SEINDAH MATA KRISTALNYA
Malam
bergulir perlahan. Detak jarum jam dinding di kamarku terdengar jelas. Kota
Jakarta terlelap dalam tidur. Hanya sesekali terdengar raungan kendaraan.
Menggerung keras lalu lenyap ditelan kesunyian. Pukul dua dinihari. Aku menyeka
sebuah luka memar di sekitar kelopak mataku dengan air hangat. Bekas luka
pukulan itu, setelah seminggu perlahan-lahan mulai hilang.
Kini aku menatap wajahku sendiri di dalam cermin. Kenapa itu kamu lakukan,
Renaldi? Kenapa kamu mati-matian membela gadis itu? Kenapa kamu tidak pernah
berkompromi kepada seseorang yang telah membuat mata bening milik gadis itu
mempunyai pesona lain dalam hatimu, Renaldi? Ataukah, kamu mempunyai perasaan
khusus pada gadis itu yang sampai saat ini masih kamu sembunyikan? Yang sampai
detik ini tidak pernah kamu ungkapkan?!
bergulir perlahan. Detak jarum jam dinding di kamarku terdengar jelas. Kota
Jakarta terlelap dalam tidur. Hanya sesekali terdengar raungan kendaraan.
Menggerung keras lalu lenyap ditelan kesunyian. Pukul dua dinihari. Aku menyeka
sebuah luka memar di sekitar kelopak mataku dengan air hangat. Bekas luka
pukulan itu, setelah seminggu perlahan-lahan mulai hilang.
Kini aku menatap wajahku sendiri di dalam cermin. Kenapa itu kamu lakukan,
Renaldi? Kenapa kamu mati-matian membela gadis itu? Kenapa kamu tidak pernah
berkompromi kepada seseorang yang telah membuat mata bening milik gadis itu
mempunyai pesona lain dalam hatimu, Renaldi? Ataukah, kamu mempunyai perasaan
khusus pada gadis itu yang sampai saat ini masih kamu sembunyikan? Yang sampai
detik ini tidak pernah kamu ungkapkan?!
"Hei,
Janna. Kamu tahu tidak kenapa aku sampai saat ini terus memanggilmu,
Kristal?" Suatu hari enam bulan
lalu menjelang pelajaran matematika aku membisikkan kalimat itu. Janna
menatapku. "Karena aku anak Mama yang ke mana pun pergi selalu diantar dan
dijaga?" sahut Jannya yakin. Aku menggeleng sembari tersenyum. "Karena
aku merupakan kaum hawa, yang sering diidentikkan oleh kaummu sebagai penghias
dunia kan?" Janna melirikku. Membuka tas sekolah dan mengeluarkan diktat.
Aku tertawa. Lantas menggeleng. "Dih, memangnya aksesoris?"
ledekku. Janna mengernyitkan
keningnya. "Karena aku seorang
gadis yang hatinya mudah patah berkeping-keping seperti kristal?"
pancingnya, bertanya. Lagi-lagi aku
menggeleng. "Apaan dong, Re?" Janna penasaran. Menatapku beberapa
saat, menanti jawaban yang akan keluar dari mulutku. "Karena kamu
mempunyai mata bagus dan sebening kristal," jawabku kemudian sembari
menikmati mata indah milik gadis itu. Janna membelalak. Mencubitku gemas sambil
menggigit bibirnya sendiri. "Jujur, Na. Matamu bagus. Bening bak telaga.
Juga teduh. Malah kadang-kadang aku sering berkaca di bola matamu itu,"
kubiarkan wajah Janna tersipu-sipu. Tinggi semampai, wajah terkesan aristokrat,
dan bermata bagus, itu kesan pertama ketika aku mengenal Janna. Ia memang
favorit di sekolahku. Ramah dan supel. Kesannya yang cuek dan tidak pernah
memilih-milih teman, membuat Janna tumbuh menjadi cewek favorit di SMA-ku. "Kamu
tahu apa yang ada di dalam hatiku saat ini, Kristal?" Mataku menatap lurus
ke depan. Memperhatikan Pak Tito yang mulai sibuk memeriksa pe-er yang
diberikan hari kemarin. "Apa, Re?" bisik Janna lirih. "Aku tidak
ingin seorang pun yang akan melukai mata bagus itu." Aku tersenyum.
Melindungi kupingku dari cubitan Janna dengan buku diktat. "Trims, Re.
Kamu memang sahabatku yang terbaik." Tanpa melirikku, Janna meluncurkan
kalimat itu. Keakrabanku dengan Janna, sudah terjalin sejak kelas satu SMA.
Malah sebagaian teman-teman menyangka kalau Janna adalah cewekku. Tetapi aku
tidak pernah berpikir untuk itu. Tekadku waktu itu hanya satu. Aku ingin
menjadi sahabat Janna yang terbaik. Tanpa menodai rasa persahabatanku itu
dengan perasaan cinta yang sering berakhir dengan kebencian. Aku tak ingin hal
itu terjadi. Aku hanya ingin melihat mata kristal Janna itu terus bersinar
cerah. Bibir sensualnya terus berceloteh riang. Itu saja keinginanku. Meskipun
aku sempat menangkap sinyal kalau sebenarnya Janna sering memberiku lampu hijau
untuk mengubah persahabatan itu menjadi hubungan yang lebih khusus. Tetapi
ternyata aku ragu. Takut kalau suatu saat aku melukai hati Janna. Takut kalau
suat saat aku akan menorehkan sembilu di hati gadis itu dan membuat mata
kristal miliknya berubah kelabu. Sampai suatu saat Janna mengatakan padaku
kalau Bian, anak II.3.B, yang sejak kelas satu mengejarnya dengan sabar, telah
menjadi bagian dari hari-hari Janna. Setelah hal itu terjadi, di hati kecilku,
tiba-tiba kurasakan ada sesuatu yang hilang. Dan aku yakin sesuatu itu adalah
Janna.
Janna. Kamu tahu tidak kenapa aku sampai saat ini terus memanggilmu,
Kristal?" Suatu hari enam bulan
lalu menjelang pelajaran matematika aku membisikkan kalimat itu. Janna
menatapku. "Karena aku anak Mama yang ke mana pun pergi selalu diantar dan
dijaga?" sahut Jannya yakin. Aku menggeleng sembari tersenyum. "Karena
aku merupakan kaum hawa, yang sering diidentikkan oleh kaummu sebagai penghias
dunia kan?" Janna melirikku. Membuka tas sekolah dan mengeluarkan diktat.
Aku tertawa. Lantas menggeleng. "Dih, memangnya aksesoris?"
ledekku. Janna mengernyitkan
keningnya. "Karena aku seorang
gadis yang hatinya mudah patah berkeping-keping seperti kristal?"
pancingnya, bertanya. Lagi-lagi aku
menggeleng. "Apaan dong, Re?" Janna penasaran. Menatapku beberapa
saat, menanti jawaban yang akan keluar dari mulutku. "Karena kamu
mempunyai mata bagus dan sebening kristal," jawabku kemudian sembari
menikmati mata indah milik gadis itu. Janna membelalak. Mencubitku gemas sambil
menggigit bibirnya sendiri. "Jujur, Na. Matamu bagus. Bening bak telaga.
Juga teduh. Malah kadang-kadang aku sering berkaca di bola matamu itu,"
kubiarkan wajah Janna tersipu-sipu. Tinggi semampai, wajah terkesan aristokrat,
dan bermata bagus, itu kesan pertama ketika aku mengenal Janna. Ia memang
favorit di sekolahku. Ramah dan supel. Kesannya yang cuek dan tidak pernah
memilih-milih teman, membuat Janna tumbuh menjadi cewek favorit di SMA-ku. "Kamu
tahu apa yang ada di dalam hatiku saat ini, Kristal?" Mataku menatap lurus
ke depan. Memperhatikan Pak Tito yang mulai sibuk memeriksa pe-er yang
diberikan hari kemarin. "Apa, Re?" bisik Janna lirih. "Aku tidak
ingin seorang pun yang akan melukai mata bagus itu." Aku tersenyum.
Melindungi kupingku dari cubitan Janna dengan buku diktat. "Trims, Re.
Kamu memang sahabatku yang terbaik." Tanpa melirikku, Janna meluncurkan
kalimat itu. Keakrabanku dengan Janna, sudah terjalin sejak kelas satu SMA.
Malah sebagaian teman-teman menyangka kalau Janna adalah cewekku. Tetapi aku
tidak pernah berpikir untuk itu. Tekadku waktu itu hanya satu. Aku ingin
menjadi sahabat Janna yang terbaik. Tanpa menodai rasa persahabatanku itu
dengan perasaan cinta yang sering berakhir dengan kebencian. Aku tak ingin hal
itu terjadi. Aku hanya ingin melihat mata kristal Janna itu terus bersinar
cerah. Bibir sensualnya terus berceloteh riang. Itu saja keinginanku. Meskipun
aku sempat menangkap sinyal kalau sebenarnya Janna sering memberiku lampu hijau
untuk mengubah persahabatan itu menjadi hubungan yang lebih khusus. Tetapi
ternyata aku ragu. Takut kalau suatu saat aku melukai hati Janna. Takut kalau
suat saat aku akan menorehkan sembilu di hati gadis itu dan membuat mata
kristal miliknya berubah kelabu. Sampai suatu saat Janna mengatakan padaku
kalau Bian, anak II.3.B, yang sejak kelas satu mengejarnya dengan sabar, telah
menjadi bagian dari hari-hari Janna. Setelah hal itu terjadi, di hati kecilku,
tiba-tiba kurasakan ada sesuatu yang hilang. Dan aku yakin sesuatu itu adalah
Janna.
CHAPTER 2:
JANGAN
SAKITI HATINYA
JANGAN
SAKITI HATINYA
Lalu
semuanya memang berubah. Hari-hari Janna memang tak pernah tersisa lagi
untukku. Aku lebih banyak berdiam diri, dan berusaha keras untuk tidak bertegur
sapa. Hanya sesekali aku meliriknya jika kebetulan melewati meja Janna. Janna
pun demikian. Tampaknya ia tahu akan sikapku. Ia terus menghindariku. Tak
pernah lagi mengajakku ke kantin, ke perpustakaan. Aku pun maklum karena Bian
selalu ada di sampingnya. Hampir enam bulan hal itu terjadi. Sampai suatu saat
aku melihat mendung menggayut di wajah Janna. Dan hal itu membuat hati kecilku
tidak tega melihatnya "Kamu punya maslah, Kristal?" Usai pelajaran
fisika, aku menghampiri meja Janna. Mata Janna sejenak berbinar menatapku.
Sesaat kemudian mendung kembali menggelayut. "Re, kita ke kantin,
ya?" Bibir sensual itu tersenyum ragu. Ini adalah senyum pertama yang
diberikan Janna setelah sekian bulan kami tak bertegur sapa. "Kamu mau
traktir aku, Kristal?" tanyaku sembari membantu memasukkan buku-buku
pelajaran yang berceceran di meja belajarnya. "Ada yang ingin
kubicarakan," jawab Janna. Jari lentiknya menyalin rumus terakhir Teori
Einstein dari papan tulis. "Punya problem, Kristal?" tanyaku lagi.
Meraih tas sekolahnya dan memasukkan ke dalam laci meja. Janna mengangguk. "Problem
apa?" Kutatap wajah manis Janna. Ada kerinduan meledak di relung hatiku.
Mata itu, Tuhan! Betapa aku sangat merindukan itu! Tapi kenapa mata kristal itu
berubah kelabu?! "Kita bicara di kantin saja ya, Re?" rujuk Janna. "Terlalu
privacy?" Janna mengangguk lagi. "Kantin pasti ramai. Bagaimana
kalau kita ke cafe Pelangi?" "Oke, Re. Kita ke cafe," jawab
Janna seraya menggandeng tanganku keluar dari kelas.
semuanya memang berubah. Hari-hari Janna memang tak pernah tersisa lagi
untukku. Aku lebih banyak berdiam diri, dan berusaha keras untuk tidak bertegur
sapa. Hanya sesekali aku meliriknya jika kebetulan melewati meja Janna. Janna
pun demikian. Tampaknya ia tahu akan sikapku. Ia terus menghindariku. Tak
pernah lagi mengajakku ke kantin, ke perpustakaan. Aku pun maklum karena Bian
selalu ada di sampingnya. Hampir enam bulan hal itu terjadi. Sampai suatu saat
aku melihat mendung menggayut di wajah Janna. Dan hal itu membuat hati kecilku
tidak tega melihatnya "Kamu punya maslah, Kristal?" Usai pelajaran
fisika, aku menghampiri meja Janna. Mata Janna sejenak berbinar menatapku.
Sesaat kemudian mendung kembali menggelayut. "Re, kita ke kantin,
ya?" Bibir sensual itu tersenyum ragu. Ini adalah senyum pertama yang
diberikan Janna setelah sekian bulan kami tak bertegur sapa. "Kamu mau
traktir aku, Kristal?" tanyaku sembari membantu memasukkan buku-buku
pelajaran yang berceceran di meja belajarnya. "Ada yang ingin
kubicarakan," jawab Janna. Jari lentiknya menyalin rumus terakhir Teori
Einstein dari papan tulis. "Punya problem, Kristal?" tanyaku lagi.
Meraih tas sekolahnya dan memasukkan ke dalam laci meja. Janna mengangguk. "Problem
apa?" Kutatap wajah manis Janna. Ada kerinduan meledak di relung hatiku.
Mata itu, Tuhan! Betapa aku sangat merindukan itu! Tapi kenapa mata kristal itu
berubah kelabu?! "Kita bicara di kantin saja ya, Re?" rujuk Janna. "Terlalu
privacy?" Janna mengangguk lagi. "Kantin pasti ramai. Bagaimana
kalau kita ke cafe Pelangi?" "Oke, Re. Kita ke cafe," jawab
Janna seraya menggandeng tanganku keluar dari kelas.
CHAPTER 3:
CINTA
MEREKAH DI PENGHUJUNG LARA
CINTA
MEREKAH DI PENGHUJUNG LARA
Cafe Pelangi
terletak persis di seberang jalan dari sekolahku. Cafe mungil
itu merupakan tempat favorit yang kusinggahi bersama Janna. Tempatnya asri. Ada
musik lembut dari tiupan saksofon Kenny G., yang kadang-kadang diselingi
hentakan cadas kelompok band Linkin Park. Aku sengaja memilih tempat di sudut cafe. Hanya
ada seorang pengunjung yang terlihat santai menikmati jus apel dan sebatang
rokok. Lelaki separo baya itu terlihat santai dengan dunianya. Sesekali
menyedot sigaret di bibirnya lalu asapnya dihembuskan ke langit-langit cafe. Asap
rokok itu melayang-layang sejenak lalu melesat dan lenyap lewat jendela cafe. "Kamu
mau pesan apa, Kristal?" Aku mulai membuka-buka daftar menu yang
tergeletak di atas meja.
"Kamu masih memanggilku Kristal, Re?" Aku tersenyum. "Aku akan
terus memanggilmu, Kristal," sahutku. Menelusuri wajah aristokrat yang
telah berbulan-bulan tidak pernah lagi kutatap. "Oya, mau pesan apa?"
"Aku tidak pesan apa-apa, Re," sahut Janna. "Teh botol,
ya?" tawarku. "Terserah kamu saja." Aku memesan dua teh botol
dan dua bungkus kentang goreng.
"Sekarang kamu ingin membicarakan apa?" Aku memulai pembicaraan
serius usai menyerahkan pesanan kepada pelayan. Janna menatapku sejenak. Gadis
itu masih terlihat ragu-ragu untuk mengungkapkan masalahnya. "Soal Bian,
Re." Akhirnya bibir sensual itu terbuka dengan berat.
"Bian?" Janna mengangguk. Teh botol dan kentang goreng pesanan tiba
di meja kami. "Ada apa dengan Bian?" tanyaku serius. Janna menatapku
dengan wajah murung.
"Dia selingkuh, Re." Bibir sensualnya bergetar. Dua butir bening
menggelinding dari matanya. Merembes lamat di kedua pipinya yang putih. Sesuatu
mengiris ulu hatiku! Aku mengambil tisyu dan mengeringkan cairan bening itu
dari pipinya. "Aku sedih mendengarnya. Kamu tahu, Kristal. Aku kadang sering
berdoa agar hubungan kamu dengan Bian abadi," kalimatku mengambang. Aku
menjangkau teh botol dan membasahi kerongkonganku dengan cairan manis itu. Janna
menatapku tak berkedip. "Aku sendiri tidak tahu, Re. Kenapa Bian tega
melakukan itu." Ada isak tangis di sela-sela kalimat Janna. "Kamu
yakin Bian mengkhianati kamu?" "Aku memergoki sendiri, Bian berjalan
dengan mesra dengan seorang cewek." "Mungkin itu saudaranya?"
"Bukan, Re. Saat itu juga aku menghampiri Bian. Dan Bian mengatakan kalau
sebenarnya dia tidak mencintai aku!" Aku tersedak. "Begitu?!" "Ya,
Re. Menyakitkan. Aku seperti sampah tak berguna di depan cewek Bian yang baru.
Aku malu, Re." Kini aliran sungai dari kelopak mata itu mengalir deras. "Berarti
Bian itu berengsek, Kristal! Dan, aku ingin memberi pelajaran padanya!"
Sesuatu meledak di hatiku, memaksaku mengatupkan geraham dan mengepalkan tangan
dengan keras. "Ja-jangan, Re!" "Kristal, aku pernah berjanji,
aku tidak ingin siapa pun melukai hatimu!" "Aku tahu, Re. Tapi bukan
itu yang aku inginkan." Janna menghela napas. Di luar cafe, angin
bergerak gemulai. Menggoyang-goyangkan pucuk flamboyan dengan sesekali
menerbangkan bunga-bunga dari rantingnya. "Aku hanya ingin meminta maaf,
Re. Selama ini aku telah membuat jarak dengan kamu," ucap Janna lembut.
Menatapku untuk beberapa saat dengan mimik bersalah. "Lupakanlah, Kristal.
Aku maklum." "Kamu masih menganggap aku sahabat, Re?" Janna menatapku
dengan sungguh-sungguh. Aku mengangguk. "Kamu masih sahabatku yang
terbaik, Kristal." Sesuatu kembali berkelebat di kelopak mata Janna. Mata
bening itu kembali bersinar ceria. Dan aku menikmatinya.
terletak persis di seberang jalan dari sekolahku. Cafe mungil
itu merupakan tempat favorit yang kusinggahi bersama Janna. Tempatnya asri. Ada
musik lembut dari tiupan saksofon Kenny G., yang kadang-kadang diselingi
hentakan cadas kelompok band Linkin Park. Aku sengaja memilih tempat di sudut cafe. Hanya
ada seorang pengunjung yang terlihat santai menikmati jus apel dan sebatang
rokok. Lelaki separo baya itu terlihat santai dengan dunianya. Sesekali
menyedot sigaret di bibirnya lalu asapnya dihembuskan ke langit-langit cafe. Asap
rokok itu melayang-layang sejenak lalu melesat dan lenyap lewat jendela cafe. "Kamu
mau pesan apa, Kristal?" Aku mulai membuka-buka daftar menu yang
tergeletak di atas meja.
"Kamu masih memanggilku Kristal, Re?" Aku tersenyum. "Aku akan
terus memanggilmu, Kristal," sahutku. Menelusuri wajah aristokrat yang
telah berbulan-bulan tidak pernah lagi kutatap. "Oya, mau pesan apa?"
"Aku tidak pesan apa-apa, Re," sahut Janna. "Teh botol,
ya?" tawarku. "Terserah kamu saja." Aku memesan dua teh botol
dan dua bungkus kentang goreng.
"Sekarang kamu ingin membicarakan apa?" Aku memulai pembicaraan
serius usai menyerahkan pesanan kepada pelayan. Janna menatapku sejenak. Gadis
itu masih terlihat ragu-ragu untuk mengungkapkan masalahnya. "Soal Bian,
Re." Akhirnya bibir sensual itu terbuka dengan berat.
"Bian?" Janna mengangguk. Teh botol dan kentang goreng pesanan tiba
di meja kami. "Ada apa dengan Bian?" tanyaku serius. Janna menatapku
dengan wajah murung.
"Dia selingkuh, Re." Bibir sensualnya bergetar. Dua butir bening
menggelinding dari matanya. Merembes lamat di kedua pipinya yang putih. Sesuatu
mengiris ulu hatiku! Aku mengambil tisyu dan mengeringkan cairan bening itu
dari pipinya. "Aku sedih mendengarnya. Kamu tahu, Kristal. Aku kadang sering
berdoa agar hubungan kamu dengan Bian abadi," kalimatku mengambang. Aku
menjangkau teh botol dan membasahi kerongkonganku dengan cairan manis itu. Janna
menatapku tak berkedip. "Aku sendiri tidak tahu, Re. Kenapa Bian tega
melakukan itu." Ada isak tangis di sela-sela kalimat Janna. "Kamu
yakin Bian mengkhianati kamu?" "Aku memergoki sendiri, Bian berjalan
dengan mesra dengan seorang cewek." "Mungkin itu saudaranya?"
"Bukan, Re. Saat itu juga aku menghampiri Bian. Dan Bian mengatakan kalau
sebenarnya dia tidak mencintai aku!" Aku tersedak. "Begitu?!" "Ya,
Re. Menyakitkan. Aku seperti sampah tak berguna di depan cewek Bian yang baru.
Aku malu, Re." Kini aliran sungai dari kelopak mata itu mengalir deras. "Berarti
Bian itu berengsek, Kristal! Dan, aku ingin memberi pelajaran padanya!"
Sesuatu meledak di hatiku, memaksaku mengatupkan geraham dan mengepalkan tangan
dengan keras. "Ja-jangan, Re!" "Kristal, aku pernah berjanji,
aku tidak ingin siapa pun melukai hatimu!" "Aku tahu, Re. Tapi bukan
itu yang aku inginkan." Janna menghela napas. Di luar cafe, angin
bergerak gemulai. Menggoyang-goyangkan pucuk flamboyan dengan sesekali
menerbangkan bunga-bunga dari rantingnya. "Aku hanya ingin meminta maaf,
Re. Selama ini aku telah membuat jarak dengan kamu," ucap Janna lembut.
