku, lukisan itu sungguh berarti...." Aku menggigit bibir, terasa pahit. Sementara di luar, hujan menenggelamkan subuh. Melalui gorden yang tersingkap, aku menyaksikan rimbun air menempel dan meluruh di kaca jendela. Aku menyurukkan kepala lebih dalam. Balik memeluknya erat. Di sudut mata, kurasakan ada sebutir embun tersesat.
CHAPTER 6:
KENANGAN DI SUDUT GALERI
KENANGAN DI SUDUT GALERI
Semula, pikiranku sangat sederhana. Seratus lukisan Sepanjang Braga yang dipamerkan di Galeri Soemardja itu aku minta dipindahkan ke galeri keluargaku. Lalu, engkau akan kehilangan bentangan episode Braga. Risalah kita berakhir. Seperti buku yang terkatup rapat. Engkau kemudian akan menggoreskan lukisan baru bersama Chiara, dan aku menjemput impian hari esok bersama Feliciano. Ternyata tidak sesederhana itu. Karena sejak peristiwa itu, hujan kenangan justru menderas di salah satu sudut galeri. Tempat itu hanya berjarak lima meter di seberang pandangan. Feliciano membangunnya — maksudku merenovasi dan memperluas galeri — hanya sebulan setelah kami menikah. Dan ia menata Sepanjang Braga pada ruangan terdekat dari kamar tidur kami — ruang yang terletak pada sudut kiri belakang dari keseluruhan ruang pamer — dengan sebidang dinding menghadap kamar yang sepenuhnya terbuat dari kaca.
"Aku ingin seratus lukisan itu bisa kamu nikmati kapan saja kamu mau," tuturnya. Dan aku mendengar gemuruh di dadaku. Ya, kenangan itu selamanya menderas. Feliciano — sesungguh cinta — mengembalikan jejak langkah kita ke dalam genangan hari lampau. Setiap kali menghikmati Braga, tanpa mampu kucegah, jiwaku mengapung, atau hanyut, bersijingkat, dan melompat-lompat. Menarikan luka.... apakah aku terluka? Entahlah. Hanya, aku selalu merasa ada getar batin yang selalu gagal kuurai. Siapa sesungguhnya kamu bagi jiwaku? Dan siapa Feliciano bagi hidupku? Apa begitu sulit membenamkan kenangan kita ke sarang waktu — menganggap Sepanjang Braga tidak lebih seperti lukisan-lukisan lain? Bukankah hari ini dan esok adalah milik Feliciano? Tidakkah hari kemarin cukup bagi kita berdua? Tidak ada yang salah dan keliru dalam diri lelaki Filipina-Perancis yang kupilih sebagai pendamping hidupku itu. Ia mencintaiku sepenuh jiwa. Bukankah itu lebih dari cukup? "Besok malam ada pembukaan pameran di Galeri Maxima. Ikut?" Lihatlah, mata birunya senantiasa memancar hangat. Feliciano tahu persis kalau aku begitu mencintai lukisan. "Pameran siapa?" "Bambang Prasadhi."
Dan kusambut dengan sukacita. Tapi itu dulu. Entah dari mana datangnya, tiba-tiba aku menyadari ada hari dimana engkau menghilang dari komunitas pelukis. Mungkin sejak Sudjana Kerton memamerkan 'Di dalam Oplet' di Galeri Cemara, Agustus 2001 — pameran pertama yang kukunjungi setelah menikah dengan Feliciano. Atau bahkan sebelum itu. Yang jelas, beribu hari setelah kesadaran itu, aku tidak bisa menahan diri. Meski bersama Feliciano, aku melakukan kembara diam-diam — mengais jejakmu. Nyaris tidak ada undangan pameran yang terabaikan. Dari Bentara Budaya ketika Nyoman Erawan menggelar 'Pralaya' hingga Musium Bank Indonesia ketika CP Bienalle 2005 'Urban Culture' yang menghebohkan itu digelar. Barangkali saja wajahmu menyembul di antara rupa seniman, atau di antara pengunjung. Tapi sia-sia. Jejakmu tak berbekas! Sampai perih mataku. Sampai perih jiwaku. Apakah engkau sembunyi dalam basah luka? Hingga engkau tak lagi kuasa sekadar menghirup aroma cat....
"Aku hanya ingin memberi tahu bahwa Sepanjang Braga sudah menjadi milikku. Seluruhnya, Mas! Feliciano membelinya untukku, sebagai maskawin, atau kami tidak pernah menikah!"
Itu rahasia yang kuungkap lebih dari lima tahun silam di hari terakhir pameranmu. Aku tahu, petugas galeri itu hanya bercerita: seorang warga asing memborong Sepanjang Braga di hari pertama pameran. Tapi aku... aku tidak pernah bermaksud memberangus jiwamu! Sedikit pun aku tidak pernah berharap bahwa engkau akan berhenti melukis setelah peristiwa itu. Bukankah kita pernah sepakat untuk tidak saling melukai? Bukankah.... "Honey, sepertinya, pameranmu bisa terselenggara. Caesar Palace Bandung kosong pada hari yang kamu rencanakan."
"Really?" Aku terlonjak. Feliciano mengangguk. Aku memeluknya senang. Di belakang punggungnya, mataku berkabut.
"Aku ingin seratus lukisan itu bisa kamu nikmati kapan saja kamu mau," tuturnya. Dan aku mendengar gemuruh di dadaku. Ya, kenangan itu selamanya menderas. Feliciano — sesungguh cinta — mengembalikan jejak langkah kita ke dalam genangan hari lampau. Setiap kali menghikmati Braga, tanpa mampu kucegah, jiwaku mengapung, atau hanyut, bersijingkat, dan melompat-lompat. Menarikan luka.... apakah aku terluka? Entahlah. Hanya, aku selalu merasa ada getar batin yang selalu gagal kuurai. Siapa sesungguhnya kamu bagi jiwaku? Dan siapa Feliciano bagi hidupku? Apa begitu sulit membenamkan kenangan kita ke sarang waktu — menganggap Sepanjang Braga tidak lebih seperti lukisan-lukisan lain? Bukankah hari ini dan esok adalah milik Feliciano? Tidakkah hari kemarin cukup bagi kita berdua? Tidak ada yang salah dan keliru dalam diri lelaki Filipina-Perancis yang kupilih sebagai pendamping hidupku itu. Ia mencintaiku sepenuh jiwa. Bukankah itu lebih dari cukup? "Besok malam ada pembukaan pameran di Galeri Maxima. Ikut?" Lihatlah, mata birunya senantiasa memancar hangat. Feliciano tahu persis kalau aku begitu mencintai lukisan. "Pameran siapa?" "Bambang Prasadhi."
Dan kusambut dengan sukacita. Tapi itu dulu. Entah dari mana datangnya, tiba-tiba aku menyadari ada hari dimana engkau menghilang dari komunitas pelukis. Mungkin sejak Sudjana Kerton memamerkan 'Di dalam Oplet' di Galeri Cemara, Agustus 2001 — pameran pertama yang kukunjungi setelah menikah dengan Feliciano. Atau bahkan sebelum itu. Yang jelas, beribu hari setelah kesadaran itu, aku tidak bisa menahan diri. Meski bersama Feliciano, aku melakukan kembara diam-diam — mengais jejakmu. Nyaris tidak ada undangan pameran yang terabaikan. Dari Bentara Budaya ketika Nyoman Erawan menggelar 'Pralaya' hingga Musium Bank Indonesia ketika CP Bienalle 2005 'Urban Culture' yang menghebohkan itu digelar. Barangkali saja wajahmu menyembul di antara rupa seniman, atau di antara pengunjung. Tapi sia-sia. Jejakmu tak berbekas! Sampai perih mataku. Sampai perih jiwaku. Apakah engkau sembunyi dalam basah luka? Hingga engkau tak lagi kuasa sekadar menghirup aroma cat....
"Aku hanya ingin memberi tahu bahwa Sepanjang Braga sudah menjadi milikku. Seluruhnya, Mas! Feliciano membelinya untukku, sebagai maskawin, atau kami tidak pernah menikah!"
Itu rahasia yang kuungkap lebih dari lima tahun silam di hari terakhir pameranmu. Aku tahu, petugas galeri itu hanya bercerita: seorang warga asing memborong Sepanjang Braga di hari pertama pameran. Tapi aku... aku tidak pernah bermaksud memberangus jiwamu! Sedikit pun aku tidak pernah berharap bahwa engkau akan berhenti melukis setelah peristiwa itu. Bukankah kita pernah sepakat untuk tidak saling melukai? Bukankah.... "Honey, sepertinya, pameranmu bisa terselenggara. Caesar Palace Bandung kosong pada hari yang kamu rencanakan."
"Really?" Aku terlonjak. Feliciano mengangguk. Aku memeluknya senang. Di belakang punggungnya, mataku berkabut.
CHAPTER 7:
KAYU BENGKOANG
KAYU BENGKOANG
Semula, pikiranku sangat sederhana. Seratus lukisan Sepanjang Braga yang dipamerkan di Galeri Soemardja itu aku minta dipindahkan ke galeri keluargaku. Dan karena kini ia milikku, aku bebas memamerkannya kapan saja dan di mana saja — sesuka yang aku mau.
Mungkin aku keliru memilih tempat. Mengapa harus di Bandung? Mengapa pula harus di jalan Braga? Seolah aku sengaja membaringkan kenangan di ranjang keabadian. "Lukisan ini sangat bagus," seseorang — yang kukenal sebagai salah satu manager Caesar Palace — bergumam di sebelahku. "Anda... suka?" Lukisan yang hendak digantung itu nyaris terlepas dari tanganku. Lukisan yang menggambarkan suasana Braga di bawah guyuran hujan lebat, ketika seluruh cahaya menjadi pias, dan sunyi demikian meraja. Lukisan yang mengabadikan peristiwa itu: seorang lelaki merunduk mencium....Jiwaku seketika gemetar. "Harganya berapa ya, Bu?" Ia bertanya serius. "Ngnng ...," suaraku gelagapan. "Tidak dijual!" Ia terperangah, setengah bingung. Sementara aku tiba-tiba merasa diserang migrain. Apakah nanti setiap pengunjung bertanya demikian? Tidak ada price-list di katalog....Dengan gugup, aku menyapu aula sekali pandang. Di sudut, Feliciano masih mengawasi penataan lukisan sembari berbincang dengan kurator kami. Masih tersisa banyak waktu sebelum pameran dibuka. Tiba-tiba aku ingin lari....
"Aku lapar, mau cari camilan," dan Feliciano mengangguk tersenyum. Dan, di sinilah aku — memelihara gelisah. Di Braga Permai. Di salah satu pojok kafe. Hanya ditemani segelas orange juice dan sepotong tiramisu. Alangkah sepi. Serupa kesepian yang menghantu Braga di ujung malam. Ketika kita memuaskan pertemuan terakhir — berabad silam, dan keloneng becak yang melintas tinggal sayup-sayup. Di luar kafe, sore makin menyusut.
Menyadari gerimis turun lagi, aku merapatkan scarf. Tapi udara yang dingin mengendapkan gigil di batin. Aku meremas tisyu, menghalau gelisah. Entah kenapa, bagiku, rinai hujan selalu menghantar rahasia pengembaraan. Tiba-tiba saja kudengar langkahmu dari masa lalu. Mengetuk-ngetuk trotoar sepanjang Braga, dari ujung ke ujung.Tanpa jemu. Seolah tak akan ada lagi malam di Braga sesudah itu. "Jangan pulang dulu. Tinggallah di Bandung sehari lagi...," suaramu yang bergetar mengiris sunyi. "Aku janji, aku akan datang lagi...." Apakah kini engkau juga akan datang? Kuusap mataku. "Sepertinya ibu menunggu seseorang?!" "Aku...," jiwaku terkesiap. Di depanku, pelayan kafe berdiri takzim. "Ada yang mencariku?" Semangatku memijar. "Belum...." Kutarik napas. Mataku kini tak sekadar hangat, tapi perih.
