selamat datang di blog ini

Sabtu, 09 April 2011

PERADABAN YUNANI KUNO

Peradaban Yunani lahir di lingkungan geografis yang sebenarnya tidak mendukung.
Tanah Yunani tidak seperti Mesopotamia, Huang Ho, ataupun Mesir yang subur. Yunan
merupakan tanah yang kering, dengan banyak benteng alam yang kuat berupa jurang-jurang yang terjal, gunung-gunung yang tinggi, serta pantai-pantai yang curam dan terjal. Hujan sangat jarang turun di Yunani.



Secara umum perkembangan Yunani dapat dibagi menjadi 4 periode,
yaitu sebagai berikut.
1. Fase pembentukan negara-negara kota (Polis) yang berlangsung antara
1000-800 SM.
2. Fase ekspansi negara-negara kota atau fase kolonisasi polis-polis Yunani.
Ekspansi polis-polis Yunani ke arah barat sampai ke Italia Selatan, sedangkan
ke arah Timur sampai ke Asia Kecil (Troya)
3. Masa kejayaan polis-polis Yunani (600-400SM)
4. Masa Keruntuhan Yunani (400-300 SM), tetapi kebudayaan Yunani
berkembang di luar daerah Yunani itu sendiri.

Menurut ahli anthropolog, bangsa Yunani berasal dari bangsa Indo-
Jerman. Nenek moyang bangsa Yunani yaitu bangsa Ionia, Helen, Akea,
dan Yonia. Bangsa Yunani terdiri atas beberapa suku, yaitu suku Epirot,
Ionia, Goria, Spharta. Masyarakat Yunani umumnya bermata pencaharian
sebagai pedagang dan bertani.
Di bawah ini merupakan polis-polis yang hidup pada Zaman Yunani
Kuno antara lain sebagai berikut.
1. Athena
Athena merupakan Polis yang menerapkan sistem Demokrasi. Sistem
itu diperkenalkan oleh Solon (638 SM-559 SM). Dengan sistem itu, kekuasaan
berada di tangan dewan rakyat. Pelaksanaan pemerintahan dilakukan oleh
sembilan orang Archon yang setiap tahun diganti. Para Archon diawasi
oleh Aeropagus (Mahkamah Agung) yang para anggotanya berasal dari
mantan anggota Archon. Athena banyak menghasilkan para filosof yang
pemikirannya sangat berpengaruh pada kehidupan manusia hingga dewasa
ini. Para Filosof itu antara lain sebagai berikut
a. Tahles. Dia terkenal sebagai ahli matematika dan astronomi. Thales dikenal
dengan perhitungannya tentang gerhana, menghitung ketinggian piramida
dan menghitung bayangannya. Selain itu Thales berpendapat bahwa bumi
ini berasal dari air.
b. Anaximander. Dia berpendapat bahwa segala apa yang ada di dunia
ini berasal dari bahan tunggal yang bukan air. Selain itu, Anaximander
berpendapat bahwa bumi itu seperti silinder yang mempunyai ukuran
lebih kecil daripada matahari.
c. Anaximenes. Dia berpendapat bahwa bahan pembentuk alam adalah
udara.
d. Pytagoras. Dia terkenal sebagai ahli matematika, dia percaya bahwa
segala sesuatu itu pada aturannya menurut bilangan tertentu. Sehubungan
dengan hal itu, Pytagoras berpendapat bahwa melalui pengetahuan tentang
bilangan, kita akan memahami tentang kenyataan.
e. Heraclitus. Dia adalah seorang filosof mengembangkan pemikiran tentang
logika.
f. Parmenindes. Filosof ini mengemukakan pentingnya logika dalam
mengembangkan ilmu pengetahuan.
g. Hippocartus. Dia adalah seorang filosof yang ahli dalam bidang kedokteran.
h. Socrates. Filosof ini mengajarkan kepada murid-muridnya bahwa manusia
dan lingkungannya merupakan subjek untuk mendapatkan pengetahuan
tentang kebenaran.
i. Plato. Filosof ini berpendapat bahwa orang bisa berperilaku baik jika
ia telah mempunyai persepsi perilaku apa yang disebut baik dan jahat.
Plato juga berpendapat bahwa sumber kekuasaan adalah pengetahuan
j. Aristoteles. Filosof ini mengembangkan ajaran tentang politik dan etika.
Menurut Aritoteles, pada dasarnya setiap manusia memiliki hak yang
sama yang harus diakui. Kebahagian menurut Aristoteles adalah terpenuhinya semua kebutuhan kita. Di bidang logika, Aristoteles mengembangkan
silogisme.
Lahirnya tradisi intelektual dari bangsa Yunani disebabkan oleh faktorfaktor
berikut ini.
1. Faktor geografis dari Yunani bergunung-gunung dan tidak subur. Hal
ini memacu para penduduknya untuk berpikir dan berkreasi agar mampu
bertahan hidup.
2. Orang Yunani membangun hubungan dengan bangsa-bangsa lain seperti
Mesir, Babylonia, dan yang lainnya, sehingga terjadi tukar-menukar
pengetahuan
3. Penduduk Yunani memiliki hak otonomi kemerdekaan dan kemakmuran
di bidang ekonomi, sehingga mereka lebih berkonsentrasi untuk menumbuhkembangkan
pengetahuan.
4. Bangsa Yunani menghargai logika dan cara berpikir yang rasional.
5. Bangsa Yunani selalu terlibat aktif dalam urusan politik, ekonomi, dan
sosial. Hal itu membuat mereka selalu berusaha untuk mencari pemecahan
dalam setiap masalah yang muncul.