Menatapku untuk beberapa saat dengan mimik bersalah. "Lupakanlah, Kristal.
Aku maklum." "Kamu masih menganggap aku sahabat, Re?" Janna menatapku
dengan sungguh-sungguh. Aku mengangguk. "Kamu masih sahabatku yang
terbaik, Kristal." Sesuatu kembali berkelebat di kelopak mata Janna. Mata
bening itu kembali bersinar ceria. Dan aku menikmatinya.
CHAPTER 4:
SESUNGGUHNYA
AKU CINTA KAMU
SESUNGGUHNYA
AKU CINTA KAMU
Siang,
sepulang sekolah aku sengaja meninggalkan Janna. Bersembunyi di kantin lalu
menunggu kelas Bian bubaran. Aku telah berjanji akan memberi pelajaran buat
Bian yang sok playboy. Yang telah dengan lancang dan sengaja mencampakkan cinta tulus
Janna. Tepat pukul satu kelas Bian bubaran. Buru-buru aku berlari dan menjejeri
langkah cowok bertubuh gempal itu.
"Kenapa kamu khianati, Janna?!" Aku cegat langkah Bian. Wajah cowok
itu tersentak, sejenak, lalu menghentikan langkahnya. Ditatapnya mataku tajam,
lantas tersenyum dengan pongah.
Ya, Tuhan! Rasa-rasanya ingin kulayangkan sebuah tinju ke hidungnya yang
bangir! "Kamu ingin menjadi pahlawan?" lontarnya seringan kapas. Teman-teman
sekelas Bian mengerubuti aku.
"Pukul, Bi!" teriak salah seorang teman Bian yang berdiri di sisi
Bian. "Hajar!" Satu lagi kawan sekelas Bian membakar hati Bian. Tanpa
diselingi teriakan yang ketiga, Bian si Jagoan Sekolah melayangkan pukulan yang
sangat keras ke wajahku. Aku terhuyung sesaat karena tidak menyangka Bian akan
bergerak secepat itu. Beruntung sebuah tiang menahan tubuhku. Lalu aku
membalas, menghajar Bian dengan tendangan kempo. Bian terhempas oleh cangkungan
kakiku tadi, tampak meringis berusaha menahan sakit. Namun secepat kilat
tubuhnya yang gempal itu menerkam aku. Siswi-siswi yang melihat adegan itu
menjerit-jerit ketakutan. Napasku tersengal saat tubuh kekar Bian menghimpitku.
Berkali-kali bogem mentah miliknya hinggap di wajahku. Sampai suatu saat
beberapa guru memisahkan perkelahian satu lawan satu itu. Akhirnya, Bian dan
aku diskors satu minggu akibat perkelahian memalukan itu! Namun aku tidak
menyesal, meski harus dikeluarkan dari sekolah sekalipun! Membela dan
melindungi Janna adalah harkat tertinggi dalam hidupku. Aku tidak ingin ada
orang yang menyakiti hatinya. Tidak siapa pun!
sepulang sekolah aku sengaja meninggalkan Janna. Bersembunyi di kantin lalu
menunggu kelas Bian bubaran. Aku telah berjanji akan memberi pelajaran buat
Bian yang sok playboy. Yang telah dengan lancang dan sengaja mencampakkan cinta tulus
Janna. Tepat pukul satu kelas Bian bubaran. Buru-buru aku berlari dan menjejeri
langkah cowok bertubuh gempal itu.
"Kenapa kamu khianati, Janna?!" Aku cegat langkah Bian. Wajah cowok
itu tersentak, sejenak, lalu menghentikan langkahnya. Ditatapnya mataku tajam,
lantas tersenyum dengan pongah.
Ya, Tuhan! Rasa-rasanya ingin kulayangkan sebuah tinju ke hidungnya yang
bangir! "Kamu ingin menjadi pahlawan?" lontarnya seringan kapas. Teman-teman
sekelas Bian mengerubuti aku.
"Pukul, Bi!" teriak salah seorang teman Bian yang berdiri di sisi
Bian. "Hajar!" Satu lagi kawan sekelas Bian membakar hati Bian. Tanpa
diselingi teriakan yang ketiga, Bian si Jagoan Sekolah melayangkan pukulan yang
sangat keras ke wajahku. Aku terhuyung sesaat karena tidak menyangka Bian akan
bergerak secepat itu. Beruntung sebuah tiang menahan tubuhku. Lalu aku
membalas, menghajar Bian dengan tendangan kempo. Bian terhempas oleh cangkungan
kakiku tadi, tampak meringis berusaha menahan sakit. Namun secepat kilat
tubuhnya yang gempal itu menerkam aku. Siswi-siswi yang melihat adegan itu
menjerit-jerit ketakutan. Napasku tersengal saat tubuh kekar Bian menghimpitku.
Berkali-kali bogem mentah miliknya hinggap di wajahku. Sampai suatu saat
beberapa guru memisahkan perkelahian satu lawan satu itu. Akhirnya, Bian dan
aku diskors satu minggu akibat perkelahian memalukan itu! Namun aku tidak
menyesal, meski harus dikeluarkan dari sekolah sekalipun! Membela dan
melindungi Janna adalah harkat tertinggi dalam hidupku. Aku tidak ingin ada
orang yang menyakiti hatinya. Tidak siapa pun!
Jam di
ruang tengah berdentang satu kali. Aku melirik jam di dinding kamarku. Pukul
setengah tiga dinihari. Kini mataku tertuju pada sebuah foto yang kupasang di
dinding kamarku.
Foto Janna yang sengaja aku perbesar dan menjadi hiasan manis di kamarku. Kutatap
untuk beberapa saat sampai hatiku berbisik: 'Tuhan, apakah aku mencintainya?!'
ruang tengah berdentang satu kali. Aku melirik jam di dinding kamarku. Pukul
setengah tiga dinihari. Kini mataku tertuju pada sebuah foto yang kupasang di
dinding kamarku.
Foto Janna yang sengaja aku perbesar dan menjadi hiasan manis di kamarku. Kutatap
untuk beberapa saat sampai hatiku berbisik: 'Tuhan, apakah aku mencintainya?!'
CHAPTER 5:
SAMA-SAMA
CINTA
SAMA-SAMA
CINTA
Mula-mula
sinar matahari pagi yang menyentuh mataku. Kepalaku terasa berat karena aku
tidur terlambat. Hari Sabtu ini aku memang tidak masuk sekolah. Ini hari
terakhir masa skorsku.
Aku bangkit dari ranjangku, dan sudut mataku tertumpu pada makhluk manis dengan
seragam putih abu-abu sedang duduk di meja belajarku. "Kristal?!"
Mataku membelalak tak percaya.Janna tersenyum. "Sudah bangun, Re?"
tanyanya sembari tersenyum. "Kamu tidak sekolah?" tanyaku heran. Janna
menggelengkan kepala. "Tadi ke sekolah sebentar. Tapi ada acara kerja
bakti. Aku telepon ke sini. Kata Mama kamu, kamu belum bangun. Lalu, aku minta
izin sama guru piket mengurai dalih sedang ada urusan keluarga, tidak ikut kerja
bakti. Lalu, jadilah aku kemari," urai Janna ceria, mengangkat bahunya
mengaba 'tidak apa-apa, kan?'. Mata beningnya bergerak indah. Menatap sesuatu
yang tertempel di dinding kamarku.
Aku mengikuti pandangan mata kristal itu. Dan mukaku merah. Aku telah melakukan
kebodohan. Foto besar Janna yang tertempel di dinding itu lupa kusimpan — tentu
saja, karena siapa yang menyangka cewek itu akan datang mendadak lantas duduk
sekarang di hadapanku!
"Mungkin kamu tidak akan percaya, Re, kalau aku juga menempel foto kamu di
dinding kamarku," ungkap Janna dengan suara tertahan. Pipinya nampak
memerah. Tetapi dia cepat mengalihkan paras wajahnya yang 'malu' itu dengan
bergerak ke arah jendela, menarik gordin dan mementangkan daun jendela. Angin
pagi yang sejuk menerobos masuk ke dalam kamarku yang mungil. Aku terdiam,
terkesima dengan pengungkapannya yang jujur. "Selama ini kita sama-sama muna kan,
Re?!" Janna mengalihkan pandangannya dari jendela ke wajahku. Aku
tertunduk. Tak berani menatap sepasang bola mata kristalnya yang tengah
memancarkan kesungguhan. "Aku takut melukai hati kamu, Kristal! Untuk itu,
aku tidak pernah mengingkan sesuatu hal yang lebih dari sekadar persahabatan.
Meskipun sebenarnya aku...." "Kamu tidak pernah berterus terang,
Re!" "Sori, Re. Aku...." "Kamu mencintai aku kan,
Re?!" Janna berjalan mendekatiku, duduk di samping saat tiba di gigir
ranjang. Aku terkesiap. Tak mampu mengeluarkan sepatah kata pun. Aku memang
pengecut. Tidak pernah jujur dengan isi hatiku sendiri sehingga menciptakan
tirai maya yang memenjarakan aku dalam siksaan yang luar biasa sakitnya.
"Ak-aku...." "Tak perlu kamu katakan, Re! Dari sikapmu,
tatapanmu, aku tahu kalau sebenarnya kamu mencintaiku!" Mata beningnya
menatapku tajam. Aku mengangkat wajah. Mencoba membalas tatapannya yang tulus.
Dan beberapa saat kemudian kami saling berpandangan. Lama. Lama sekali.
Tiba-tiba ada senandung indah menggelepar di ruang hatiku. Senandung cintakah
itu? Aku tersenyum. Menikmati kerjapan bening mata kristal milik Janna, dan
membiarkan senandung cinta itu mengalun indah di hatiku. Indah, seindah mata
kristalnya.
sinar matahari pagi yang menyentuh mataku. Kepalaku terasa berat karena aku
tidur terlambat. Hari Sabtu ini aku memang tidak masuk sekolah. Ini hari
terakhir masa skorsku.
Aku bangkit dari ranjangku, dan sudut mataku tertumpu pada makhluk manis dengan
seragam putih abu-abu sedang duduk di meja belajarku. "Kristal?!"
Mataku membelalak tak percaya.Janna tersenyum. "Sudah bangun, Re?"
tanyanya sembari tersenyum. "Kamu tidak sekolah?" tanyaku heran. Janna
menggelengkan kepala. "Tadi ke sekolah sebentar. Tapi ada acara kerja
bakti. Aku telepon ke sini. Kata Mama kamu, kamu belum bangun. Lalu, aku minta
izin sama guru piket mengurai dalih sedang ada urusan keluarga, tidak ikut kerja
bakti. Lalu, jadilah aku kemari," urai Janna ceria, mengangkat bahunya
mengaba 'tidak apa-apa, kan?'. Mata beningnya bergerak indah. Menatap sesuatu
yang tertempel di dinding kamarku.
Aku mengikuti pandangan mata kristal itu. Dan mukaku merah. Aku telah melakukan
kebodohan. Foto besar Janna yang tertempel di dinding itu lupa kusimpan — tentu
saja, karena siapa yang menyangka cewek itu akan datang mendadak lantas duduk
sekarang di hadapanku!
"Mungkin kamu tidak akan percaya, Re, kalau aku juga menempel foto kamu di
dinding kamarku," ungkap Janna dengan suara tertahan. Pipinya nampak
memerah. Tetapi dia cepat mengalihkan paras wajahnya yang 'malu' itu dengan
bergerak ke arah jendela, menarik gordin dan mementangkan daun jendela. Angin
pagi yang sejuk menerobos masuk ke dalam kamarku yang mungil. Aku terdiam,
terkesima dengan pengungkapannya yang jujur. "Selama ini kita sama-sama muna kan,
Re?!" Janna mengalihkan pandangannya dari jendela ke wajahku. Aku
tertunduk. Tak berani menatap sepasang bola mata kristalnya yang tengah
memancarkan kesungguhan. "Aku takut melukai hati kamu, Kristal! Untuk itu,
aku tidak pernah mengingkan sesuatu hal yang lebih dari sekadar persahabatan.
Meskipun sebenarnya aku...." "Kamu tidak pernah berterus terang,
Re!" "Sori, Re. Aku...." "Kamu mencintai aku kan,
Re?!" Janna berjalan mendekatiku, duduk di samping saat tiba di gigir
ranjang. Aku terkesiap. Tak mampu mengeluarkan sepatah kata pun. Aku memang
pengecut. Tidak pernah jujur dengan isi hatiku sendiri sehingga menciptakan
tirai maya yang memenjarakan aku dalam siksaan yang luar biasa sakitnya.
"Ak-aku...." "Tak perlu kamu katakan, Re! Dari sikapmu,
tatapanmu, aku tahu kalau sebenarnya kamu mencintaiku!" Mata beningnya
menatapku tajam. Aku mengangkat wajah. Mencoba membalas tatapannya yang tulus.
Dan beberapa saat kemudian kami saling berpandangan. Lama. Lama sekali.
Tiba-tiba ada senandung indah menggelepar di ruang hatiku. Senandung cintakah
itu? Aku tersenyum. Menikmati kerjapan bening mata kristal milik Janna, dan
membiarkan senandung cinta itu mengalun indah di hatiku. Indah, seindah mata
kristalnya.
TAMAT
Tidak ada komentar:
Posting Komentar