"Ia mungkin tidak jadi datang...." "Mungkin sebentar lagi," ia berusaha menghibur. "Minumnya mau ditambah?" "Ng... tidak. Terima kasih," aku berkemas. Apakah kenangan itu kini tak bernama? Sementara seluruh episode Braga — episode cinta yang tak pernah sampai — tengah utuh mengisahkan diri di Caesar Palace. Jika engkau pemilik sejati Braga, akankah engkau datang? Bukankah aku telah memanggilmu? Melalui pengumuman di suratkabar. Melalui wawancara di televisi. Mustahil kamu tidak mendengarnya. Kecuali jika kini kamu buta dan tuli.
Mungkin aku keliru memilih tempat. Mengapa harus di Bandung? Mengapa pula harus di jalan Braga? Seolah aku sengaja membaringkan kenangan di ranjang keabadian. "Lukisan ini sangat bagus," seseorang — yang kukenal sebagai salah satu manager Caesar Palace — bergumam di sebelahku. "Anda... suka?" Lukisan yang hendak digantung itu nyaris terlepas dari tanganku. Lukisan yang menggambarkan suasana Braga di bawah guyuran hujan lebat, ketika seluruh cahaya menjadi pias, dan sunyi demikian meraja. Lukisan yang mengabadikan peristiwa itu: seorang lelaki merunduk mencium....Jiwaku seketika gemetar. "Harganya berapa ya, Bu?" Ia bertanya serius. "Ngnng ...," suaraku gelagapan. "Tidak dijual!" Ia terperangah, setengah bingung. Sementara aku tiba-tiba merasa diserang migrain. Apakah nanti setiap pengunjung bertanya demikian? Tidak ada price-list di katalog....Dengan gugup, aku menyapu aula sekali pandang. Di sudut, Feliciano masih mengawasi penataan lukisan sembari berbincang dengan kurator kami. Masih tersisa banyak waktu sebelum pameran dibuka. Tiba-tiba aku ingin lari....
"Aku lapar, mau cari camilan," dan Feliciano mengangguk tersenyum. Dan, di sinilah aku — memelihara gelisah. Di Braga Permai. Di salah satu pojok kafe. Hanya ditemani segelas orange juice dan sepotong tiramisu. Alangkah sepi. Serupa kesepian yang menghantu Braga di ujung malam. Ketika kita memuaskan pertemuan terakhir — berabad silam, dan keloneng becak yang melintas tinggal sayup-sayup. Di luar kafe, sore makin menyusut.
Menyadari gerimis turun lagi, aku merapatkan scarf. Tapi udara yang dingin mengendapkan gigil di batin. Aku meremas tisyu, menghalau gelisah. Entah kenapa, bagiku, rinai hujan selalu menghantar rahasia pengembaraan. Tiba-tiba saja kudengar langkahmu dari masa lalu. Mengetuk-ngetuk trotoar sepanjang Braga, dari ujung ke ujung.Tanpa jemu. Seolah tak akan ada lagi malam di Braga sesudah itu. "Jangan pulang dulu. Tinggallah di Bandung sehari lagi...," suaramu yang bergetar mengiris sunyi. "Aku janji, aku akan datang lagi...." Apakah kini engkau juga akan datang? Kuusap mataku. "Sepertinya ibu menunggu seseorang?!" "Aku...," jiwaku terkesiap. Di depanku, pelayan kafe berdiri takzim. "Ada yang mencariku?" Semangatku memijar. "Belum...." Kutarik napas. Mataku kini tak sekadar hangat, tapi perih.
"Ia mungkin tidak jadi datang...." "Mungkin sebentar lagi," ia berusaha menghibur. "Minumnya mau ditambah?" "Ng... tidak. Terima kasih," aku berkemas. Apakah kenangan itu kini tak bernama? Sementara seluruh episode Braga — episode cinta yang tak pernah sampai — tengah utuh mengisahkan diri di Caesar Palace. Jika engkau pemilik sejati Braga, akankah engkau datang? Bukankah aku telah memanggilmu? Melalui pengumuman di suratkabar. Melalui wawancara di televisi. Mustahil kamu tidak mendengarnya. Kecuali jika kini kamu buta dan tuli.
CHAPTER 8:
BRAGA ADALAH CINTA
BRAGA ADALAH CINTA
Semula, pikiranku sangat sederhana. Seratus lukisan Sepanjang Braga yang dipamerkan di Galeri Soemardja itu aku minta dipindahkan ke galeri keluargaku. Dan karena kini ia milikku, aku bebas memperlakukannya — sesuka yang aku mau. Termasuk melelangnya!
Tapi, apakah harus setergesa ini? Meski engkau tak datang, aku belum seputus asa yang kau bayangkan. Aku masih menyimpan harapan. Tapi, lukisan itu.... Ya, Allah! Apa yang terjadi?!
Setengah tak percaya, kupandangi Sepanjang Braga satu demi satu. Semua telah diberi tanda bulatan merah — sold. Tanpa kecuali. Duniaku seketika runtuh. Siapa yang memborongnya?
Apakah engkau balas dendam? Seperti kesetanan, aku terbang mencari Feliciano.
"Braga...," bahuku beguncang hebat. Perasaanku terburai. "Kenapa aku nggak diberitahu?"
Apapun yang terjadi, lukisan itu tidak akan pernah kujual! Tangisku jebol. Feliciano meloncat dari tempat tidur. Direngkuhnya tubuh ringkihku. "Aku terpaksa melakukannya...." Aku mencari matanya. "Siapa pembelinya?" Bibirku bergetar. Diusapnya rambutku. "Aku!" "Apa?" Rasanya aku ingin teriak sekencang-kencangnya. "Sejak pembukaan pameran, banyak sekali peminatnya. Aku sampai lelah...," diacaknya rambutku. "Aku tidak ingin kehilangan lukisan itu. Jadi kuberi bulatan merah saja semuanya...." Mulutku ternganga. Dari jendela hotel, aku menyaksikan hujan kembali menderas mengguyur Bandung. ©
Tapi, apakah harus setergesa ini? Meski engkau tak datang, aku belum seputus asa yang kau bayangkan. Aku masih menyimpan harapan. Tapi, lukisan itu.... Ya, Allah! Apa yang terjadi?!
Setengah tak percaya, kupandangi Sepanjang Braga satu demi satu. Semua telah diberi tanda bulatan merah — sold. Tanpa kecuali. Duniaku seketika runtuh. Siapa yang memborongnya?
Apakah engkau balas dendam? Seperti kesetanan, aku terbang mencari Feliciano.
"Braga...," bahuku beguncang hebat. Perasaanku terburai. "Kenapa aku nggak diberitahu?"
Apapun yang terjadi, lukisan itu tidak akan pernah kujual! Tangisku jebol. Feliciano meloncat dari tempat tidur. Direngkuhnya tubuh ringkihku. "Aku terpaksa melakukannya...." Aku mencari matanya. "Siapa pembelinya?" Bibirku bergetar. Diusapnya rambutku. "Aku!" "Apa?" Rasanya aku ingin teriak sekencang-kencangnya. "Sejak pembukaan pameran, banyak sekali peminatnya. Aku sampai lelah...," diacaknya rambutku. "Aku tidak ingin kehilangan lukisan itu. Jadi kuberi bulatan merah saja semuanya...." Mulutku ternganga. Dari jendela hotel, aku menyaksikan hujan kembali menderas mengguyur Bandung. ©