2. Spartha
Pemerintahan Spartha didasari oleh pemerintahan yang bergaya militeristik.
Pola ini diperkenalkan oleh Lycurgus tahun 625 SM. Pemerintahan dipegang
oleh dua orang raja, sementara pelaksana tertinggi dipegang oleh suatu
dewan yang bernama Ephor yang terdiri dari lima orang. Setiap Ephor
memiliki dewan tua yang berusia lebih dari 60 tahun, yang bertugas untuk
mempersiapkan UU yang diajukan kepada dewan rakyat (perwakilan dari
semua warga kota). Para pemuda yang terseleksi secara fisik dan mental,
dijadikan tentara.
Keberadaan polis-polis di Yunani mengakibatkan mereka saling bersaing
dalam memperebutkan hegemoni kekuasaan atas wilayah Yunani. Sehingga
tidaklah mengherankan apabila di Yunani selalu terjadi peperangan di antara
sesama polis-polis tersebut. Tetapi, datang tentara Persia yang akan menginvasi
daerah Yunani, maka polis-polis yang ada di Yunani terutama Spharta dan

Athena, bersatu untuk menghadapi Persia tersebut. Pertempuran antara
Yunani dan Persia terjadi beberapa kali.
a. Perang Persia Yunani I (492 SM). Peperangan antara Yunani dan Persia
tidak terjadi karena armada tempur Persia dihancurkan oleh badai dan
terpaksa harus pulang kembali.
b. Perang Persia Yunani II (490 SM). Pertempuran terjadi di Marathon,
pertempuran itu berhasil dimenangkan oleh bangsa Yunani. Para prajurit Yunani harus lari sepanjang 42 km antara Marathon dan Athena dalam
rangka berkonsolidasi dan meminta bantuan.
c. Perang Yunani dan Persia III. Bangsa Persia datang kembali, dan pasukan
Yunani menghadapinya di Termopile. Persia dapat dipukul mundur, namun
Raja Spartha terbunuh dalam pertempuran itu.

Setelah peperangan antara Yunani dan Persia reda, maka muncullah politik
koalisi militer yaitu Persatuan Peloponessos (Spartha dan beberapa polis
lainnya) serta Persatuan Delosatika (Athena dan polis lainnya). Koalisi militer
ini pada akhirnya saling berperang untuk memperebutkan hegemoni (Perang
Peloponessos). Pertempuran demi pertempuran mengakibatkan polis-polis
Yunani itu mengalami kelemahan, dan situasi itu dimanfaatkan oleh raja Macedonia
yaitu Alexander Agung untuk menyerang. Akhirnya Alexander Agung berhasil
menguasai Yunani. Namun, setelah Alexander wafat, wilayahnya terpecahpecah
menjadi beberapa didopos yaitu Yunani, Syria, dan Mesir.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar